Saya termasuk orang yang sempat tidak yakin. Ketika teman-teman panitia menyampaikan rencana menggelar jalan santai untuk HUT Radar Banten ke-26, saya tidak langsung mengangguk. Apalagi langsung bilang, “Gas.” Saya lebih dulu diam. Menghitung. Membayangkan. Lalu mulai khawatir.
Jalan santai hari ini tidak seperti 10 atau 15 tahun lalu. Dulu, acara seperti ini mudah sekali memancing orang keluar rumah. Tidak perlu konsep yang terlalu rumit. Tidak perlu banyak gimmick. Orang datang karena jalan santai adalah hiburan rakyat yang murah, sehat, dan bisa diikuti siapa saja.
Anak-anak bisa ikut. Orangtua bisa ikut. Keluarga bisa ikut. Tetangga bisa ikut. Teman sekantor bisa ikut. Yang penting punya niat bangun pagi, pakai baju olahraga, lalu jalan. Sekarang tidak sesederhana itu. Orang punya banyak pilihan. Mau hiburan, tinggal buka ponsel. Mau belanja, tinggal klik. Mau olahraga, ada banyak komunitas dengan gaya dan kelasnya masing-masing. Olahraga sekarang juga seperti buah-buahan: ada musimnya.
Lebih dari itu, orang sekarang ikut acara juga berhitung. Bukan hanya menghitung waktu dan jarak, tapi juga menghitung gengsi. Menghitung citra. Keren tidak kalau datang? Enak tidak kalau diposting? Ada bahan cerita tidak untuk dibawa pulang?
Acara publik hari ini tidak hanya bersaing merebut waktu orang. Ia juga bersaing merebut gengsi. Sementara fun walk bukan barang baru. Bukan terobosan yang membuat orang penasaran. Formatnya semua orang sudah tahu. Datang pagi, jalan, keringatan, hiburan, doorprize. Selesai. Justru karena itu saya khawatir. Ketika panitia bicara fun walk, yang muncul di kepala saya bukan hanya panggung dan doorprize. Yang muncul justru pertanyaan: masihkah orang mau datang ramai-ramai untuk acara yang bentuknya sudah sangat akrab itu?

Pertanyaan itu saya sampaikan beberapa kali. Saya bilang kepada teman-teman, jangan main-main. Kalau mau bikin fun walk, harus serius. Sangat serius. Sebab acara publik hari ini tidak bisa lagi mengandalkan nama besar semata. Orang datang karena merasa acara itu layak didatangi. Sponsor mendukung karena percaya acaranya layak didukung. Kepercayaan seperti itu tidak boleh diperlakukan seperti tempelan logo di spanduk.
Saya khawatir acara sepi. Khawatir peserta tidak sesuai harapan. Khawatir sponsor kecewa. Kekhawatiran yang wajar bagi orang yang sudah beberapa kali ikut melihat bagaimana sebuah event lahir.
Kemarin, saya kalah. Kalah oleh panitia.
Fun Walk HUT Radar Banten ke-26 ternyata jauh lebih ramai dari yang saya bayangkan. Sejak pagi, kawasan Royal Baroe, Jalan SA Tirtayasa, sudah dipenuhi peserta. Mereka datang bukan hanya dari Kota Serang. Ada yang datang dari Cilegon, Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, hingga Tangerang. Royal Baroe penuh. Nama Royal Baroe diberikan Pemerintah Kota Serang untuk kawasan Jalan SA Tirtayasa yang kini menjadi wajah baru pusat keramaian Kota Serang. Biasanya acara besar masyarakat bertumpu di Alun-alun. Kali ini, pusat perhatian berpindah ke sana.
Tempat itu memang berubah. Jalan yang dulu dikenal padat pedagang kaki lima, kini terlihat lebih rapi, terang, dan enak dipandang. Orang datang bukan hanya untuk lewat. Mereka berhenti. Duduk. Jalan-jalan. Mengambil foto. Membuat konten. Tapi saya tidak ingin membahas Royal Baroe terlalu jauh. Saya pernah menulis soal itu.
Yang ingin saya tulis adalah keramaian kemarin. Keramaian yang membuat kekhawatiran saya tampak seperti prasangka buruk seorang editor yang terlalu sering melihat risiko. Ada keluarga yang datang membawa anak-anak. Ada pelajar. Ada guru. Ada mahasiswa. Ada buruh. Ada ormas. Ada komunitas. Ada pegawai kantor. Ada pengusaha. Ada pejabat pemerintah. Ada kepala daerah. Ada anggota DPRD yang sengaja berjalan bersama konstituennya. Ada juga yang memilih berjalan bersama komunitasnya. Pemandangan seperti itu membuat acara terasa tidak kaku.
Fun walk kemarin tidak lagi hanya menjadi acara ulang tahun media. Ia menjadi tempat orang bertemu tanpa merasa sedang berada dalam acara resmi.
Ada pemerintah. Ada Polri. Ada TNI. Ada dunia usaha. Ada buruh. Ada pelajar. Ada guru. Ada komunitas. Ada warga. Ada sponsor. Ada panitia yang sejak malam kurang tidur. Mungkin juga sudah lupa apakah mereka sempat sarapan atau belum.
Bagi Radar Banten, usia 26 tahun bukan sekadar angka di backdrop. Sejak tahun 2000 sampai 2026, media ini sudah melewati banyak perubahan. Pernah berada di masa ketika koran pagi ditunggu. Kini berada di masa ketika berita masuk ke ponsel sebelum orang selesai mengaduk kopi.
Perubahan itu tidak kecil. Pembaca berubah. Teknologi berubah. Cara orang percaya pada informasi juga berubah. Hari ini, media tidak cukup hanya cepat. Tidak cukup hanya ramai. Tidak cukup hanya dikenal banyak orang. Media harus tetap dipercaya. Itu pekerjaan yang lebih berat daripada membuat panggung ramai. Panggung bisa dibongkar malam itu juga. Tapi kepercayaan publik harus dijaga setiap hari.
Karena itu, ramainya fun walk kemarin jangan hanya dicatat sebagai sukses acara. Terlalu sayang kalau berhenti di situ.
Kalau masyarakat masih mau datang, masih mau terlibat, masih mau memberi ruang bagi Radar Banten dalam hidup mereka, maka Radar Banten juga harus terus membalasnya dengan kerja jurnalistik yang pantas.
Kemarin saya belajar satu hal: kekhawatiran tidak selalu buruk. Ia membuat orang lebih hati-hati. Ia memaksa panitia bekerja lebih rapi. Tapi kekhawatiran juga harus tahu diri ketika berhadapan dengan kerja keras. Dan kemarin, teman-teman panitia membuat kekhawatiran saya tahu diri.
Mereka tidak hanya menggelar fun walk. Mereka membuat acara itu hidup. Mereka menghadirkan warga dari banyak tempat dan banyak kalangan. Mereka menjaga kepercayaan sponsor. Mereka memberi ruang bagi masyarakat untuk bergembira.
Mereka membuat HUT Radar Banten ke-26 terasa tidak hanya dirayakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh publiknya.
Saya kalah oleh panitia. Kalah yang menyenangkan. Sebab dari kekalahan itu saya melihat sesuatu yang sering kita lupakan: orang masih mau berkumpul kalau diberi alasan yang baik. Ruang publik masih bisa menghidupkan kota kalau dikelola dengan benar. Dan Radar Banten, setelah 26 tahun berjalan, masih punya alasan untuk terus melangkah. Tidak berhenti di garis finish. (*)







