PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kemeriahan Festival Gebrag Ngadu Bedug 2025 di Alun-alun Pandeglang mendadak berubah haru. Seorang pria yang diketahui merupakan ketua rukun warga (RW) dari Kampung Cicadas meninggal dunia setelah pingsan saat mengikuti iring-iringan pawai, Sabtu, 7 Juni 2025, sore.
Peristiwa mengejutkan itu terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Pria berusia sekitar 50-an tahun tersebut tiba-tiba terjatuh lemas di tengah barisan peserta pawai. Petugas yang berjaga segera membopongnya ke pos polisi dekat Tugu Alun-alun Pandeglang.
Tak berselang lama, pria tersebut dilarikan ke RSUD Berkah Pandeglang menggunakan mobil patroli milik Satlantas Polres Pandeglang.
Kepala Urusan Pembinaan Operasi (KBO) Satlantas Polres Pandeglang, Ipda Taufik Firdaus, membenarkan insiden tersebut. Ia menyebutkan bahwa peserta pawai itu kemungkinan besar kelelahan saat mengikuti kegiatan.
“Iya, betul. Tadi ada satu peserta dari salah satu rombongan yang pingsan. Kemungkinan karena kelelahan saat mengikuti pawai. Petugas langsung bergerak cepat membawa yang bersangkutan ke RSUD Berkah Pandeglang,” ujar Taufik saat ditemui di Pos Tugu Alun-alun, Sabtu, 7 Juni 2025.
Proses evakuasi, kata Taufik, dilakukan oleh dua personel Satlantas menggunakan mobil patroli.
“Langsung kami bawa ke rumah sakit menggunakan mobil patroli, atas arahan dari tim medis yang berada di Alun-alun,” katanya.
“Tadi itu laki-laki, usia kurang lebih 50-an tahun,” sambungnya.
Dugaan sementara, korban mengalami serangan jantung saat mengikuti defile pawai.
Sementara itu, panitia festival, Endang Suhendar, mengungkapkan bahwa pria tersebut memang memiliki riwayat penyakit jantung bawaan.
“Itu ketua RW, dan memang punya riwayat penyakit jantung bawaan,” jelas Endang.
Endang menuturkan bahwa panitia turut mendampingi korban hingga ke RSUD Berkah. Sayangnya, upaya medis tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.
“Saya tadi sudah bertakziah ke rumah duka dan memberikan santunan,” tuturnya.
Festival Gebrag Ngadu Bedug merupakan salah satu agenda budaya tahunan di Pandeglang yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat dari tingkat desa hingga kabupaten.
Editor: Merwanda











