Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University membawa ilmu kefarmasian lebih dekat ke masyarakat melalui rangkaian Praktik Farmasi Sosial (PFS) di Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Selama 14 hari, pada 3–18 Agustus 2026, mahasiswa Kelompok 28 melaksanakan berbagai kegiatan edukasi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan pelayanan kesehatan yang menyasar anak-anak, masyarakat umum, orang tua, hingga kader Posyandu.
Mengusung tema “Optimalisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) melalui Edukasi Kesehatan, Deteksi Dini, dan Penguatan Perilaku Hidup Sehat”, kegiatan ini menunjukkan bahwa peran mahasiswa Farmasi tidak hanya berkaitan dengan obat, tetapi juga mencakup upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat.
Praktik Farmasi Sosial Kelompok 28 melibatkan Prof. Dr. Apt. Aprilita Rina Yanti Eff, M.Biomed. bersama mahasiswa Alfin Ardiansyah, Cindy Merliana Noviani, Rabina Yuliani Putri, Natasha Dajanicqe Thaxter, Nabila Adzahrah Putri, Nadya Bella Ariska, Kayla Aulia, Nadya Setia Effendi, dan Astri Ratna Sari Ndruru.
Beragam kegiatan dilaksanakan berdasarkan kebutuhan masyarakat, mulai dari edukasi Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), pemilihan jajanan sehat, pembuatan hand sanitizer, penggunaan antibiotik secara bijak, pencegahan bullying, program Apoteker Cilik, pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), hingga keterlibatan mahasiswa dalam pelayanan Posyandu.
Praktik Farmasi Sosial merupakan kegiatan intrakurikuler yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan ilmu dan keterampilan kefarmasian yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi kesehatan, tetapi juga belajar memahami kebutuhan masyarakat, membangun komunikasi, bekerja sama dengan berbagai pihak, serta menyampaikan pengetahuan dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter sasaran.
Membiasakan Perilaku Hidup Sehat Sejak Dini
Rangkaian kegiatan dimulai pada 4 Agustus 2026 di SDN Tugu Utara 07 melalui edukasi mengenai Cuci Tangan Pakai Sabun dan pemilihan jajanan sehat bagi siswa kelas 2. Mahasiswa mengajak siswa mengenali pentingnya menjaga kebersihan tangan, mengetahui waktu yang tepat untuk mencuci tangan, serta memahami langkah-langkah mencuci tangan yang benar. Siswa juga diperkenalkan pada cara memilih jajanan dengan memperhatikan aspek kebersihan, keamanan, dan nilai gizi. Agar materi lebih mudah dipahami, edukasi dilakukan secara interaktif melalui tanya jawab dan praktik enam langkah mencuci tangan. Pendekatan tersebut mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Selanjutnya, pada 6 Agustus 2026, kegiatan dilaksanakan bersama masyarakat di RPTRA Permata melalui demonstrasi pembuatan dan peracikan dasar hand sanitizer berbahan alkohol 70%, sereh, dan jeruk nipis. Peserta tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi juga mendapatkan kesempatan mengikuti praktik dengan pendampingan dari mahasiswa.
Edukasi Penggunaan Antibiotik secara Bijak
Kesadaran masyarakat terhadap penggunaan obat menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Praktik Farmasi Sosial Kelompok 28. Pada 8 Agustus 2026, mahasiswa melaksanakan penyuluhan mengenai penggunaan antibiotik secara bijak dan pencegahan resistensi antibiotik di RPTRA Permata.
Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. Apt. Aprilita Rina Yanti Eff, M.Biomed. sebagai dosen pemateri. Masyarakat diajak memahami pentingnya menggunakan antibiotik sesuai resep dan anjuran tenaga kesehatan. Edukasi juga menekankan pentingnya menghindari kebiasaan membeli antibiotik tanpa resep, menggunakan antibiotik sisa, maupun tidak mengikuti aturan penggunaan yang telah diberikan.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui diskusi dan tanya jawab. Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti post-test sebagai bagian dari evaluasi pemahaman terhadap materi yang telah diberikan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa penggunaan antibiotik secara tepat merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan sekaligus mencegah risiko resistensi antibiotik.
Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Aman
Perhatian terhadap kesehatan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Pada 10 Agustus 2026, mahasiswa Kelompok 28 kembali hadir di SDN Tugu Utara 07 untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan bullying kepada siswa kelas 5. Siswa diperkenalkan pada pengertian dan berbagai bentuk bullying, dampaknya terhadap korban, serta langkah yang dapat dilakukan ketika mengalami maupun melihat tindakan tersebut. Melalui aktivitas “Pohon Pengalaman”, siswa diajak menuliskan pengalaman, perasaan, dan pesan positif mengenai pertemanan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap saling menghargai, kepedulian terhadap sesama, serta keberanian untuk meminta bantuan kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dipercaya ketika menghadapi persoalan.
Mengenalkan Profesi Apoteker melalui Apoteker Cilik
Pada 12 Agustus 2026, mahasiswa melaksanakan program Apoteker Cilik bagi siswa kelas 4 SDN Tugu Utara 07. Melalui kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada profesi apoteker, berbagai tempat kerja apoteker, serta pentingnya penggunaan obat secara tepat dan aman. Mahasiswa juga memperkenalkan sejumlah alat peracikan puyer seperti mortir, stamper, dan kertas puyer. Dalam praktik sederhana, siswa belajar melipat kertas puyer menggunakan bahan yang aman dan bukan obat untuk dikonsumsi.
Kegiatan ini menjadi pendekatan edukatif untuk mengenalkan profesi apoteker kepada anak-anak sekaligus menanamkan pemahaman bahwa obat harus digunakan secara tepat dan tidak boleh dikonsumsi secara sembarangan.
Mengenal Potensi Tanaman Obat Keluarga
Pemanfaatan potensi lingkungan turut menjadi bagian dari rangkaian Praktik Farmasi Sosial. Pada 13 Agustus 2026, Kelompok 28 mengajak masyarakat mengenal Tanaman Obat Keluarga (TOGA) melalui demonstrasi pembuatan minyak herbal berbahan dasar jahe di BKB Greens PAUD 01.
Mahasiswa menjelaskan pemanfaatan jahe sebagai bahan herbal yang memberikan sensasi hangat dan nyaman pada tubuh. Peserta kemudian dilibatkan dalam proses pengemasan minyak herbal yang telah disiapkan dan disaring sebelumnya. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga memberikan penjelasan mengenai penggunaan minyak herbal secara luar dengan cara mengoleskannya pada bagian tubuh yang terasa pegal dan melakukan pijatan secara perlahan.
Masyarakat juga diberikan pemahaman bahwa pemanfaatan bahan herbal tidak dimaksudkan sebagai pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis. Kegiatan ini menjadi bagian dari edukasi mengenai pemanfaatan sumber daya alam secara tepat dan bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar Bersama Kader Posyandu
Rangkaian Praktik Farmasi Sosial berlanjut melalui keterlibatan mahasiswa dalam pelayanan Posyandu pada 14 Agustus 2026 di RW 013 Tegal Kunir I dan RW 018 Beting II. Mahasiswa membantu kader Posyandu dalam proses pendaftaran, penimbangan, pengukuran antropometri, serta pencatatan hasil pemeriksaan. Selain itu, mahasiswa turut memberikan informasi kepada orang tua atau pendamping balita mengenai pentingnya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Keterlibatan langsung dalam pelayanan Posyandu memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk memahami pelaksanaan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Kegiatan tersebut juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara kader Posyandu, orang tua, masyarakat, dan tenaga kesehatan dalam mendukung pemantauan tumbuh kembang anak.
Dari Ilmu Menjadi Aksi Nyata di Masyarakat
Beragam kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa Farmasi Kelompok 28 menunjukkan bahwa penerapan ilmu kefarmasian di tengah masyarakat memiliki ruang yang luas. Edukasi kebersihan, penggunaan antibiotik secara tepat, kesehatan lingkungan sosial, pengenalan profesi apoteker, pemanfaatan tanaman herbal, hingga pemantauan pertumbuhan anak merupakan bagian dari pendekatan promotif dan preventif dalam mendukung kesehatan masyarakat. Bagi mahasiswa, Praktik Farmasi Sosial menjadi ruang untuk menerjemahkan pengetahuan akademik ke dalam bahasa dan kegiatan yang lebih mudah dipahami masyarakat.
Mahasiswa juga memperoleh pengalaman langsung dalam membangun komunikasi, memahami permasalahan di lapangan, serta bekerja sama dengan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan. Sementara bagi masyarakat, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Rektor Universitas Esa Unggul, Dr. Ir. Arief Kusuma Among Praja, ST., MBA., IPU., ASEAN Eng., menekankan bahwa pengalaman belajar di perguruan tinggi perlu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan kompetensi akademiknya dalam menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Menurutnya, kegiatan seperti Praktik Farmasi Sosial menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena mahasiswa tidak hanya mengembangkan pemahaman akademik, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memahami persoalan di lapangan, serta membangun kepedulian sosial.
“Pendidikan tinggi harus mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata di masyarakat. Melalui pengalaman belajar secara langsung, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar bagaimana pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki dapat memberikan manfaat serta kontribusi bagi lingkungan sekitarnya,” ujar Rektor.
Ia menambahkan bahwa pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa agar mampu menjadi lulusan yang memiliki kompetensi akademik sekaligus kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, Praktik Farmasi Sosial tidak hanya menjadi bagian dari proses pembelajaran akademik, tetapi juga menjadi jembatan yang mempertemukan ilmu pengetahuan, mahasiswa, dan masyarakat.
Dari kampus, ilmu dibawa untuk memberikan manfaat di tengah masyarakat. Sebaliknya, dari masyarakat, mahasiswa memperoleh pengalaman penting dalam membangun kepekaan sosial dan mempersiapkan diri sebagai calon tenaga kefarmasian yang komunikatif serta mampu memberikan kontribusi nyata.
Melalui pembelajaran yang terhubung dengan kebutuhan masyarakat, Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi akademik sekaligus kepedulian sosial. Kegiatan Praktik Farmasi Sosial menjadi salah satu wujud pembelajaran yang membawa mahasiswa melampaui ruang kelas, menghubungkan ilmu dengan persoalan nyata, serta memperkuat kontribusi generasi muda dalam mendukung masyarakat yang lebih sehat.

