CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Momentum September kembali menjadi ruang bagi berbagai elemen masyarakat untuk menyampaikan kritik terkait persoalan sosial, ekonomi, hukum, hingga demokrasi.
Ketua Jaringan Demokrasi Banten Syaeful Bahri mengajak mahasiswa, aktivis, buruh, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta kelompok masyarakat sipil menyampaikan aspirasi secara kritis tanpa mengarah pada tindakan anarkis.
Menurut Syaeful, momentum yang kerap dikaitkan dengan istilah “September Hitam” tersebut dapat menjadi ruang refleksi sekaligus kesempatan memperkuat demokrasi melalui kritik yang cerdas, santun, konstitusional, dan bertanggung jawab.
“September tidak harus berakhir dengan aksi anarkis. Mari kita jadikan September sebagai momentum untuk menyampaikan kritik secara cerdas, santun, dan konstitusional,” ujar Syaeful Bahri, Kamis, 10 September 2026.
Ia menilai kebebasan menyampaikan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Mahasiswa, aktivis, buruh, dan masyarakat memiliki hak untuk berbeda pendapat, menyampaikan aspirasi, termasuk turun ke jalan.
Namun, kebebasan tersebut, kata Syaeful, harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab menghormati hak masyarakat lain dan menjaga ketertiban umum.
“Boleh kritis, boleh berbeda, bahkan boleh turun ke jalan. Tetapi tetap santun, tertib, dan damai serta tidak merugikan masyarakat,” tegasnya.
Syaeful mengingatkan agar penyampaian aspirasi tidak menimbulkan persoalan baru. Aksi yang mengganggu fasilitas umum, aktivitas ekonomi, pelayanan publik, maupun kepentingan masyarakat luas dinilai dapat mengaburkan substansi aspirasi yang disampaikan.
Karena itu, ia mendorong masyarakat, khususnya generasi muda dan kaum intelektual, mengedepankan gagasan, data, argumentasi, serta solusi dalam menyampaikan kritik.
“Intelektual muda diukur bukan dari seberapa keras berteriak, tetapi seberapa cerdas menawarkan perubahan,” katanya.
Menurutnya, kritik yang disampaikan secara konstruktif dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kehidupan demokrasi. Perbedaan pandangan juga, kata dia, tidak seharusnya diperlakukan sebagai ancaman.
Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Syaeful mengajak masyarakat Banten menjadikan September sebagai momentum untuk membangun demokrasi yang lebih dewasa dan menjaga persatuan.
“Mari kita buka lembaran baru. Bangun demokrasi yang dewasa, jaga persatuan, dan jadikan perbedaan sebagai kekuatan,” ujarnya.
Ia menegaskan, demokrasi membutuhkan keberanian untuk bersuara sekaligus kedewasaan dalam menghormati hak orang lain.
“Kritis tanpa anarkis. Berani tanpa arogan. Bergerak tanpa merugikan rakyat,” pungkas Syaeful.
Reporter: Adam Fadillah – Editor: Aas Arbi

