TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID–Pemkot Tangsel memastikan sebanyak 480 tenaga honorer di sektor pendidikan tetap dapat menjalankan tugasnya meski tidak masuk dalam formasi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Tangsel Wahyudi Leksono mengatakan, saat ini masih terdapat sekitar 1.800 tenaga non-ASN yang tersebar di berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk sekitar 480 orang yang bertugas di sektor pendidikan.
Menurut Wahyudi, sebagian tenaga non-ASN tersebut belum masuk dalam formasi CPNS maupun PPPK karena berbagai alasan, seperti tidak lolos seleksi, kendala administrasi, maupun faktor usia.
Ia menjelaskan, Pemkot Tangsel menyiapkan mekanisme PJLP dan outsourcing untuk mengakomodasi kebutuhan tenaga kerja yang masih diperlukan oleh masing-masing perangkat daerah.
“Skema yang diterapkan menggunakan pola pengadaan barang dan jasa sehingga berbeda dengan proses rekrutmen ASN,” ujar Wahyudi, Minggu (7/6).
Menurutnya, melalui mekanisme PJLP setiap individu dapat menawarkan kompetensi dan keahlian yang dimiliki melalui sistem e-katalog. Selanjutnya, perangkat daerah dapat menggunakan jasa mereka sesuai kebutuhan pekerjaan.
Wahyudi menegaskan, langkah tersebut dilakukan agar pelayanan publik tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan ketentuan penataan tenaga non-ASN yang sedang diterapkan pemerintah.
“Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di sekolah negeri yang masih membutuhkan banyak tenaga pendidik dan tenaga pendukung dari para honorer,” terangnya.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan mengatakan, kebutuhan guru di wilayahnya masih cukup tinggi sehingga keberadaan tenaga honorer masih sangat dibutuhkan.
Karena itu, pemerintah daerah menyiapkan skema kerja yang memungkinkan mereka tetap bekerja di lingkungan sekolah.
Menurut Pilar, tenaga honorer yang belum menjadi CPNS maupun PPPK akan tetap diberdayakan agar pelayanan pendidikan kepada masyarakat tidak terganggu.
“Kami masih membutuhkan banyak tenaga pendidik. Karena itu mereka tetap dipertahankan untuk membantu memenuhi kebutuhan sekolah,” ujarnya.
Saat ini, kata Pilar sekolah negeri tingkat SD dan SMP di Tangsel masih menghadapi kekurangan tenaga pengajar. Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya guru yang memasuki masa pensiun setiap tahun.
“Pemerintah daerah menilai keberadaan guru honorer selama ini berperan penting dalam menjaga proses pembelajaran tetap berjalan optimal,” tegasnya.
Selain guru, sejumlah tenaga kependidikan seperti staf administrasi, petugas keamanan sekolah, hingga tenaga kebersihan juga masih dibutuhkan untuk menunjang operasional sekolah.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Agung S Pambudi








