LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Sejumlah warga korban bencana pergerakan tanah di Kampung Angsana, Desa Karyajaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, yang terjadi pada Januari 2026 lalu, masih bertahan di rumah yang rusak berat, retak, dan membahayakan keselamatan. Mereka berharap segera direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak, Febby Rizky Pratama mengatakan, keterbatasan anggaran menjadi salah satu penyebab warga belum dapat direlokasi. Sebab, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Lebak tidak memiliki anggaran untuk pengadaan rumah bagi korban bencana tersebut.
“Perkim Lebak tidak ada anggaran untuk pengadaan rumah. Karenanya, kita akan berkoordinasi dengan Perkim Provinsi agar bisa masuk pada APBD Perubahan,” kata Febby, Selasa, 11 Agustus 2026.
Ia mengatakan, bencana pergerakan tanah di Kampung Angsana, Desa Karyajaya, Kecamatan Cimarga, yang terjadi pada awal Januari 2026, menyebabkan sembilan unit rumah mengalami rusak berat.
Berdasarkan kajian Badan Geologi, lokasi tersebut tidak lagi layak untuk dihuni sehingga warga harus direlokasi dan tidak diperbolehkan membangun kembali rumah di lokasi semula.
“Kejadian bencana pergerakan tanah terjadi pada awal tahun. Jadi, kalaupun ada anggaran untuk pembangunan rumah pada Dinas Perkim Provinsi Banten, tidak dapat langsung memberikan bantuan relokasi. Sebab, pastinya sudah ada peruntukan untuk pembangunan rumah warga lainnya,” ujarnya.
Karena itu, Febby berharap pada APBD Perubahan Provinsi Banten tersedia anggaran untuk pembangunan rumah bagi warga Kampung Angsana yang terdampak bencana pergerakan tanah.
“Kalau nanti di Perubahan Perkim Provinsi tersedia anggaran, maka kami akan kembali berkoordinasi dengan Badan Geologi untuk mengecek kelayakan tanah hibah untuk pembangunan rumah warga yang terkena bencana pergerakan tanah Cimarga,” ujarnya.
Sementara itu, seorang warga, Maesaroh (45), mengatakan, dirinya bersama beberapa warga lainnya terpaksa masih menempati rumah yang sudah tidak layak huni karena tidak memiliki tempat lain untuk tinggal.
“Sebenarnya takut saya tertimpa. Tapi, mau bagaimana lagi. Mau pindah juga ke mana? Enggak ada biaya,” kata Maesaroh.
Ia mengaku khawatir rumahnya yang nyaris ambruk tersebut sewaktu-waktu kembali mengalami kerusakan atau bahkan roboh. Terlebih, saat ini rumah yang masih bisa ditempati hanya menyisakan tiga unit, sedangkan enam rumah lainnya telah ambruk.
“Saya minta tolong dibantu. Saya ingin pindah ke tempat yang lebih aman,” katanya.
Ia menuturkan, kondisi rumahnya terus mengalami kerusakan dan semakin parah. Setiap kali hujan turun, ia terpaksa mengungsi ke rumah anaknya karena khawatir bangunan rumahnya roboh.
“Bila hujan, masih terdengar suara retakan. Saya takut ketimpa. Tapi kalau tidak hujan, ya saya tetap tinggal di sini karena tidak punya biaya untuk pindah,” ujarnya.
Reporter: Nurabidin Editor: Aas Arbi

