LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Seorang warga Suku Baduy di Kabupaten Lebak, meninggal dunia setelah digigit ular tanah. Kematian korban disebabkan oleh keterlambatan penanganan medis yang memadai. Dikethui korban meninggal karena tidak adanya persediaan Serum Anti Bisa Ular (SABU) yang ada di setiap Puskesmas.
Tahun 2025 saja, sudah tercatat enam kasus gigitan ular yang menimpa warga Baduy, dengan satu korban meninggal dunia. Setiap tahunnya, menurut Arif, ada sekitar 20 hingga 40 kasus serupa yang terjadi.
Muhammad Arif Kirdiat, Ketua Sahabat Relawan Indonesia (SRI), mengungkapkan bahwa korban berasal dari Kampung Cisadane, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Insiden terjadi saat korban sedang membersihkan lahan di kebun Baduy Luar pada Senin 3 Maret Lalu.
Lokasi yang terpencil di pedalaman membuat korban terlambat mendapatkan pertolongan. “Kondisi korban sudah sangat parah, terlihat menghitam. Pengobatan segera diperlukan, namun akses menuju puskesmas terdekat memakan waktu beberapa jam berjalan kaki,” ungkap Arif kepada Radarbanten.co.id, Jumat 7 Maret 2025.
Karena keterbatasan fasilitas di Puskesmas Cisimeut dan RSUD dr Adjidarmo Rangkasbitung yang kekurangan SABU, korban akhirnya dibawa ke RSUD Banten di Serang untuk mendapatkan penanganan yang lebih cepat. Selain itu, korban tidak memiliki BPJS, sehingga tidak bisa mendapat layanan di Lebak.
“Di RSUD Banten, pelayanan lebih mudah dan pasien bisa langsung ditangani tanpa menunggu administrasi,” tambah Arif.
Namun, meski sudah mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU, korban meninggal pada Rabu, 5 Maret 2025. Arif menyatakan bahwa korban mungkin masih bisa diselamatkan jika mendapatkan SABU lebih cepat di Puskesmas Cisimeut.
“Sayangnya, stok SABU di puskesmas kosong, padahal kasus gigitan ular sering terjadi di Baduy, terutama saat musim tanam,” ujar Arif.
Arif menyesalkan bahwa Pemerintah Kabupaten Lebak belum cukup serius menangani masalah ini, terlihat dari kesulitan warga Baduy dalam mendapatkan perawatan yang memadai.
“Sangat disayangkan, mengingat seringnya insiden ini terjadi, tetapi pelayanan medis yang tepat waktu masih sulit diakses,” pungkas Arif.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupten Lebak Budhi Mulyanto, menyatakan bahwa persediaan SABU tersedia namun terbatas. Namun Budhi mengklaim, pihaknya tetap memberikan pelayanan terbaik kepada korban gigitan ular.
“Tidak benar (Persediaan Antis Bisa ada) Karena walaupun belum bisa pengadaan secara mandiri tapi mendapatkan support dari Dinkes Provinsi Banten/Dinkes Kabupate Lebak,” terang Budhi.
Namun Budhi, membenarkan jika kondisi saat ini SABU sedang kosong di RSUD Adjidarmo tidak ada. “Kalo bulan ini kebetulan memang stok baik di RS, Dinkes , Dinkes Banten sedang tidak ada. Untuk pengadaan di RS sedang berproses dan stok di Biofarma nya juga terbatas jadi harus indent,” pugkasnya.
Editor: Bayu Mulyana












