KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), H. Ahmad Rifaudin memperkenalkan konsep “Quality Habit” yang diterapkan sebagai bagian dari pendidikan karakter bagi siswa Madrasah dan budaya kerja di lingkungan Kemenag Tangsel.
Ahmad Rifaudin mengatakan, pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara instan melalui pelatihan, melainkan harus dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari
Contoh paling sederhananya, kata Ahmad Rifaudin adalah memulai kebiasaan membuang sampah pada tempatnya oleh siawa yang merupakan contoh pembiasaan positif yang jika terus dilakukan akan melahirkan budaya kualitas.
“Membiasakan hal-hal yang baik, dari hal-hal yang paling sepele, paling ringan. Tapi kalau dilakukan secara konsisten, itu akan menjadi sesuatu yang berharga,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID di kantornya, Rabu 22 Juli 2026.
“Quality Habit itu dimulai dari hal-hal kecil yang positif. Dibiasakan terus, dihabitkan, sehingga akhirnya terbentuk budaya kualitas,” tambahnya.
Rifaudin menjelaskan, penerapan Quality Habit disesuaikan dengan lingkungan masing-masing. Di madrasah, nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter peserta didik dan budaya sekolah.
Ia berharap budaya Quality Habit mampu melahirkan siswa madrasah yang berkarakter sekaligus membentuk aparatur Kemenag yang profesional, sehingga setiap aktivitas tidak hanya menghasilkan keluaran pekerjaan, tetapi juga memberikan manfaat dan dampak positif bagi masyarakat.
“Apapun yang kita lakukan harus mengejar kualitas dan memiliki manfaat. Tidak sekadar menghasilkan output, tetapi juga ada benefit dan impact-nya. Ini sejalan dengan semangat Kementerian Agama, bahwa setiap program dan pelayanan harus memberikan dampak positif bagi masyarakat,” pungkasnya.
Sementara di lingkungan Kantor Kemenag Tangsel, konsep itu diterapkan sebagai budaya kerja bagi seluruh pegawai.
“Kalau di sekolah bahasanya guru, kalau di sini pegawai. Nilainya sama, hanya penerapannya yang disesuaikan. Jadi konsep ini sifatnya universal,” katanya.
Ia menambahkan, kecerdasan saat ini dapat diperoleh melalui berbagai sumber belajar. Namun, pembentukan karakter tetap membutuhkan proses pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus dengan pendampingan dari guru maupun pimpinan.
“Kalau cerdas sekarang bisa belajar dari mana saja. Tapi pembentukan karakter harus melalui proses kebiasaan-kebiasaan baik dan itu harus dipandu,” jelasnya.
Dalam penerapannya, Kemenag Tangsel merangkum berbagai nilai ke dalam konsep Quality Habit, di antaranya semangat mengejar kualitas, terus belajar, berintegritas, membangun karakter, berkolaborasi, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Rifaudin menegaskan, konsep tersebut bukan sekadar slogan yang dipasang di dinding kantor, tetapi menjadi pedoman yang harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
“Ini bukan jargon dan konsep ini bukan dari pemikiran saya semata. Saya menyusun ini berdasarkan hasil pengamatan, evaluasi, dan praktik-praktik baik yang sudah terbukti. Kemudian kami kuatkan agar bisa diterapkan di seluruh lembaga,” ujarnya.
Editor Daru











