CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Mewujudkan rumah tangga yang tenteram, aman, dan damai menjadi impian setiap pasangan, baik yang baru menikah maupun yang telah lama membina keluarga.
Namun, kenyataannya tidak sedikit pasangan suami istri yang masih bingung bagaimana menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga mereka.
Hal ini terbukti dari banyaknya kasus kekerasan dalam keluarga yang mencuat ke permukaan, mulai dari kekerasan fisik, psikis, hingga intimidasi.
Dalam Islam, Rasulullah Muhammad SAW menjadi teladan utama dalam membina rumah tangga yang penuh kasih sayang.
Kisah-kisah kehidupan beliau bersama para istri sarat dengan hikmah dan pelajaran berharga. Dikutip dari situs resmi NU Online Lampung, ada tiga kunci utama dalam menciptakan rumah tangga yang harmonis.
Pertama, mengelola perasaan istri.
Rasulullah SAW dikenal sebagai suami yang sangat peka terhadap kondisi emosional istri-istrinya. Salah satu kisah paling menyentuh adalah saat beliau menenangkan Shafiyah binti Huyai yang menangis akibat ucapan Hafsah binti Umar.
Hafsah menyebut Shafiyah sebagai “anak keturunan Yahudi,” yang membuat Shafiyah sedih dan merasa direndahkan.
Mengetahui hal itu, Rasulullah langsung mendatanginya dan memujinya. “Sungguh engkau adalah anak Nabi, pamanmu Nabi, dan engkau kini menjadi istri Nabi,” ujar Rasulullah kepada Shafiyah. Sikap ini membuat perasaan Shafiyah kembali tenang dan merasa dihargai. (HR At-Tirmidzi)
Kedua, membantu istri dalam pekerjaan rumah.
Kesibukan Rasulullah sebagai kepala negara dan pemimpin umat tak membuat beliau abai terhadap urusan rumah tangga.
Dalam sebuah riwayat dari Aisyah RA, disebutkan bahwa Rasulullah turut membantu pekerjaan rumah. “Beliau ikut dalam pekerjaan rumah tangga, dan ketika waktu salat tiba, beliau segera melaksanakannya.” (HR Al-Bukhari)
Penjelasan Ibnu Batthal dalam Syarh Shahih Al-Bukhari menegaskan bahwa Rasulullah SAW senantiasa tanggap dan tidak merasa gengsi untuk turut menyapu, menjahit, dan melayani keperluan istri-istrinya.
Ketiga, berdiskusi dengan istri.
Rasulullah SAW juga dikenal sebagai pribadi yang terbuka dalam berdiskusi dengan istri. Salah satu contoh terjadi saat Perjanjian Hudaibiyah. Ketika para sahabat menolak mematuhi perintahnya, Rasulullah mengadu kepada istrinya, Ummu Salamah.
Sang istri pun memberikan saran agar Nabi menyembelih hewan kurban terlebih dahulu tanpa banyak bicara. Saran ini terbukti efektif karena para sahabat langsung mengikuti langkah Nabi.
Kisah ini menjadi pelajaran penting bahwa diskusi dan saling mendengarkan dalam rumah tangga mampu menyelesaikan persoalan pelik sekalipun. (HR Al-Bukhari)
Dengan meneladani sikap, kebiasaan, dan komunikasi Rasulullah, pasangan suami istri dapat menciptakan suasana rumah tangga yang tidak hanya harmonis, tetapi juga penuh berkah.
Editor: Merwanda

