Epah (38), nama samaran, termasuk orang saklek terhadap suaminya, sebut saja Parjo (39). Epah sempat mengusir Parjo dari rumah meski baru sebatas menggoda saja terhadap perempuan lain. Ow ow ow, sadis ya.
“Masalahnya suami saya itu godain janda yang tak lain teman dekat saya, gimana enggak marah,” kesalnya. Oh, pantas saja.
Gara-gara peristiwa itu, rumah tangga Epah hampir bubar. Peristiwa itu terjadi lima tahun lalu. Ditemui Radar Banten di Kecamatan Bojonegara, Epah siang itu sedang sibuk mengasuh anaknya di depan rumah. Epah pun tak sungkan berbagi pengalaman suka dukanya dalam rumah tangga.
“Bukan maksud ngejelekin suami ya, tapi ini supaya jadi pelajaran buat para lelaki,” tukasnya. Iya sih, percaya.
Diceritakan Epah, perjumpaan dengan Parjo terjadi di rumah kontrakan milik temannya. Waktu itu teman Epah sedang merayakan ulang tahun. Epah yang bertemu dengan Parjo di acara itu langsung terbawa suasana asyik bercanda meski keduanya belum saling kenal. Setelah acara tiup lilin dan makan-makan, barulah keduanya dikenalkan teman yang ulang tahun.
Usai berkenalan, terjadi chemistry di antaranya keduanya. Sampai akhirnya, usai acara, Parjo menawarkan mengantar Epah pulang dengan motornya. “Dia sih memang orangnya baik dan peduli banget ke teman,” pujinya. Jangan menilai dulu orang dari luar, Mbak.
Epah mengaku, suka dengan Parjo karena penampilannya yang sederhana dan apa adanya, selain memang wajah Parjo lumayan tampan. “Orangnya bisa menyesuaikan keadaan, enggak macam-macam gitu,” katanya. Puji terus.
Epah tak kalah menawan. Meski sekarang badannya sudah melar, pengakuan Epah dulu badannya ramping dan ideal. Meski begitu, saat ini ibu dua anak itu sosoknya masih terlihat muda. Sikapnya juga ramah dan murah senyum.
Singkat cerita, keduanya semakin intens berkomunikasi dan bertemu. Setiap malam Minggu, Parjo tak pernah ketinggalan untuk datang ke rumah Epah sampai akhirnya mereka jadian. Parjo yang waktu itu sudah bekerja di pabrik dan merasa sudah ada kecocokan, tidak berlama-lama untuk melamar Epah. Tiga bulan kemudian mereka menikah dengan pesta cukup meriah. Untuk sementara keduanya tinggal di rumah orangtua Epah.
Rumah tangga mereka pun harmonis. Rona kebahagiaan semakin terpancar pada wajah Epah ketika Parjo membelikannya rumah. Ditambah, sejak tinggal di rumah baru, sikap Parjo semakin aktif dan terbuka. “Mas Parjo juga makin aktif di atas ranjang,” bebernya.
Setahun kemudian, mereka dikaruniai anak. Kehidupan Parjo dan Minah semakin berwarna. Situasi mulai berubah di tahun keempat pernikahan. Sikap Parjo berubah jadi ganjen, nakal, suka mengoda perempuan. “Padahal orangnya enggak ada tampang-tampang nakal,” aku Epah. Yang begitu justru yang bahaya, Mbak.
Epah semakin geram ketika mendengar celotehan temannya soal Parjo yang mulai suka menggoda janda setiap kali lewat depan rumah. Mendengar gosip itu, Epah langsung naik pitam dan menangis sejadi-jadinya. “Yang suka digodain itu teman saya, statusnya janda. Sakit hati rasanya tahu kelakuan suami begitu,” kesalnya.
Ketika Parjo pulang kerja, Epah langsung melemparkan koper dan pakaian Parjo keluar rumah. Epah mengusir suaminya sambil teriak-teriak menunjukkan kemarahan. Menyadari kesalahannya, Parjo tidak berkutik dan langsung pergi dari rumah. Seminggu lebih Parjo menumpang tidur di kontrakan temannya sebelum akhirnya pulang kembali ke rumah untuk meminta maaf kepada Epah.
“Ya sudahlah. Saya kasih kesempatan kedua. Tapi kalau dia begitu lagi, saya bakal langsung minta cerai,” ancam Epah.
Sejak kejadian itu, Parjo berubah dan tak lagi menggoda perempuan. Rumah tangga keduanya pun kembali harmonis hingga dikaruniai dua anak. Yassalam. (mg06/zai/ira)









