CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Banjir di Kota Cilegon tidak lagi bersifat insidental. Hingga kini, genangan air akibat hujan deras terus berulang dari tahun ke tahun dan membentuk pola yang relatif sama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banjir telah menjadi persoalan struktural yang memerlukan penanganan serius.
Sekretaris Bidang Penanggulangan Bencana DPD Partai Amanat Nasional Kota Cilegon, Faujul Iman, memaparkan jejak panjang peristiwa banjir di Cilegon sejak awal 2010-an. Ia menilai banjir tidak bisa lagi dipandang sebagai bencana alam semata, melainkan akumulasi persoalan tata ruang, infrastruktur, dan perubahan lingkungan.
“Pada 2012, hujan deras menyebabkan Sungai Cimanak meluap dan merendam sekitar 1.700 rumah di wilayah Citangkil dan Jombang. Banyak warga terpaksa mengungsi karena genangan bertahan cukup lama,” kata Faujul.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 2016, banjir kembali melanda sejumlah wilayah. Berdasarkan catatan BPBD Kota Cilegon, banjir terjadi hingga sepuluh kali dalam satu tahun, terutama di Kecamatan Pulomerak dan Grogol.
Situasi semakin memburuk pada 2017 ketika banjir besar merendam Kecamatan Ciwandan. Ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter, menggenangi ratusan rumah warga dan menyebabkan aliran listrik terputus.
Memasuki dekade 2020-an, intensitas banjir belum menunjukkan penurunan. Pada Januari 2020, banjir kembali melanda Kelurahan Kubangsari, Kecamatan Ciwandan. Selanjutnya, curah hujan ekstrem pada Desember 2020 memicu banjir di enam kecamatan di Kota Cilegon dan berdampak pada sekitar 1.700 kepala keluarga.
Berdasarkan kajian statistik daerah, periode 2021 hingga 2024 mencatat tren kejadian banjir yang fluktuatif namun tetap mengkhawatirkan. Pada 2021 terjadi lima kali banjir, meningkat menjadi enam kali pada 2022, menurun menjadi empat kali pada 2023, lalu kembali melonjak menjadi tujuh kali pada 2024.
Menurut Faujul, fluktuasi tersebut justru menegaskan bahwa risiko banjir di Cilegon masih tinggi, terutama karena sistem drainase yang belum optimal.
“Puncaknya terjadi pada Januari 2026. Hujan deras yang berlangsung lebih dari 12 jam kembali menggenangi sejumlah kecamatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Faujul mengidentifikasi beberapa faktor utama penyebab banjir. Selain curah hujan tinggi dan berkepanjangan, persoalan drainase dan infrastruktur masih menjadi masalah krusial.
“Saluran air dan gorong-gorong yang sempit serta kurang terawat sering kali tidak mampu menampung debit air besar, sehingga air meluap ke permukiman dan jalan,” terangnya.
Di sisi lain, perubahan lingkungan akibat aktivitas industri, reklamasi lahan, dan pertambangan di wilayah hulu turut mengubah pola aliran air dan mengurangi daya serap tanah. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh sampah yang menyumbat saluran air.
“Banjir di Cilegon sudah menjadi fenomena tahunan. Datang saat musim hujan, ramai dibicarakan, lalu perlahan dilupakan. Tanpa aksi nyata dan investasi lingkungan berkelanjutan, siklus ini akan terus berulang,” kata Faujul.
Editor: Aas Arbi











