SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kota Serang berencana akan memberikan bantuan kuliah gratis kedokteran untuk warga Kota Serang.
Program ini merupakan salah satu program unggulan dari Wali Kota Serang, Budi Rustandi, dan Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia. Yakni, Program Satu Kecamatan Satu Dokter.
Pemberian kuliah gratis ini akan dibantu menggunakan APBD Kota Serang. Pemkot Serang juga membuka peluang pembiayaan program itu melalui dukungan pihak swasta.
Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau CSR dapat diarahkan untuk membantu pembiayaan pendidikan kedokteran bagi penerima manfaat.
“Bisa lewat CSR juga. Pokoknya kita upaya sudah sesuatunya, yang pasti gratis,” kata Budi, Jumat, 21 Agustus 2026
Asisten Daerah I Kota Serang, Anthon Gunawan mengatakan, pemerintah daerah saat ini tengah menyiapkan Peraturan Wali Kota (Perwal) Serang sebagai dasar hukum pelaksanaan Satu Kecamatan Satu Dokter.
“Apa yang disampaikan Pak Wali, kita mengejar target Perwal. Mudah-mudahan bisa selesai cepat dan paralel juga dengan MoU,” kata Anthon.
Untuk tahap awal, Pemkot Serang menyiapkan kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Untirta.
Namun, peluang kerja sama dengan perguruan tinggi lainnya tetap terbuka untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.
Anthon mengatakan, Pemkot Serang menyiapkan anggaran sebesar Rp 15 juta per semester untuk membiayai satu mahasiswa pendidikan dokter. Anggaran tersebut berasal dari APBD Kota Serang.
“Anggaran untuk satu kecamatan, satu semesternya, satu UKT itu untuk dokter Rp 15 juta dari APBD,” ujarnya.
Penerima bantuan pendidikan tersebut nantinya tidak hanya ditentukan berdasarkan kondisi ekonomi.
Pemkot Serang juga akan mempertimbangkan kemampuan akademik, prestasi, serta data kesejahteraan calon penerima.
Mekanisme seleksi akan dituangkan dalam Perwal dan melibatkan tim lintas organisasi perangkat daerah.
Dengan skema tersebut, program diarahkan untuk memastikan bantuan diberikan kepada warga yang memiliki kemampuan untuk menempuh pendidikan dokter, tetapi terkendala kemampuan ekonomi.
“Yang masuk adalah mereka yang punya kemampuan dan prestasi, tetapi tidak punya kemampuan ekonomi,” ujar Anthon.
Editor: Agus Priwandono

