Penulis : Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, M.M., M.Sc., Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al-Ankabut: 69)
A. Peringatan Maulid
Maulid Nabi adalah kegiatan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilakukan dengan mengenang kembali sejarah dan perjuangan hidup Rasulullah SAW. Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW jatuh pada tanggal 12 Rabiulawal dalam kalender Hijriah. Maulid Nabi berasal dari dua kata bahasa Arab, yakni maulid dan nabi. Kata maulid memiliki makna yang sama dengan kata milad yang berarti “lahir” atau “kelahiran”, sedangkan kata nabi yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW.
Biasanya, setiap masjid di Indonesia memiliki acara untuk memperingati Maulid Nabi, seperti melakukan pengajian, makan bersama, atau mengadakan perlombaan untuk anak-anak. Di beberapa kota, diselenggarakan upacara tradisi khusus untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, sebagian masyarakat hidup dalam kebodohan dan kegelapan. Mereka menyembah berbagai macam berhala dan menyimpang dari jalan Allah. Ketika Nabi Muhammad SAW lahir, beliau membawa pesan kebenaran dan mengajarkan keesaan Allah. Pesan tersebut menuntun manusia menuju jalan pencerahan serta membantu mereka membedakan antara yang benar dan yang salah.
Salah satu keteladanan terpenting Nabi SAW adalah bahwa beliau merupakan nabi terakhir dan tidak ada nabi setelah beliau. Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًاࣖ
Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS: Al-Ahzab: 40)
Nabi Muhammad SAW adalah lambang kesempurnaan akhlak dan keteladanan. Beliau adalah panutan yang dipilih untuk kita oleh Allah. Kita harus mengikuti sunnahnya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan yang ideal, yang tidak hanya diajarkan oleh agama kepada kita, tetapi juga bermanfaat bagi seluruh umat manusia jika kita mengikutinya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak menyebut Allah.” (QS: Al-Ahzab: 21)
Tanpa keraguan, kehidupan Nabi SAW adalah sumber panduan yang sangat penting bagi seluruh umat Islam. Nabi SAW adalah rahmat, tidak hanya bagi kita, tetapi juga bagi seluruh alam dan makhluk ciptaan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS: Al-Anbiya: 107)
Jadi, setiap Muslim harus mempelajari peristiwa-peristiwa kehidupan Nabi SAW dan mengikuti contoh praktis yang diberikan oleh beliau dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian, hal yang benar-benar penting bagi seluruh umat Islam adalah mengikuti ajaran Nabi SAW dan menjalani kehidupan sesuai dengan sunnahnya. Hal ini membutuhkan upaya yang terus-menerus dan konsisten dari seluruh umat Islam.
B. Kehidupan Penuh Perjuangan
Sejarah Nabi Muhammad SAW adalah kisah penuh makna yang mengandung banyak pelajaran berharga bagi umat manusia. Dari kelahirannya yang istimewa hingga perjuangannya dalam menyebarkan risalah Islam, setiap momen hidup beliau menyimpan hikmah mendalam yang bisa dijadikan pedoman.
Masa kecil Nabi Muhammad SAW juga penuh dengan pengalaman berharga yang membentuk jiwa kepemimpinannya. Di bawah asuhan Abdul Muthalib dan Abu Thalib, Nabi Muhammad SAW belajar nilai-nilai kejujuran, kesetiaan, dan kedermawanan. Masyarakat Makkah mengenalnya sebagai “Al-Amin”, yang berarti “yang terpercaya”. Julukan ini diberikan karena sifat beliau yang jujur dan dapat dipercaya, baik dalam perniagaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Reputasi Nabi Muhammad SAW sebagai pribadi yang jujur dan adil inilah yang kelak memudahkan beliau dalam menyampaikan ajaran Islam. Kejujuran dan keteladanan moralnya membuat banyak orang kemudian tertarik untuk mendengarkan ajarannya.
Perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan Islam tidaklah mudah. Penolakan dan perlawanan dari masyarakat Quraisy sangat keras. Para pengikut Nabi Muhammad SAW pun tidak lepas dari penganiayaan. Meski demikian, beliau tetap menunjukkan sikap sabar dan tekun dalam menyampaikan ajaran Islam. Salah satu titik penting dalam perjuangan beliau adalah hijrah ke Madinah, yang menjadi awal dari perkembangan Islam secara lebih luas.
Hijrah ke Madinah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga strategi dalam menghadapi tekanan dari kaum Quraisy. Di Madinah, Nabi Muhammad SAW mendapatkan dukungan dan mulai membangun komunitas Muslim yang kuat. Hal ini menjadi titik balik penting dalam sejarah Islam.
Sejarah Nabi Muhammad SAW tidak hanya berakhir dengan wafatnya pada tahun 632 M, tetapi terus hidup dalam ajaran dan teladan yang beliau tinggalkan. Warisan ajaran beliau tentang keadilan, kasih sayang, dan toleransi masih menjadi pedoman bagi umat Islam hingga saat ini. Pelajaran-pelajaran yang diambil dari kehidupan Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, kejujuran, dan kesabaran.
Hingga hari ini, Nabi Muhammad SAW tetap menjadi teladan yang patut diikuti oleh seluruh umat manusia, bukan hanya sebagai seorang nabi, tetapi juga sebagai pemimpin yang bijaksana dan penuh kasih.

Penulis adalah Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi, penulis buku Islam dalam Transformasi Kehidupan dan buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.

