SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Memiliki rumah di usia 20-an sering terdengar seperti mimpi yang terlalu tinggi, apalagi di tengah harga properti yang terus naik dan biaya hidup yang makin besar.
Namun, bukan berarti itu mustahil. Dengan perencanaan keuangan yang matang, disiplin, dan strategi yang tepat, generasi muda pun bisa mewujudkan rumah pertamanya sejak dini.
Berikut beberapa langkah realistis untuk memiliki rumah di usia 20 tahunan:
1. Tentukan tujuan dan waktu.
Langkah pertama adalah menetapkan tujuan secara spesifik. Apakah kamu ingin memiliki rumah di usia 25, 28, atau sebelum 30?
Semakin jelas target waktunya, semakin mudah menyusun langkah-langkah untuk mencapainya.
Misalnya, jika kamu ingin punya rumah saat usia 28 dan sekarang kamu 23 tahun, berarti kamu punya waktu 5 tahun untuk mengumpulkan uang muka dan memperbaiki kondisi keuanganmu.
2. Pahami kemampuan finansialmu.
Sebelum berpikir tentang membeli rumah, kamu harus memahami dengan jelas kondisi keuanganmu.
• Berapa penghasilan tetap dan tambahan per bulan?
• Berapa pengeluaran wajib setiap bulan?
• Apakah ada utang konsumtif?
• Apakah kamu sudah memiliki tabungan atau dana darurat?
Dengan memahami ini, kamu bisa mengukur kemampuan mencicil rumah dan menentukan jenis rumah serta lokasi yang realistis untuk dimiliki.
3. Mulai menabung uang muka sejak dini.
Salah satu tantangan terbesar dalam membeli rumah adalah uang muka (Down Payment/DP), biasanya sekitar 10–20 persen dari harga rumah. Misalnya, jika harga rumah Rp 300 juta, maka DP minimal Rp 30 juta–Rp 60 juta.
Kunci utamanya adalah konsistensi menabung, misalnya:
– Menyisihkan 30–40%l persen penghasilan bulanan ke tabungan rumah.
– Menyimpan bonus atau THR ke dalam tabungan rumah, bukan untuk konsumsi.
– Gunakan rekening terpisah agar tidak tergoda untuk menggunakan dana tersebut.
4. Kurangi utang konsumtif.
Hindari atau kurangi utang yang bersifat konsumtif seperti cicilan gadget, kendaraan bermotor, atau kartu kredit. Semakin sedikit beban utangmu, semakin besar kemungkinan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) disetujui oleh bank.
Selain itu, kamu juga bisa menyisihkan dana lebih banyak untuk tabungan rumah.
5. Bangun riwayat kredit yang baik.
Jika kamu berencana membeli rumah melalui KPR, bank akan melihat riwayat kreditmu. Maka dari itu, pastikan kamu:
– Tidak pernah telat bayar cicilan atau tagihan.
– Memiliki skor kredit yang baik di SLIK OJK.
– Bisa menunjukkan penghasilan tetap dan stabil.
Kamu bisa mulai dengan cicilan kecil (misalnya paylater atau kartu kredit yang digunakan bijak) untuk membangun rekam jejak yang positif.
6. Pilih rumah sesuai kemampuan, bukan gengsi.
Di usia 20-an, wajar jika kamu belum mampu membeli rumah mewah di pusat kota. Fokuslah pada kebutuhan, bukan gengsi.
Pertimbangkan rumah subsidi atau rumah di pinggiran kota yang terjangkau dan punya prospek berkembang.
Ingat, rumah pertama bukan harus rumah selamanya. Kamu bisa menjadikannya batu loncatan untuk membeli rumah yang lebih besar di masa depan.
7. Manfaatkan program dan subsidi pemerintah.
Pemerintah Indonesia memiliki berbagai program rumah subsidi, seperti KPR FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan), yang bisa dimanfaatkan oleh milenial.
Beberapa keuntungannya, antara lain:
– Suku bunga rendah dan tetap.
– Tenor panjang (hingga 20 tahun).
– Uang muka ringan.
Cari informasi di bank-bank penyalur KPR subsidi atau situs resmi Kementerian PUPR RI.
8. Tingkatkan penghasilan tambahan.
Kalau penghasilan utama belum mencukupi, coba gali potensi pendapatan tambahan:
• Freelance di bidang yang kamu kuasai.
• Jualan online.
• Menjadi reseller atau dropshipper.
• Investasi di instrumen yang aman seperti reksa dana pasar uang atau emas.
Semakin besar penghasilan, semakin cepat kamu bisa mewujudkan rumah impian.
9. Hindari gaya hidup boros.
Gaya hidup konsumtif adalah musuh utama perencanaan keuangan. Makan di luar setiap hari, belanja impulsif, atau liburan mewah bisa menguras tabungan rumah tanpa terasa.
Gantilah dengan gaya hidup hemat namun tetap sehat dan menyenangkan.
10. Konsultasi dengan ahli keuangan.
Kalau bingung harus mulai dari mana, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan perencana keuangan. Mereka bisa membantumu menyusun strategi realistis sesuai kondisi pribadimu.
Editor: Agus Priwandono

