Saya kembali mendapat undangan menghadiri upacara Hari Bhayangkara di Polda Banten. Hampir setiap tahun saya hadir. Karena itu, saya cukup hafal bagaimana suasananya.
Biasanya ada banyak atraksi. Parade kendaraan dinas. Peragaan peralatan dan persenjataan. Kadang ada aksi polisi wanita dengan motor besar. Ada juga pertunjukan yang mengundang tepuk tangan para tamu.
Tahun ini berbeda. Lapangan terasa lebih sederhana. Tidak ada parade kendaraan. Tidak ada unjuk kekuatan peralatan. Tidak ada atraksi motor. Tidak ada tari-tarian. Yang terlihat hanya kendaraan taktis dari masing-masing satuan. Hanya ada polisi cilik dan personel Satbrimob yang menampilkan kemampuan mereka. Upacara berjalan sebagaimana mestinya. Khidmat. Lalu ditutup dengan defile pasukan.
Satu hal lagi yang berbeda. Kapolda Banten Irjen Pol Hengki tidak berdiri di podium sebagai inspektur upacara. Posisinya digantikan Wakapolda Brigjen Pol Hendra Wirawan.
Saya tidak bertanya ke mana beliau. Sebab pagi sebelum ke Polda, saya sudah membaca di Radar Banten. Polda Banten memperoleh Nugraha Sakanti, penghargaan tertinggi dari Presiden untuk satuan kepolisian yang dinilai memiliki dedikasi, prestasi luar biasa, dan jasa besar dalam pelaksanaan tugas.
Ternyata dugaan saya benar. Ketika kami mengikuti upacara di Mapolda di Serang, Kapolda berada di Cikeas menghadiri peringatan Hari Bhayangkara bersama Presiden untuk menerima penghargaan itu.
Yang tidak ada di lapangan bukan sedang meninggalkan barisan. Ia justru sedang mewakili barisan itu di tempat yang lebih tinggi.

Saat itulah saya merasa kesederhanaan upacara di Polda Banten seperti menemukan penjelasannya sendiri.
Tidak ada parade kendaraan. Tidak ada unjuk kekuatan. Tidak ada atraksi yang memancing decak kagum. Tetapi ada satu atraksi yang tidak berlangsung di lapangan upacara. Namanya prestasi.
Saya membaca berbagai capaian Polda Banten di Radar Banten. Ada penegakan hukum. Ada pengungkapan perkara. Ada pula program ketahanan pangan dan upaya membantu mengurangi pengangguran.
Dua program terakhir itu menarik bagi saya. Sebab selama ini orang lebih sering memahami tugas polisi sebatas menjaga keamanan, menegakkan hukum, mengatur lalu lintas, atau hadir ketika terjadi gangguan kamtibmas.
Tetapi di Banten, ada ikhtiar lain. Polisi mencoba masuk ke ruang hidup masyarakat yang lebih luas. Tidak berhenti pada tugas formal. Tidak hanya datang ketika ada persoalan hukum. Ada usaha untuk ikut menyentuh urusan yang lebih dekat dengan kehidupan warga.
Penghargaan itu memang diterima Kapolda. Tetapi saya yakin, tidak ada penghargaan sebesar itu yang lahir dari kerja satu orang.
Di belakangnya ada banyak sekali anggota. Ada Bhabinkamtibmas yang setiap hari keluar masuk kampung. Ada anggota lalu lintas yang berdiri di tengah panas dan hujan. Ada penyidik yang menyelesaikan perkara sampai larut, bahkan kadang tidak pulang beberapa hari. Ada anggota Sabhara dan Brimob yang selalu siap digerakkan kapan saja. Ada petugas pelayanan yang harus tetap sabar, bahkan ketika menghadapi masyarakat yang datang dengan wajah tegang dan hati penuh persoalan.
Nama mereka mungkin tidak pernah disebut. Wajah mereka mungkin tidak pernah masuk foto utama. Tetapi tanpa mereka, tidak akan ada penghargaan yang bisa dibawa pulang.
Saya juga percaya, organisasi sebesar Polda tidak mungkin mencapai titik itu tanpa komando yang jelas.
Seorang Kapolda tentu tidak mungkin berada di setiap polsek. Tidak mungkin ikut dalam setiap patroli. Tidak mungkin hadir dalam setiap pelayanan. Tetapi arah seorang pemimpin bisa terbaca dari cara organisasinya bergerak.
Prestasi sebesar ini selalu punya dua wajah. Wajah seorang pemimpin yang memberi arah, dan wajah ribuan anggota yang menjalankan arah itu.
Karena itu, Nugraha Sakanti ini tentu menjadi kehormatan bagi Kapolda Banten Irjen Pol Hengky. Namanya ikut terangkat. Dan itu wajar. Seorang pemimpin patut mendapat apresiasi ketika mampu membawa institusinya sampai pada capaian tertinggi.
Tetapi yang membuat penghargaan ini terasa lebih indah, nama itu tidak terangkat sendirian. Ia terangkat bersama nama seluruh jajaran Polda Banten. Bersama Wakapolda. Bersama para pejabat utama. Bersama para kapolres. Bersama anggota di polsek-polsek. Bersama mereka yang bekerja di jalan, di ruang pelayanan, di lapangan, di pos penjagaan, dan di banyak tempat yang tidak selalu terlihat.
Saya membayangkan, bagi anggota Polda Banten, kabar ini pasti membahagiakan. Mereka mungkin tidak ikut ke Cikeas. Mereka mungkin tetap berdiri di lapangan upacara di Banten. Mereka mungkin hanya mengikuti berita dari layar ponsel.
Saya membayangkan, di beberapa sudut kantor polisi, ada anggota yang tersenyum kecil ketika membaca berita itu. Mungkin tidak bersorak. Tetapi cukup merasa bahwa lelah mereka tidak sia-sia.
Ada bagian dari kerja mereka di sana. Ada bagian dari lelah mereka di sana. Ada bagian dari pengabdian mereka di sana.
Dan bagi seorang Kapolda, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat pasukan yang dipimpinnya dihargai negara. Bukan hanya dirinya yang disebut. Bukan hanya pangkatnya yang dilihat. Tetapi seluruh kerja organisasi yang ia pimpin dinilai berhasil.
Itu kebanggaan seorang komandan.
Upacara Hari Bhayangkara di Banten memang tidak meriah. Tidak banyak pertunjukan. Tidak banyak tepuk tangan untuk atraksi. Tetapi hari itu, Polda Banten sedang menunjukkan sesuatu yang lebih penting.
Bahwa kemeriahan bisa dibuat dalam sehari. Tetapi prestasi harus dibangun lama. Atraksi bisa dilatih beberapa pekan. Tetapi kepercayaan negara harus dijaga bertahun-tahun.
Maka, jika ada yang bertanya apa yang paling menarik dari Hari Bhayangkara di Banten tahun ini, jawaban saya sederhana. Bukan yang tampak di lapangan. Melainkan yang sedang dibawa Kapolda dari Cikeas. Sebuah penghargaan. Sebuah pengakuan.
Sebuah bukti bahwa kepemimpinan yang jelas, kerja bersama yang kuat, dan pengabdian yang melebihi batas tugas dapat membawa institusi sampai pada prestasi tertinggi.
Selamat untuk Kapolda Banten Irjen Pol Hengky. Selamat untuk Wakapolda, para pejabat utama, para kapolres, dan seluruh anggota Polda Banten.
Selamat untuk mereka yang namanya tidak disebut, tetapi kerjanya ikut mengangkat nama institusi.
Hari Bhayangkara tahun ini mungkin sederhana di lapangan. Tetapi bagi Polda Banten, ia akan dikenang sebagai hari ketika prestasi berdiri lebih tinggi daripada atraksi. (*)










