SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Serang mulai memicu kekeringan di sejumlah wilayah. Hingga awal Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang mencatat sembilan desa di lima kecamatan terdampak kekeringan, dengan total sekitar 6.745 kepala keluarga (KK) mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Serang, desa yang terdampak meliputi Desa Mekarsari, Walikukun, Ragas Masigit, dan Teras di Kecamatan Carenang; Desa Domas dan Wanayasa di Kecamatan Pontang; Desa Bojong Nangka di Kecamatan Petir; Desa Cakung di Kecamatan Binuang; serta Desa Pontang Legon di Kecamatan Tirtayasa.
Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, mengatakan persoalan kekeringan menjadi salah satu pembahasan utama dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Serang. Menurutnya, fenomena El Nino Gozila memicu kemarau panjang yang berdampak pada berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.
Ia mengungkapkan, beberapa desa telah mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada BPBD Kabupaten Serang. Pemerintah daerah pun langsung mengoordinasikan langkah penanganan bersama BPBD dan berbagai pemangku kepentingan.
“BPBD sudah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun dengan perusahaan untuk menyuplai air bersih kepada warga kami yang mengalami kesulitan air bersih,” kata Zakiyah, Selasa, 4 Agustus 2026.
Selain menyalurkan bantuan air bersih, Pemkab Serang juga meminta BPBD melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Tentunya muaranya, kami menginginkan agar warga kami tidak mengalami kekurangan air bersih. Kami juga melakukan pemetaan terhadap langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan,” tegasnya.
Meski jumlah wilayah terdampak terus bertambah, Zakiyah menilai kondisi kekeringan masih dapat dikendalikan. Karena itu, Pemkab Serang belum menetapkan status darurat bencana.
“Kita lihat kemungkinan itu, namun sampai saat ini belum kami lakukan karena kondisinya masih bisa kita tangani. Kalau keadaannya semakin meluas, tentunya kami akan tetapkan status darurat bencana,” ujarnya.
Selain kekeringan, Zakiyah meminta BPBD meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan selama musim kemarau. Ia juga mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk menggunakan air sebijak mungkin. Kedua, jangan melakukan pembakaran lahan yang dapat memicu kebakaran,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Serang, Ajat Sudrajat, mengatakan pihaknya terus memperluas upaya penanganan melalui koordinasi dengan pemerintah, perusahaan, dan organisasi kemasyarakatan.
Menurut Ajat, hingga saat ini BPBD telah menyalurkan 15 tangki air bersih atau sekitar 91.500 liter kepada masyarakat terdampak.
“Total ada sebanyak 15 tangki air bersih atau sekitar 91,5 ribu liter air bersih yang sudah disalurkan kepada warga Kabupaten Serang. Kami juga dibantu perusahaan dan organisasi kemasyarakatan seperti Paguyuban Urang Banten,” katanya.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang semakin meluas, BPBD juga menggelar rapat koordinasi lintas sektoral bersama TNI, Polri, BMKG, serta berbagai unsur organisasi masyarakat.
“Kami memaparkan kondisi terkini di Kabupaten Serang, mengidentifikasi wilayah terdampak kekeringan, kemudian menetapkan daerah prioritas penanganan,” ujarnya.
Ajat menambahkan, BPBD telah menyiapkan logistik, peralatan, dan personel untuk mendukung penanganan kekeringan.
“Intinya, kami berkolaborasi lintas sektor untuk penanganan kekeringan di Kabupaten Serang,” tegasnya.
Editor : Aas Arbi

