LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Paris Saint-Germain (PSG) mengukir sejarah ketika Ousmane Dembele dinobatkan sebagai lemain terbaik dunia. Ia meraih Ballon d’Or 2025 pada malam penganugerahan di Paris, Selasa, 23 September 2025.
Pemain asal Prancis ini unggul dari pesaing berat yang juga memiliki musim impresif dan menjadi sorotan para penggemar dan media internasional.
Dalam peringkat lima besar nominasi Ballon d’Or putra 2025, posisi pertama ditempati oleh Ousmane Dembele sebagai pemenang. Diikuti oleh Lamine Yamal di tempat kedua, Vitinha di posisi ketiga, Mohamed Salah di urutan keempat, dan Raphinha di posisi kelima.
Dembele meraih gelar ini setelah melewati musim yang sangat produktif, termasuk membantu PSG meraih gelar Liga Champions perdana mereka. Statistiknya 35 gol dan 16 assist di semua kompetisi selama musim kompetitif terbaru, menjadi bagian dari alasan utama dia mendapatkan suara terbanyak.
Lamine Yamal yang masih remaja (sekitar 18 tahun) tampil sangat menonjol dan berhasil merebut posisi kedua di Ballon d’Or, menjadikannya salah satu pemain muda paling diperhitungkan.
Penampilannya di Barcelona dan kontribusinya untuk timnya menjadi faktor penilaian yang kuat.
Vitinha, gelandang PSG, memantapkan tempatnya di peringkat ketiga berkat performa konsisten di lini tengah, baik dalam fase menyerang maupun pertahanan. Keberadaannya membantu menjaga aspek transisi dan penguasaan bola PSG agar tetap dominan musim lalu.
Mohamed Salah, meskipun tidak meraih gelar juara liga mayor musim lalu, tetap memperoleh pengakuan atas produktivitas golnya dan dampak yang dia timbulkan untuk Liverpool, sehingga menempati posisi keempat dalam pemungutan suara.
Raphinha melengkapi lima besar setelah tampil apik dengan Barcelona, memberikan ancaman reguler ke pertahanan lawan lewat kecepatannya dan kemampuannya mencetak gol dari variasi serangan sayap. Pemilih melihat bahwa kontribusinya cukup signifikan meskipun tidak sebanyak sang pemenang.
Kemenangan Ousmane Dembele di Ballon d’Or dianggap sebagai penghargaan atas dedikasi dan usaha keras termasuk mengatasi cedera, adaptasi taktik, dan perubahan posisi dalam beberapa pertandingan yang akhirnya membuahkan prestasi tertinggi individual dalam sepak bola dunia.
Editor: Agus Priwandono











