Berkata jujur tentang keadaan sesungguhnya tanpa ada yang ditutup-tutupi, seharusnya sudah menjadi kewajiban setiap pasangan sebelum melangsungkan pernikahan. Hal itulah yang menjadi pelajaran berharga pasutri Pe’i (45) dan Meli (43), keduanya nama samaran.
Katanya, ketika Pe’i berusia 29 tahun dan Meli 27 tahun, mereka sempat mengalami peristiwa menegangkan, yang bisa membuat rumah tangga berantakan. Penasaran bagaimana peristiwa itu terjadi? Silakan simak cerita di bawah ini.
Seperti diceritakan Pe’i, sewaktu muda ia terbiasa hidup keras banting tulang demi menambah penghasilan orangtua. Terlahir dari keluarga sederhana, ayah pekerja bangunan dan ibu berkebun, Pe’i yang besar di salah satu kampung di Kabupaten Tangerang, tumbuh menjadi pemuda pekerja keras dan pantang mengeluh.
Meski begitu, mungkin karena faktor keturunan, Pe’i memiliki tubuh kecil tapi lincah. Kalau dilihat dari cara berbicara lengkap dengan senyum hangatnya, anak kedua dari lima bersaudara itu tampak ramah dan bersahaja. Ditemui wartawan di salah satu pasar di Kota Serang, Pe’i bercerita tentang kisah rumah tangga yang sempat didera masalah.
Lain Pe’i lain pula dengan Meli. Wanita yang tinggal di kampung sebelah dari rumah Pe’i itu memiliki paras cantik. Pe’i mengaku, sang istri sebenarnya terlahir dari keluarga berada. Ayah punya banyak sawah dan tanah, ibu juga mempunyai bisnis warung sederhana, anehnya, seolah memang tak tertarik dengan gemerlap kehidupan dunia, Meli berpenampilan sederhana. Anak terakhir dari tiga bersaudara itu menjadi anak kesayangan orangtua.
Singkat cerita, mungkin sudah jodoh dari yang maha kuasa, hubungan pertemanan kedua orangtua, menjadi jalan menuju pelaminan. Berawal dari obrolan santai, ide menikahkan kedua anak mereka pun menjadi rencana serius yang wajib diwujudkan.
Tak menunggu waktu lama, segala persiapan diatur orangtua, Pe’i dan Meli pun melangsungkan resepsi lamaran. Hebatnya, mereka langsung merasa nyaman dan mencintai satu sama lain. Dua bulan kemudian, pernikahan pun dilaksanakan. Mengikat janji sehidup semati, Pe’i dan Meli resmi menjadi sepasang suami istri.
Di awal pernikahan, dengan situasi yang baru saling mengenal, Pe’i dan Meli lebih banyak diam seolah ingin menjaga perasaan satu sama lain. Meski begitu, dengan sikap lembut dan kalemnya, Pe’i mampu mengontrol sang istri menjadi wanita yang manut pada suami.
Beruntung, Meli juga termasuk perempuan yang tidak neko-neko. Asal bisa menerima dan menyayangi, ia akan baik dan melayani suami setulus hati. Ibarat sepasang raja dan permaisyuri, rumah tangga mereka rukun bersahaja. Dengan segala fasilitas orangtua, keduanya hidup bahagia.
Tak terasa, berjalan dua tahun usia pernikahan, lahirlah anak pertama membuat hubungan mereka semakin mesra. Kedua keluarga pun tampak bergembira menyambut kehadiran sang bayi laki-laki lucu anak Meli. Hebatnya, seolah meresapi betul pepatah banyak anak banyak rezeki. Dengan kehadiran sang bayi, Pe’i mendapat pekerjaan sebagai karyawan di salah satu pabrik sepatu tak jauh dari rumah.
“Ya alhamdulillah, Kang. walau upahnya enggak seberapa, ya minimal saya enggak nganggur,” ungkap Pe’i.
Meski di awal-awal sempat merasa tak nyaman, Pe’i tak patah semangat. Ia tetap beryukur dan menjalani tugasnya dengan baik. Dan berkat keuletan serta sikap pantang menyerah, Pe’i disenangi bosnya, perlahan upahnya pun meningkat. Ia bisa membeli sesuatu untuk istri dan mertua. Widih, ngebeliin apa, Kang?
“Ya biasalah, kalau gajian saya bawa makanan. Kadang beli pakaian tapi ya yang biasa. Soalnya buat nabung pengin beli rumah, Kang,” curhat Pe’i.
Namun yang namanya menumpang di rumah mertua, ditambah menikmati hidup berkecukupan, nyatanya mereka tak bisa lepas dari masalah. Dengan segala fasilitas yang ada, di tahun keempat pernikahan, Pe’i dan Meli mendapat cobaan yang bisa berakibat fatal. Wih, kenapa tuh, Kang?
Di suatu malam sepulang bekerja, Pe’i tersenyum sumringah sambil menghitung uang gajian di tangannya. Dalam pikirannya, sang istri pasti senang mengingat, selama ini uang yang diberikan selalu terpakai untuk keperluan. Soalnya, meski hidup tercukupi, Pe’i dan Meli tak pernah bisa menabung apalagi membelu barang-barang kesukaan hati.
Dari depan rumah, ia melihat banyak kendaraan diparkir. Saat melihat anak kecil lucu yang tak lain ialah anak dari kakak sang istri, Pe’i sadar kalau keluarga besar Meli sedang bertamu. Lantaran pintu sudah terbuka lebar, Pe’i masuk tanpa mengucap salam.
Dari ruang depan, ia tak sengaja mendengar obrolan serius keluarga Meli di ruang tengah. Saat itulah Pe’i merasa seolah kehadirannya tak dianggap. Parahnya, mereka membicarakan hal yang sangat sensitif. Emosi Pe’i tak tertahankan ketika sang ibu mertua menyebut-nyebut namanya. Aih, pada ngomongin apa sih, Kang?
“Ternyata selama ini istri tuh punya uang simpanan. Dia enggak pernah cerita ke saya. Kata ibunya, disimpen baik-baik, jangan kasih tahu suami dulu, takut dipakai dan malah habis,” curhat Pe’i.
Saat itu juga, tanpa berkata apa-apa, dengan napas yang mulai tak beraturan, Pe’i melangkah pergi. Sang istri yang mengetahui kepergian suami, berulang kali memanggil, namun Pe’i terlanjur sakit hati. Ia pulang ke rumah orangtua.
Keesokannya, Meli datang membawa anaknya. Saat itu Pe’i meminta tinggal di bersama orangtua. Meli menolak, ia tak mau dengan alasan rumah suami jauh dari pasar dan jalan utama. Tak hanya itu, kalau dibandingkan, tentu kondisinya jauh lebih layak rumah Meli. Apa mau dikata, keributan pun terjadi.
Setelah dirundingkan bersama keluarga, lantaran tak ada yang mau mengalah, Pe’i dan Meli sempat pisah rumah. Pe’i tinggal di rumah orangtuanya, sesekali datang menjenguk istri dan buah hati. Sampai suatu ketika, mungkin merasa bersalah, Meli meminta maaf dan menceritakan semuanya. Mereka kembali tinggal bersama.
Ya ampun, makanya lain kali harus jujur Teh ke suami. Susah senang bersama. (daru-zetizen/zee)









