LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Setiap tahun, saat perayaan Lebaran, mayoritas warga Kabupaten Lebak tepatnya di Kampung Cimanggu, Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, memiliki tradisi yang sudah turun-temurun dijaga.
Tradisi yang disebut keliling dari rumah ke rumah ini menjadi momen yang sangat berarti untuk saling meminta maaf dan mempererat silaturahmi antar warga.
Tidak hanya sekadar berbagi ucapan, namun juga menjadi ajang untuk memperbaiki hubungan dan mengingatkan diri akan pentingnya nilai-nilai kebersamaan.
Adnan seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa tradisi ini telah dilakukan sejak dia masih kecil.
“Kami biasa berkeliling dari rumah ke rumah, mulai dari rumah keluarga dekat, tetangga, hingga sahabat. Selain untuk meminta maaf, kami juga memberikan doa yang baik agar semua orang diberkahi dan dilimpahkan kebahagiaan,” jelas Adnan kepada Radarbanten.co.id, Senin 31 Maret 2025.
Momen tersebut, lanjutnya, tidak hanya untuk mempererat hubungan sosial, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Menurut Adnan, walaupun di era digital ini banyak yang beralih menggunakan media sosial untuk mengucapkan selamat Lebaran, tradisi keliling dari rumah ke rumah tetap menjadi pilihan banyak warga Lebak.
“Kami masih lebih suka bertatap muka langsung, karena selain bisa meminta maaf, kita juga bisa berbagi cerita dan kebahagiaan. Ini lebih bermakna dibandingkan hanya lewat pesan teks atau telepon,” tambahnya.
Naomi ibu rumah tangga yang juga merupakan warga, turut berbagi pengalaman serupa. Ia mengatakan, “Tradisi ini membuat Lebaran terasa lebih hidup. Setelah sebulan penuh berpuasa, saatnya kita merayakan kemenangan dengan lebih mendalam, dengan saling bermaaf-maafan. Tak hanya keluarga, namun juga tetangga dan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu,” tutur Naomi.
Naomi menjelaskan bahwa setiap rumah yang mereka kunjungi biasanya menyajikan makanan khas Lebaran seperti ketupat, opor ayam, dan kue-kue Lebaran.
“Selain meminta maaf, ini juga jadi ajang untuk saling berbagi makanan. Anak-anak sangat senang ikut berkeliling, mereka bisa menikmati hidangan khas Lebaran di rumah-rumah tetangga,” tuturnya.
Kegiatan ini bukan hanya dirasakan oleh orang dewasa, namun juga anak-anak yang merasakan kebahagiaan dari berbagai hidangan yang disajikan.
Lebih dari sekadar tradisi, keliling dari rumah ke rumah di Lebak juga menjadi bentuk perwujudan gotong-royong. Meskipun tradisi ini membutuhkan waktu dan tenaga, warga saling membantu agar kegiatan ini bisa berjalan lancar.
“Kami saling mengingatkan satu sama lain tentang kapan waktu yang tepat untuk berkeliling. Bahkan, anak-anak yang lebih muda juga ikut membantu mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk pergi berkeliling,” ujar Adnan.
Walaupun tradisi ini banyak dilakukan di daerah pedesaan seperti Lebak, Naomi berharap agar kebiasaan ini tidak punah.
“Kami ingin anak cucu kami juga merasakan kedekatan dengan tetangga dan keluarga besar, serta memahami pentingnya menjaga hubungan dengan orang-orang sekitar,” ungkapnya.
Editor: Agus Priwandono












