RADARBANTEN.CO.ID — Ancaman abrasi yang sempat merusak kawasan pesisir Pulau Cangkir, Desa Kronjo, Kabupaten Tangerang, perlahan mulai teratasi. Lewat inisiatif konservasi mangrove dan dukungan PT Pelindo 2 melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), kawasan yang sebelumnya rawan abrasi ini tidak hanya kembali asri, tetapi juga berhasil memutar roda perekonomian warga lokal.
Hal itu terungkap saat penilaian visitasi Event Radar Banten Award 2026, tim juri terdiri dari Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Banten Desta Munggara ST dan Redaktur Pelaksana Radar Banten Agus Priwandowo, Kamis 3 September 2026.
Presiden Taman Mangrove Pulo Cangkir (MAPUCA), Heru, menjelaskan, gerakan ini berawal dari keprihatinan terhadap pesisir pantura. Organisasi yang berdiri sejak Agustus 2018 di Kampung Tematik 2 Hari Nusantara ini fokus pada konservasi sumber daya alam, berpadu dengan program pemberdayaan masyarakat, perikanan, pertanian, dan UMKM.
“Awal ceritanya, daerah ini sebelumnya belum ada hutan mangrove dan terkena abrasi. Setiap hari ombak menghantam bibir pantai, sampai ada tambak yang hancur sepanjang 25 meter,” ungkap Heru.
Menyadari proses pembentukan tanah timbul secara alami membutuhkan waktu lama, MAPUCA menyiasatinya dengan penanaman mangrove secara masif. Pada tahun 2022, langkah ini mendapat angin segar melalui kucuran dana Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PT Pelindo 2.
“Bentuk bantuannya penanaman mangrove, kurang lebih 40.000 sampai 45.000 batang. Pembinaan yang diberikan berupa dana untuk penanaman, penyulaman, dan perawatan. Mulai dari tanam sampai tinggal panen dan pasca-panen,” jelas Heru. Ia juga menambahkan bahwa program ini mendapat dorongan kuat dari Pembina di Tarum Ciliwung.
Hasil dari kolaborasi tersebut kini mulai terlihat nyata. Hutan mangrove yang berjejer di bibir pantai telah berfungsi sebagai tanggul alami yang efektif menahan laju ombak. “Dulu 25 hektare lahan terkena abrasi, sekarang sudah produktif lagi menjadi tambak dan sudah dikasih pembibitan lagi. Sampai saat ini kawasan tertata rapi dan tanah timbul kembali,” tambahnya.
Berdayakan Warga Lewat Olahan Mangrove
Kehadiran hutan mangrove di Pulau Cangkir membawa manfaat ganda. Secara ekologi, akar mangrove menjadi rumah yang ideal bagi ikan untuk berkembang biak, sementara daunnya yang berguguran dimanfaatkan masyarakat sebagai pupuk organik.
Secara ekonomi, masyarakat binaan yang terdiri dari 25 warga lokal (9 di antaranya merupakan penggerak aktif) kini memiliki sumber pendapatan baru. Meski mayoritas nelayan berlatar belakang pendidikan menengah ke bawah, mereka berhasil berinovasi menciptakan berbagai produk turunan dari mangrove.
“Produk yang dihasilkan dari program ini alhamdulillah banyak. Kita mulai dari makanan, minuman, bahkan sabun cuci piring dan sabun mandi. Bahan dasarnya dari buah mangrove, daunnya, bahkan dari kertasnya juga bisa,” papar Heru.
Saat ini, MAPUCA tengah menantikan hasil panen buah mangrove secara maksimal dari bibit yang ditanam pada 2022 untuk diproduksi dalam skala yang lebih besar.
Menatap ke depan, Haji Heru menyimpan visi besar untuk menjadikan Pulau Cangkir sebagai destinasi wisata alam mangrove atau taman agrowisata unggulan. Selain fokus pada pelestarian lingkungan, ia juga menaruh perhatian pada pendidikan dan kesehatan warga pesisir.
“Harapannya ke depan, produk-produk hasil masyarakat pesisir pantai ini bisa terangkat, misalnya lewat marketplace. Minimal pemerintah memberikan inovasi berupa gerai UMKM atau pusat oleh-oleh khas destinasi wisata. Di sisi lain, ini adalah tentang pengamanan garis pantai dan pemberdayaan ruang hidup nelayan,” ungkapnya.
Sementara itu, Junior Menejer SDM, Umum dan KBL, Lukman Salamudin menilai, program Radar Banten Award 2026 ini menjadi pemicu bagi PT Pelindo 2 untuk terus melaksanakan program TJSL atu CSR ini menjadi lebih baik, serta mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
“Ke depan kita akan melanjutkan dengan program pemberdayaan masyarakat pesisir berupa bantuan pembibitan peternakan budidaya ikan dan kepiting di sekitar mangrove, sehingga nanti bisa dijual untuk kebutuhan domestik dan ekspor,” pungkasnya.

