SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Wakil Menteri Koperasi RI, Farida Farichah, melontarkan pesan tegas kepada ratusan mahasiswa dalam gelaran Sumitro Fest: Koperasi Goes To Campus di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Selasa (24/2/2026).
Ia menegaskan, kehadiran Kementerian Koperasi bukan sekadar agenda seremoni, melainkan gerakan serius mengajak generasi muda mengawal arah ekonomi bangsa.
“Kami hadir bukan untuk menghabiskan anggaran. Kami ingin duduk bersama mahasiswa, karena koperasi ini adalah amanat konstitusi,” tegas Farida.
Berbeda dari forum-forum formal yang biasanya menyasar birokrat atau pelaku usaha senior, Sumitro Fest justru memusatkan perhatian pada mahasiswa. Bukan tanpa alasan.
Menurut Farida, generasi muda adalah pemegang kendali ekonomi Indonesia ke depan. Mereka harus memahami bahwa sistem ekonomi nasional sudah ditegaskan dalam Pasal 33 UUD 1945: perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan dan gotong royong.
“Kalau arah ekonomi kita melenceng dari konstitusi, maka kita kehilangan jati diri,” ujarnya.
Farida juga menggarisbawahi pesan Presiden Prabowo Subianto bahwa pertumbuhan ekonomi 8 persen yang ditargetkan pemerintah tidak boleh berdiri sendiri tanpa pemerataan.
“Pertumbuhan tinggi tidak ada artinya kalau hanya dinikmati segelintir orang. Kita ingin keadilan sosial benar-benar dirasakan seluruh rakyat,” katanya.
Ia menyinggung fenomena penguasaan cabang produksi penting oleh pemodal besar yang belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Padahal, konstitusi mengamanatkan sumber daya alam dan cabang produksi penting harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
“Kita tidak anti-investasi. Tapi pembangunan ekonomi harus kembali ke rel konstitusi,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, pemerintah menggulirkan Program Strategis Nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 dengan melibatkan 18 kementerian dan lembaga.
Program ini menargetkan pembentukan koperasi di seluruh desa dan kelurahan di Indonesia.
Menjawab anggapan di media sosial bahwa pembentukan puluhan ribu koperasi dalam waktu singkat terkesan ambisius, Farida menepisnya.
“Ini bukan ambisi. Ini upaya mengembalikan ekonomi kita sesuai amanat pendiri bangsa,” ujarnya.
Ia pun menantang mahasiswa untuk terlibat langsung.
“Kalau pulang ke desa, cek sudah ada Koperasi Desa Merah Putih atau belum. Kalau belum, ikut dorong pembentukannya,” katanya.
Farida menekankan, pembentukan koperasi tidak boleh berhenti pada legalitas kelembagaan. Koperasi harus memiliki unit usaha nyata dan dikelola secara profesional.
“Siapa yang paling siap mengelola koperasi secara profesional? Anak-anak muda,” ujarnya disambut antusias peserta.
Dengan pendekatan kolaboratif antara kampus dan desa, Kementerian Koperasi berharap koperasi tidak lagi dipandang sebagai model ekonomi lama, melainkan sebagai kendaraan utama pemerataan ekonomi nasional.
“Koperasi bukan nostalgia masa lalu. Ini masa depan ekonomi Indonesia,” pungkas Farida.
Reporter: Aas Arbi











