CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk merupakan tonggak penting dalam sejarah industri baja Indonesia.
Berdiri sejak tahun 1970, perusahaan ini tidak hanya menjadi pelopor industri baja nasional, tetapi juga simbol kekuatan industri berat di Asia Tenggara.
Krakatau Steel berlokasi di Kota Cilegon. Keberadaannya itu membuat Cilegon mendapat julukan Kota Baja.
Krakatau Steel pernah menjadi penopang utama pembangunan infrastruktur nasional sejak rezim Orde Baru, tahun 1980-an.
Namun, hal itu kini mungkin tinggal cerita. Sebab, BUMN yang berfokus pada manufaktur baja itu mencatat rugi bersih sebesar USD 105 juta atau setara Rp 1,71 triliun sepanjang semester I tahun 2025, meski pendapatan perusahaan justru mengalami kenaikan.
Data tersebut dirilis dalam laporan keuangan Krakatau Steel yang dikutip dari situs resmi IDX Channel, Jumat, 25 Juli 2025.
Krakatau Steel Berdiri
Krakatau Steel bermula dari Proyek Baja Trikora yang dicanangkan Presiden Soekarno pada tahun 1960-an sebagai bagian dari strategi swasembada industri.
Proyek ini didorong oleh kebutuhan mendesak terhadap baja untuk mendukung pembangunan nasional, termasuk sektor konstruksi, transportasi, dan pertahanan.
Namun, karena keterbatasan dana dan kondisi politik yang tidak stabil, proyek tersebut sempat mandek.
Baru pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, proyek ini dilanjutkan dan resmi didirikan pada 31 Agustus 1970 dengan nama PT Krakatau Steel. Saat itu, Krakatau Steel merupakan BUMN yang dirancang untuk menjadi produsen baja terintegrasi pertama di Indonesia.
Menjadi Raksasa Baja Nasional
Memasuki tahun 1980-an hingga 1990-an, Krakatau Steel mengalami masa kejayaan.
Perusahaan ini berhasil membangun kawasan industri terpadu seluas 700 hektare di Cilegon, lengkap dengan pelabuhan, pembangkit listrik, instalasi air industri, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Krakatau Steel menjadi pemain penting dalam mendukung pembangunan nasional.
Krakatau Steel menyuplai baja untuk proyek-proyek besar, seperti:
– Pembangunan jembatan dan jalan raya nasional,
– Konstruksi gedung bertingkat dan perumahan,
– Infrastruktur migas dan pembangkit listrik,
– Industri otomotif dan alat berat.
Produksi baja lembaran panas (hot rolled coil/HRC) dan baja lembaran dingin (cold rolled coil/CRC) Krakatau Steel menjadi produk andalan di pasar domestik. Bahkan, pada satu masa, Krakatau Steel mampu menguasai lebih dari 50 persen pangsa pasar baja nasional.
Kolaborasi dan Ekspansi
Dalam perjalanannya, Krakatau Steel juga menggandeng sejumlah mitra strategis, termasuk perusahaan-perusahaan asing. Di antaranya, kerja sama dengan POSCO, raksasa baja asal Korea Selatan, dalam proyek patungan bernama Krakatau POSCO.
Pabrik patungan ini mulai beroperasi pada 2014 dan menjadi pabrik baja terintegrasi terbesar di Asia Tenggara.
Krakatau Steel juga memiliki anak usaha dan afiliasi yang mencakup berbagai lini bisnis, seperti Krakatau Bandar Samudera (pengelola pelabuhan), Krakatau Daya Listrik (penyedia listrik industri), Krakatau Tirta Industri (pengelola air industri), dan Krakatau Engineering (rekayasa dan konstruksi).
Masa Sulit dan Transformasi
Namun, kejayaan Krakatau Steel tidak selalu mulus. Era 2000-an, perusahaan mulai menghadapi tantangan berat akibat meningkatnya impor baja murah, terutama dari Tiongkok, serta tingginya biaya produksi dan inefisiensi internal.
Krakatau Steel mencatat kerugian selama bertahun-tahun.
Transformasi besar-besaran dilakukan sejak 2019 di bawah kepemimpinan direksi baru dan dukungan pemerintah. Program restrukturisasi utang, efisiensi operasional, hingga perombakan organisasi dijalankan.
Krakatau Steel juga mulai mengarah ke digitalisasi dan industri hijau, seperti pengembangan produk baja rendah emisi dan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.
Hasilnya mulai terlihat. Tahun 2021, Krakatau Steel mencatatkan laba bersih untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun merugi.
Kinerja positif ini berlanjut hingga 2024, menunjukkan bahwa Krakatau Steel sedang bangkit dan beradaptasi dengan dinamika global.
Simbol Kemandirian Industri
Krakatau Steel bukan sekadar perusahaan baja. Ia adalah simbol kemandirian industri nasional, cermin dari cita-cita besar bangsa untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam bidang manufaktur dan teknologi.
Peran Krakatau Steel sangat vital dalam mendukung program hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, dan pertahanan nasional.
Di tengah tantangan global seperti krisis energi, geopolitik, dan persaingan industri, Krakatau Steel tetap relevan.
Dengan semangat transformasi dan inovasi, perusahaan ini berupaya mempertahankan kejayaannya dan menjadi pemain utama di tingkat regional dan global.
Penutup
Sejarah panjang Krakatau Steel mencerminkan perjalanan Indonesia dalam membangun kemandirian industri.
Dari semangat Trikora hingga kemitraan internasional, dari masa kejayaan hingga titik terendah, Krakatau Steel telah melewati berbagai fase penting.
Kini, dengan fondasi kuat dan arah strategis yang jelas, Krakatau Steel siap melanjutkan kiprahnya sebagai “Tulang Punggung Baja Indonesia” di era modern.
Editor: Agus Priwandono

