Ini cerita beberapa tahun lalu di sebuah perumahan di Kota Serang. Jadin (39), bukan nama sebenarnya, yang berprofesi sebagai pengusaha sembako hidup dengan perekonomian yang serba kecukupan. Wajarlah, selain berdagang, ia anak juragan sawah. Sedang sang istri, sebut saja Onah (35) hanya berasal dari keluarga biasa. Berstatus sebagai orang kaya, Jadin merasa punya penghargaan lebih di mata masyarakat. Hingga suatu hari, datanglah wanita cantik asal Bandung yang merantau ke Serang. Sebut saja Mona (25).
Memanfaatkan situasi untuk kepentingan hati, setiap Mona lewat depan tokonya untuk pulang, Jadin sering menawarkan diri mengantar ke rumah, ngakunya ikhlas lillahi ta’ala membantu, eh ternyata malah ngajak jalan berdua. Duh, dasar nih Kang Jadin, baru saja kenalan, sudah berani antar pulang. Ya, namanya juga kucing, kalau dikasih ikan, pasti meraunglah dia.
Seperti diceritakan Onah, peristiwa itu terjadi ketika ia berusia 28 tahun dan Jadin 30 tahun. Onah mengaku, Jadin memang termasuk lelaki karismatik. Sikapnya yang kalem lengkap dengan jiwa solidaritas tinggi, membuatnya mabuk kepayang. Katanya nih ya, dahulu sewaktu muda, Onah tidak merespons sikap Jadin yang diam-diam menaruh hati padanya. Hal itu dilakukan lantaran Onah sudah ada yang punya. Namun, setelah sekian bulan Jadin tak pernah gentar meski sudah diancam kekasihnya, yang namanya wanita, pasti luluh. Selain karena tampan, jelas Jadin juga jauh lebih mapan. Oalah.
“Duh, ya kalau dibilang jahat sih ya jahat. Tapi, mau bagaimana lagi, yang nama wanita mah harus realistis dalam memilih lelaki!” kata Onah. Duh teganya!
Onah memang termasuk wanita yang memiliki paras di atas rata-rata. Dibandingkan dengan teman-temannya, ia selalu terlihat paling cantik. Kulit putih dengan wajah nan ayu, membuat Onah kerap jadi bahan obrolan lelaki di kampungnya. Setiap lewat tongkrongan, tak ayal siulan-siulan gombal selalu muncul untuk dirinya. Kayak burung dong Teh! Hehe.
Merasa sama-sama cocok, akhirnya Jadin melamar Onah. Dengan senyum semringah, Onah beserta keluarga menerima lamaran sang lelaki. Bagai sepasang merpati yang saling memadu kasih, mereka kini menanti saat-saat bahagia menuju jenjang yang lebih tinggi. Tidak butuh waktu lama, dua minggu setelah lamaran, berlangsunglah pesta pernikahan. Mereka saling menaut janji sehidup semati.
Awal pernikahan, Jadin termasuk suami yang baik. Urusan sandang, pangan, dan papan mereka sudah tercukupi. Semua kebutuhan rumah tangga sudah disiapkan oleh keluarga sang lelaki. Meski hidup dengan segala kemudahan, Jadin tidak berleha-leha menikmati kekayaan. Selayaknya suami pada umumnya, ia bekerja mencari nafkah untuk istri tercinta. Akhirnya jadilah ia seorang pengusaha sukses kampungnya.
Namun apalah daya, yang namanya cobaan hidup pasti selalu ada. Meski usaha maju dan hidup sejahtera, pada kenyataannya Jadin belum bisa setia pada sang istri tercinta. Siang itu entah karena masalah apa, Jadin memecat salah satu karyawannya tanpa sebab.
Padahal, karyawan yang dipecat merupakan orang yang paling lama bekerja di tokonya. Apalah daya, Onah sebagai istri tak bisa berbuat banyak. Menerima keputusan suami sepenuhnya, ia hanya diam tak bertindak. Sehari dua hari, semua masih aman terkendali.
Hingga seminggu kemudian, ketika Onah belanja ke pasar, tak sengaja ia bertemu sang mantan karyawan. Menunjukkan sikap ramah dan sopan, tentu Onah menanyakan kabar dan kesibukan sang mantan pekerjanya. Setelah ngobrol panjang, Onah pamit pulang. Namun, ketika hendak pergi sang mantan karyawan membisiki hal yang membuat Onah resah. Aih, ngomong apa dia, Teh?
“Teteh harus sabar sama Kang Jadin, dijagain jangan sampai pindah ke wanita lain,” begitu kata sang mantan karyawan kepada Onah.
Bagai terbakar api amarah, Onah langsung naik pitam dan mencoba meminta kejelasan maksud dari ucapan itu. Saat itulah muncul nama Mona, wanita cantik perantau asal Bandung. Sang karyawan juga mengaku, ia dipecat Jadin lantaran tak nyaman melihat kelakuan bosnya yang sering menggoda Mona.
“Saat itu saya langsung emosi, Kang. Selama ini saya di rumah enggak pernah tahu kelakuan dia di toko, ternyata suka godain wanita,” tukas Onah. Sabar ya, Teh!
Keesokan harinya, Onah mencoba menunjukkan sikap cemburunya kepada Jadin dengan berbagai cara. Mulai dari memasang wajah cemberut, sampai tega tidak menyediakan kopi di pagi hari. Hanya itu yang bisa dilakukan Onah. Secara, Onah adalah wanita yang tidak berani marah alias takut sama suami.
Hebatnya, mengetahui perubahan sikap sang istri, Jadin menanyakan baik-baik. Saat itulah Onah mengutarakan unek-uneknya. Lantaran kupingnya panas mendengar laporan tentang kelakuan suami yang suka mengantar wanita lain, ia pun marah dan sempat menitikkan air mata. Anehnya, melihat sang istri mewek, Jadin bisa menjawab keluhan Onah dengan nada biasa.
“Wajarlah namanya juga baru dipecat, pasti dia ngomong macam-macam dan fitnah saya, sudah lupain saja,” kata Onah meniru omongan Jadin.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Seolah semua skenario sudah diatur oleh Tuhan, lagi-lagi keesokannya Onah kembali dipertemukan dengan sang mantan karyawan. Singkat cerita, dipertemukanlah Onah dengan Mona. Meski awalnya sempat emosi, Onah langsung luluh ketika Mona meminta maaf sambil mencium punggung lengan Onah.
Diceritakanlah kalau Mona sering digoda Jadin. Ia mengaku tak nyaman, parahnya Jadin sempat mengajaknya jalan berdua saat malam Minggu, tetapi Mona menolak. Bagai gunung merapi aktif, Onah langsung naik pitam. Ia pamit pulang dan menemui suaminya di toko.
Keributan pun tak dapat dihindari. Beruntung, rumah tangga mereka tak sampai bubar. Jadin meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi perbuatan menggoda wanita lain lagi.
Oalah. Ya, semoga rumah tangga Teh Onah dan Kang Jadin terus langgeng sampai akhir hayat! Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)








