Agustus selalu punya cara membuat banyak tempat mendadak sibuk. Di kampung, kompleks perumahan, kantor, hingga sekolah, orang-orang membicarakan perayaan.
Para pemuda dan bapak-bapak memikirkan panggung. Ibu-ibu menghitung konsumsi. Anak-anak bertanya lomba apa saja yang akan digelar. Panitia membawa proposal dari pintu ke pintu. “Kalau tidak bisa uang, air mineral juga boleh.”
Di situlah pesta kemerdekaan sebenarnya dimulai. Bukan ketika bendera dikibarkan. Bukan pula saat lagu Indonesia Raya diputar. Tetapi ketika orang-orang berkumpul, patungan, bekerja, lalu tertawa bersama. Anehnya, perayaan tahunan itu tidak pernah membosankan. Perlombaannya hampir selalu sama. Balap karung. Makan kerupuk. Lari kelereng. Tarik tambang. Panjat pinang. Boleh ditambah yang baru. Namun, yang lama selalu membuat rindu. Orang dewasa yang setiap hari menjaga wibawa mendadak rela melompat-lompat di dalam karung.
Gubernur Banten, Andra Soni pun tidak hanya menyaksikan. Ia ikut masuk ke dalam karung dan berlomba bersama warga. Di dalam karung, rupanya jabatan tidak banyak membantu. Semua harus melompat dan menjaga keseimbangan sendiri.
Ibu-ibu berlari sambil menjepit balon. Bapak-bapak sibuk menjaga sarung agar tidak melorot. Yang kalah tidak marah. Yang menang tidak sombong. Hadiahnya mungkin hanya ember, kipas angin, atau mi instan. Namun, perjuangan mendapatkannya bisa menjadi cerita sampai tahun depan.
HUT ke-81 Republik Indonesia benar-benar menjadi pesta rakyat. Pesta kebahagiaan. Pesta rasa syukur.
Indahnya, tidak ada pertanyaan siapa mendukung siapa. Tidak ditanya partainya apa. Tidak dicari tahu pilihan politiknya ke mana. Semua mengenakan merah putih dan merayakan kemerdekaan yang sama.
Tidak ada kelompok sebelah. Tidak ada kubu sana. Tidak ada yang merasa paling Indonesia. Uangnya pun dicari bersama. Ada yang menyumbang banyak. Ada yang menyumbang sedikit. Ada yang memasang bendera, meminjamkan pengeras suara, memasak, atau menjaga parkir. Ada pula yang sejak pagi mondar-mandir membawa kabel.
Semua dilakukan dengan sukarela. Tidak ada tekanan. Tidak ada ancaman akan dicatat jika tidak menyumbang. Tidak ada pula yang menuntut diperlakukan istimewa karena memberikan uang paling banyak.
Pesta rakyat kehilangan makna ketika kegembiraan berubah menjadi kewajiban. Gotong royong kehilangan ruh ketika orang membantu karena takut. Sesuatu yang dipaksakan tidak lagi merdeka.
Setelah menikmati kemerdekaan, masih adakah yang ingin mengekang pilihan orang lain, membungkam pendapat berbeda, atau menggunakan jabatan dan kekuasaan untuk membuat orang lain takut?
Kalau masih ada, penjajahan belum benar-benar pergi. Ia hanya berganti wajah.
Dahulu penjajah datang dari bangsa lain. Sekarang, jangan sampai anak bangsa justru ingin menjajah saudaranya sendiri. Merasa paling benar. Merasa paling berhak menentukan hidup orang lain.
Kemerdekaan bukan hanya hak untuk hidup bebas. Kemerdekaan juga kewajiban menghormati kebebasan orang lain. Bendera dapat dipasang dalam satu pagi. Gapura dapat dicat dalam satu hari. Namun, rasa merdeka tidak dapat dibangun melalui perintah. Tidak cukup mengibarkan bendera jika mulut orang lain masih dibungkam.
Mungkin Indonesia yang dicita-citakan para pendiri bangsa sesederhana suasana lomba itu. Pejabat bisa kalah balap karung. Orang kaya bisa kalah tarik tambang. Ketua RT bisa pulang tanpa hadiah. Tidak ada yang protes. Semua tertawa.
Orang-orang berbeda berkumpul dalam kegembiraan yang sama. Mencari uang, bekerja, dan menikmati hasilnya bersama. Tidak ada yang menekan. Tidak ada yang ditekan.
Sebab, kemerdekaan bukan milik partai, pemerintah, atau kelompok tertentu.
Kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat.
Dan pesta terbaik adalah ketika semua orang benar-benar merasa merdeka. (*)

