SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Demontrasi yang berujung kerusuhan di Kota Serang pada Sabtu, 30 Agustus 2025, banyak melibatkan pelajar. Bahkan, ada pelajar tingkat SMP yang ikut dalam demontrasi tersebut.
Kapolda Banten, Brigjen Pol Hengki, mengatakan, keterlibatan pelajar dalam aksi unjuk rasa tersebut dikarenakan Ikut-ikutan. Mereka terprovokasi melalui ajakan pesan berantai yang dikirim melalui pesan Whatsapp.
“Mereka kalau enggak begitu (ikutan demo-red), enggak keren,” ujarnya.
Hengki mengatakan, dari pemeriksaan ponsel pelajar yang ikut demontrasi, mereka diajak untuk melawan aparat di lapangan.
Ia pun menyebut, fenomena pelajar ikut demontrasi tersebut dikarenakan FOMO atau Fear of Missing Out. Istilah kekinian tersebut diartikan sebagai rasa cemas apabila tidak ikut dalam suatu tren atau momen.
“Karena FOMO (ikut demontrasi-red),” ungkap pria asal Way Kanan, Provinsi Lampung ini.
Hengki menjelaskan, dari kerusuhan yang berujung pada pembakaran Pos Polisi Ciceri, petugas Kepolisian telah menangkap 15 orang pelaku. Dari belasan pelaku tersebut, 14 di antaranya sudah dibebaskan setelah mendapatkan pembinaan dari petugas Kepolisian.
“14 sudah dipulangkan, dikembalikan ke orang tuanya,” ujarnya.
Pasca kerusuhan yang terjadi di Kota Serang, Hengki meminta kepada orangtua pelajar untuk mengawasi anaknya. Jangan sampai mereka terlibat aksi unjuk rasa yang mereka sendiri tidak mengetahui persoalannya.
Mantan Direktur Resnarkoba Polda Metro Jaya ini juga meminta kepada elemen mahasiswa dan komponen masyarakat agar tetap mematuhi aturan dalam menyampaikan aspirasi, sehingga keamanan dan ketertiban masyarakat terjaga.
“(Kalau anarkis-red) akan merugikan kita, kita jaga situasi Banten yang aman dan kondusif walaupun kemarin ada kejadian (kericuhan-red),” tuturnya.
Editor: Agus Priwandono

