CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID — Sejumlah bantuan sosial (bansos) berupa beras yang sebelumnya disalurkan kepada keluarga penerima manfaat (KPM) melalui kelurahan di Kota Cilegon diduga kembali diperjualbelikan.
Berdasarkan penelusuran Radar Banten, sejumlah unggahan di platform Facebook menawarkan beras bantuan pangan dengan kemasan bertuliskan bantuan pangan.
Beras tersebut dijual dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp100 ribu untuk kemasan 10 kilogram hingga Rp120 ribu per karung.
Salah satu unggahan dibuat oleh akun Facebook Bang Anam YT di grup PCI (Pondok Cilegon Indah).
Dalam unggahannya, disebutkan terdapat beras Bulog sebanyak 20 kilogram yang ditawarkan dengan harga Rp100 ribu untuk setiap 10 kilogram.
Penjual juga menyebut pembeli diutamakan yang dapat mengambil langsung ke lokasi di kawasan Cilegon Lingkar.
Saat dikonfirmasi, Senin 31 Agustus 2026, Lurah Cibeber Tb Nasrullah mengatakan, penerima bantuan merupakan KPM.
Setelah bantuan diserahkan kepada penerima, pengelolaannya tidak lagi berada dalam kewenangan kelurahan.
“Penerima itu KPM, kalau sudah diberikan itu bukan ranah kita. Tapi kok orang bisa sudah dibantu malah dijual,” katanya.
Menurut Nasrullah, bantuan tersebut diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga penerima.
Karena itu, ia menyayangkan apabila bantuan yang seharusnya dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga justru diperjualbelikan.
“Orang dibantu kan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, kebutuhan pokok. Walaupun di luar kewenangan kita hak dia, tapi jaga kayak gitu lah,” ujarnya.
Nasrullah mengaku belum mengetahui secara pasti lokasi atau wilayah penerima yang menjual beras tersebut.
Ia pun meminta informasi lebih lanjut untuk memastikan asal bantuan yang diperjualbelikan.
“Saya belum tahu ini PCI-nya daerah mana. Coba kalau tahu akan saya dalami dan instruksi kepada RT RW,” tuturnya.
Sementara itu, Lurah Pabean Ahmad Bukhori mengatakan, pihak kelurahan telah memberikan penekanan kepada penerima sebelum bantuan disalurkan agar tidak memperjualbelikan beras bantuan.
“Pihak kelurahan sebelum menyalurkan bantuan tersebut sudah memberikan penekanan ke penerima agar bantuan ini jangan sampai diperjualbelikan,” kata Bukhori.
Ia menyebut, hingga saat ini pihaknya belum menerima informasi maupun laporan mengenai adanya penerima bantuan di wilayahnya yang menjual kembali beras bantuan.
“Adapun ada info penjualan bansos dimaksud, kami belum menerima info atau laporan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Lurah Citangkil Ali Wahdi. Ia memastikan proses distribusi bantuan sosial di wilayahnya telah selesai.
Namun, terkait adanya penerima yang menjual kembali bantuan tersebut, ia mengaku belum mengetahuinya.
“Keterkaitan distribusi bansos alhamdulillah sudah selesai. Namun keterkaitan ada penerima bansos yang dijual, saya tidak tahu,” ucapnya.
Fenomena jual kembali beras bantuan ini juga muncul dalam sejumlah unggahan lain di Facebook.
Salah satu unggahan dari akun Putri Wahyuni pada 30 Mei menyebut beras diperoleh dengan membeli dari orang lain secara perorangan seharga Rp100 ribu per karung dengan isi 10 kilogram.
Dalam keterangannya, pemilik unggahan menyatakan membeli dua karung dari seseorang dan kemudian menjual satu karung karena stok terlalu banyak.
Ia juga menyebut beras tersebut bukan diperoleh langsung dari pemerintah.
Sementara dalam unggahan lain pada Agustus, terdapat penawaran beras Bulog bantuan pangan sebanyak 30 kilogram atau tiga karung dengan harga Rp120 ribu per karung.
Radar Banten juga telah berupaya meminta keterangan Camat Jombang Burhanudin terkait informasi tersebut. Namun, hingga berita ini ditulis, yang bersangkutan belum memberikan respons.
Editor: Abdul Rozak

