Ini hari keempat. Sejak 7 September, lima wartawan yang meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau belum memberi kabar.
Mereka adalah M. Bagus Khairunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu Agency, dan Donal, jurnalis lepas.
Lima nama. Lima orang yang berangkat membawa kamera, alat perekam, telepon genggam, mungkin juga beberapa potong pakaian. Tetapi yang paling banyak mereka bawa barangkali adalah semangat. Selain mereka, ada nahkoda, ABK, dan pemandu. Total delapan orang.
Saya pernah menjalani pekerjaan seperti mereka. Saya tahu sedikit tentang perasaan seorang wartawan ketika memperoleh informasi eksklusif.
Rasanya seperti seorang kolektor mendengar kabar bahwa barang yang selama ini dicari akhirnya ditemukan. Belum melihat bendanya saja sudah senang. Energi mendadak berlipat. Ingin segera berangkat, melihat dengan mata sendiri, memeriksa kebenarannya, lalu membawanya pulang.
Bagi wartawan, barang langka itu adalah berita eksklusif. Apalagi yang akan diliput adalah Anak Krakatau. Aktivitasnya mungkin tidak sebesar letusan gunung lain. Namun, dampaknya dapat menyentuh pusat-pusat kehidupan dan mobilitas masyarakat, termasuk jalur penerbangan menuju bandara tersibuk di negeri ini.
Ada peristiwa besar di sana. Ada cerita yang harus disampaikan kepada publik. Saya bisa membayangkan semangat lima wartawan itu ketika berangkat. Mereka mungkin sudah menyusun rencana pengambilan gambar, menentukan sudut video, membayangkan pertanyaan, dan memikirkan cara tercepat mengirimkan hasil liputan.

Dalam foto dan video sebelum keberangkatan, wajah mereka tampak ceria. Begitulah wartawan ketika mencium berita bagus. Rasa lelah sering datang belakangan. Jam kerja tidak lagi dihitung. Malam, dini hari, hujan, panas, jalan rusak, laut bergelombang, hutan, gunung, semuanya dijalani. Bukan karena wartawan mengabaikan keselamatan. Bukan pula karena mereka tidak memahami bahaya. Ada dorongan kuat untuk menjadi mata dan telinga bagi orang-orang yang tidak berada di lokasi. Ada kepuasan ketika tulisan dibaca, suara didengar, foto dilihat, dan video ditonton masyarakat. Kebahagiaan semacam itu sulit dihitung dengan angka. Hanya orang yang pernah menjalaninya yang benar-benar memahami rasanya. Tetapi mereka tetap berangkat.
Saya juga pernah mengikuti pelatihan peliputan bencana alam, kecelakaan industri, kerusuhan, konflik antarkelompok, dan demonstrasi. Kami diajarkan mengambil posisi, membaca situasi, menyiapkan perbekalan, mendekati narasumber, serta mengenali batas antara keberanian dan keselamatan. Sebab wartawan memang harus mendekati peristiwa. Namun, ia juga harus pulang untuk menceritakannya.
Sampai sekarang kita belum mengetahui apa yang terjadi kepada lima wartawan itu. Kita belum tahu apakah mereka mengalami kendala dalam perjalanan atau menghadapi sesuatu ketika mendekati kawasan Anak Krakatau.
Kita hanya tahu pemerintah telah menetapkan batas aman tiga kilometer. Kita juga percaya para wartawan dan nakhoda memahami laut, gunung api, serta risiko perjalanan yang mereka tempuh. Kini setiap jam terasa panjang bagi keluarga mereka. Telepon genggam menjadi benda yang paling sering dipandang. Setiap kabar ditunggu. Setiap suara di depan rumah menyalakan harapan.
Semula lima wartawan itu berangkat untuk membawa pulang berita eksklusif. Sekarang, berita eksklusif itu tidak lagi penting. Kita tidak sedang menunggu foto letusan. Tidak menunggu rekaman Anak Krakatau. Tidak pula menunggu cerita tentang perjalanan menembus laut demi sebuah liputan.
Kita hanya menunggu mereka. Menunggu lima wartawan itu kembali, memeluk keluarga, masuk kantor lagi, bercanda dengan teman-temannya, lalu duduk minum kopi bersama komunitas wartawan.
Kelak, biarlah mereka sendiri yang menceritakan perjalanannya.
Untuk hari ini, berita terbaik yang ingin kita dengar hanya satu: Mereka ditemukan dalam keadaan selamat. (*)

