PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Daun pandan yang kerap tumbuh liar di kebun dan sawah ternyata memiliki nilai ekonomi tinggi. Di Desa Kadulimus, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Banten, daun pandan diolah menjadi kerajinan anyaman bernilai jual yang mampu menembus pasar nasional hingga mancanegara.
Salah satu pengrajin, Hadi, mengolah daun pandan menjadi berbagai produk seperti tas, topi, gantungan kunci, hingga tikar melalui usaha Craft Pandan. Kerajinan anyaman pandan ini merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Banjar yang masih bertahan hingga saat ini.
Proses pembuatan anyaman pandan terbilang panjang. Daun pandan terlebih dahulu dibersihkan dari duri, kemudian direbus, direndam semalaman, dan dijemur hingga kering sebelum akhirnya dianyam menjadi produk jadi.
Hadi mengaku mulai menekuni usaha keluarga tersebut sejak 2007. Dari empat bersaudara, hanya dirinya yang memilih melanjutkan tradisi anyaman pandan.
“Dulu produknya masih sederhana, seperti topi dan tikar pandan untuk kebutuhan adat. Sekarang produknya sudah jauh lebih variatif,” kata Hadi, Kamis 29 Januari 2026.
Seiring adanya pendampingan serta tuntutan pasar, produk anyaman pandan kini berkembang menjadi tas fashion, topi dengan berbagai model, hingga suvenir. Harga produk bervariasi, mulai dari Rp5 ribu hingga Rp200 ribu per item.
Pemasaran produk pun meluas ke berbagai daerah di luar Banten dan luar Pulau Jawa, seperti Tasikmalaya, Bali, Lombok, Batam, hingga Kepulauan Riau. Bahkan, topi pandan produksi Hadi pernah menembus pasar Italia dan Korea.
Melalui pemanfaatan pemasaran digital dan marketplace, omzet usaha Craft Pandan kini mencapai sekitar Rp20 juta per bulan, dengan produk topi dan tikar pandan sebagai andalan.
Meski demikian, Hadi mengaku menghadapi kendala keterbatasan bahan baku daun pandan akibat alih fungsi lahan. Saat ini, bahan baku diperoleh dari wilayah Banjar hingga Kabupaten Lebak.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan, baik melalui penyediaan lahan pandan, bantuan bibit, maupun penguatan akses pemasaran.
“Kalau bahan baku habis dan tidak ada regenerasi, tradisi ini bisa hilang,” ujarnya.
Melalui kerajinan anyaman pandan, Hadi membuktikan bahwa kearifan lokal tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan masyarakat sekaligus produk yang memiliki daya saing global.
Editor: Mastur Huda











