PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID–Tim SAR gabungan menghentikan sementara pencarian satu Anak Buah Kapal (ABK) KM Nanjung Sari GT 5 asal Teluk Labuan, Pandeglang, Banten, bernama Suwito. ABK tersebut hilang di perairan Pasauran, Kabupaten Serang, usai kapal diduga ditabrak tongkang.
Hingga hari kedua pencarian, Sabtu 13 September 2025, korban belum berhasil ditemukan. Kondisi cuaca buruk dengan gelombang tinggi dan arus kuat membuat proses pencarian terhambat. Sehingga, tim SAR memutuskan akan melanjutkan pencarian esok hari.
Kepala Seksi Siaga dan Operasi Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Banten, Rizky Dwianto, mengatakan pencarian terhambat oleh kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Gelombang tinggi dan arus kuat membuat operasi kurang efektif.
“Operasi SAR hari kedua sesuai arahan dari SAR Mission Coordinator Kuala Lantusar, Banten, kita bagi menjadi tiga sektor dengan luas area 344 nautical mile persegi. Sektor pertama sekitar 269 nautical mile menggunakan perahu nelayan, sektor kedua dengan rubber boat BPBD Pandeglang, dan sektor ketiga menggunakan rubber boat Basarnas, masing-masing dengan area 35 nautical mile persegi,” katanya, Sabtu 13 September 2025.
Menurut Rizky, hingga sore hari hasil pencarian masih nihil. Faktor cuaca dan jarak pandang yang terbatas menjadi kendala utama, sehingga operasi dihentikan sementara dan akan dilanjutkan besok pagi.
“Dari hasil prediksi SAR Map, area pencarian semakin meluas mengikuti arus dan angin. Sesuai SOP, pencarian dilakukan selama 7 hari. Jika dalam 7 hari korban belum ditemukan, maka operasi akan dievaluasi dan bisa diperpanjang sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Dalam pencarian ini, sekitar 50 personel dikerahkan dari unsur gabungan, termasuk Basarnas, BPBD Pandeglang, relawan, dan unsur masyarakat lainnya.
Selain itu, Rizky juga mengingatkan masyarakat dan nelayan agar lebih waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem. Informasi dari BMKG menyebutkan bahwa dalam tiga hari ke depan, potensi gelombang tinggi masih mungkin terjadi di wilayah perairan Banten.
“Kami imbau para nelayan agar lebih memperhatikan faktor keselamatan sebelum melaut, mengingat cuaca akhir-akhir ini cukup ekstrem,” pungkasnya.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Agung S Pambudi











