PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID— Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Pandeglang MM Fuhaira Amin membuka hotline aspirasi terkait kepramukaan melalui akun media sosial pribadinya. Hotline tersebut dibuka bertepatan dengan peringatan Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026.
Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Pandeglang dari Fraksi Partai Demokrat itu mengatakan, hotline dibuka untuk mendengar aspirasi dari seluruh lapisan masyarakat, khususnya terkait perkembangan Gerakan Pramuka di Pandeglang.
“Khususnya kaitan kepramukaan. Jadi ingin mendengar aspirasi apa saja dari masyarakat maupun pengurus Pramuka,” katanya, Kamis, 13 Agustus 2026.
Fuhaira meminta seluruh lapisan masyarakat turut memberikan masukan demi kemajuan Pramuka di Kabupaten Pandeglang.
“Selamat Hari Pramuka ke-65. Silakan sampaikan aspirasi apa untuk pengurus Pramuka,” katanya.
Lebih lanjut, Fuhaira mengatakan dirinya telah aktif mengikuti kegiatan Pramuka sejak duduk di bangku sekolah hingga saat ini. Menurutnya, banyak pengalaman berharga yang diperoleh selama aktif dalam kegiatan kepramukaan.
“Karena memberikan manfaat besar pada pembentukan karakter. Sebab kalau di antara keluarga yang nakal dan bandel itu saya,” katanya.
Dia mengisahkan masa kecilnya yang senang bermain di sawah, gunung, dan sungai bersama berbagai kalangan. Saat duduk di bangku SD, dia mengaku berteman dengan siapa saja, mulai dari pedagang hingga teman-teman kakaknya.
“Saya orang yang susah diatur menurut keluarga. Sejak SD kelas 6 sudah bisa bawa motor atau mobil, senang balap motor, pokoknya jadi anak nakal. Wajar keluarga saat itu memberi cap seperti itu. Saya tidak bisa membayangkan posisi orang tua, sementara sekarang anak saya bawa motor sudah SMA saja masih khawatir terjadi sesuatu,” katanya.
Sejak duduk di SDN 3, Fuhaira mengaku sudah dituakan oleh teman-temannya karena memiliki tubuh yang lebih besar dan dikenal berani dalam urusan perkelahian antarsekolah.
“Sering diajak main bola hanya untuk jaga gawang tapi bukan kiper, sering maju ke depan. Disetrap karena PR tidak dikerjakan, dijewer kuping oleh guru, atau saling jewer sesama kawan yang bandel. Karena senasib, bergabunglah menjadi kelompok geng bernama Escobar,” katanya.
Menurut Fuhaira, kelompok tersebut kemudian mulai mengikuti kegiatan positif, salah satunya Pramuka yang dilatih oleh Yedi Tea. Selain itu, mereka mengikuti kegiatan kesenian kelompok degung. Fuhaira sendiri menjadi lengser dalam kelompok tersebut yang dibina oleh Ade dan Ujang.
Fuhaira mengaku mendapat dukungan dari orang tuanya setelah mulai menunjukkan perubahan. Dia kemudian diterima di SMPN 1 dan melanjutkan kegiatan positif melalui Pramuka serta karate.
“Yang sering teringat pengalaman SMP ini lebih didominasi urusan Pramuka. Saat itu ada kewajiban sekolah untuk mengikuti Pramuka tahap dasar, calon Ramu. Diinstruksikan oleh Dewan Penggalang agar membentuk regu maksimal 11 orang,” katanya.
Saat itu, anggota kelompoknya ingin tetap bersama sehingga mereka mengusulkan agar seluruh anggota bergabung dalam satu regu meskipun berjumlah 35 orang.
“Namun karena aturan Kwarnas demikian dan kena marah para Dewan Penggalang agar regu itu maksimal 11 orang, akhirnya pecah menjadi tiga regu. Sahabat-sahabat geng ketika itu pecah, ada yang aktif dan vakum dari Pramuka,” katanya.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu titik perubahan dalam hidupnya. Kegiatan Pramuka secara perlahan membuat dirinya lebih terarah dan terbimbing untuk melakukan hal-hal positif.
“Namun ada hikmah dari perjalanan itu, bahwa saya mulai berubah sedikit demi sedikit karena Pramuka. Sehingga lebih terarah dan terbimbing kepada hal yang positif. Itulah mengapa saya concern pada Pramuka,” katanya.
Fuhaira mengatakan hingga saat ini dirinya masih terus belajar dan berusaha memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Sampai saat ini saya belum sempurna, manusia terus belajar dan berubah dinamis. Semoga sisa usia ini bisa beri kemaslahatan untuk masyarakat. Secara pribadi masih banyak kekurangan dan para sahabat tahu kelemahan dan kekurangan saya,” pungkasnya.
Reporter: Purnama Irawan -Editor : Aas Arbi

