SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Ancaman El Niño yang diprediksi masih berlangsung hingga Oktober 2026 mulai mengubah kalender pertanian di Banten.
Musim tanam petani diperkirakan mundur karena ketersediaan air menjadi semakin terbatas akibat kemarau berkepanjangan.
Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Saiful Bahri, mengatakan kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap tanaman padi yang saat ini berada di lahan, tetapi juga berpotensi menggeser jadwal musim tanam berikutnya.
“Info BMKG ada penambahan El Niño sampai bulan Oktober. Pasti masa tanam mereka akan mundur, pasti ke triwulan satu, yaitu periode Oktober-Maret. Biasanya kita kenal dengan tiga musim tanam, tahun ini dua kali,” kata Saiful, Kamis 10 September 2026.
Menurut Saiful, ketersediaan air menjadi faktor utama yang menentukan apakah petani dapat kembali mengolah sawahnya. Petani yang memiliki akses terhadap jaringan irigasi masih dapat melakukan penanaman, sedangkan sawah yang bergantung pada air hujan harus menunggu kondisi lebih memungkinkan.
“Tergantung irigasinya atau ketersediaan air. Kalau yang ada irigasi, sebagian sudah tanam,” ujarnya.
Kondisi tersebut terlihat di kawasan Kasemen, Kota Serang. Petani yang memiliki akses terhadap jaringan irigasi sudah mulai menggarap lahan untuk musim tanam berikutnya.
“Karena pada prinsipnya petani kalau ada air, pasti mengolah lahan,” kata Saiful.
Dinas Pertanian Banten pun menyiapkan sejumlah langkah untuk menyesuaikan kalender tanam dengan kondisi iklim dan ketersediaan air. Salah satunya dengan mengarahkan penanaman di wilayah yang memiliki sumber air memadai.
Selain itu, petani dianjurkan menggunakan varietas benih yang lebih toleran terhadap kekeringan. Pemerintah juga menyiapkan dukungan berupa irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, perbaikan jaringan irigasi, hingga bangunan konservasi.
Dengan ancaman El Niño yang masih berlangsung, pemerintah daerah mendorong petani tidak memaksakan penanaman di wilayah yang belum memiliki kecukupan air. Penyesuaian kalender tanam dinilai penting untuk mencegah risiko gagal panen semakin besar.
Editor Daru

