Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten terus berinovasi untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan membudayakan literasi di Banten. Berbagai model layanan gencar dilaksanakan Perpusda, mulai dari layanan perpustakaan berbasis teknologi komunikasi untuk mengakses literasi referensi ke perpustakaan. Artinya, masyarakat bisa datang langsung atau berkunjung melalui online. Tercatat, Perpusda sudah mempunyai 158 ribu koleksi buku termasuk koleksi di Banten Corner, serta 15 ribu koleksi buku elektronik.

Banyak kegiatan DKP untuk mendorong minat baca masyarakat, mulai dari sistem jemput bola, sistem silang layan perpustakaan peminjaman buku kepada masyarakat sampai 300 judul, termasuk pelatihan SDM. “Masyarakat tinggal menyediakan tempat, buku kita drop kita olah, setiap 3 bulan sekali dirolling, silakan milih judul lain, ganti bukunya, itu menjadi salah satu layanan,” paparnya.
Tak sampai di situ, DPK Banten juga rutin pergi ke tengah-tengah masyarakat menggunakan mobil perpustakaan keliling untuk membangitkan minat baca masyarakat, sosialisasi literasi, literasi berbasis inklusi sosial mendiskusikan buku lifeskill kepada komunitas membahas buku keterampilan. Pihaknya juga menggelar roadshow literasi berdiskusi dengan masyarakat. Pekan lalu di Banten Lama di balai desa. “Masyarakat sepakat menjadikan desanya sebagai desa cerdas. Bahkan, akan menyediakan pojok baca di rumahnya masing-masing,” ujarnya.

Pihaknya juga rutin menggelar acara bedah buku, lomba mendongeng, serta lomba lainnya untuk memotivasi dan membangkitkan minat baca. Akhir tahun ini, pihaknya kembali berinovasi menggelar Festival Literasi bekerja sama dengan Radar Banten. Ajak juga mengapresiasi Radar Banten yang mempunyai program Radar Banten goes to School, dimana siswa diajak membaca koran di sekolah sebagai bagian dari pembinaan literasi.

Pustakawan Perpusda Banten Ashabul Kahfi menilai, secara umum minat baca dan budaya literasi di Banten tinggi dan terus mengalami peningkatan setiap tahun. Bahkan yang mangakses bacaan juga ke Perpusda tinggi, per hari tak kurang dari 500 orang. Berkembangnya teknologi berpengaruh terhadap minat baca masyarakat. Lantaran itu, keluarga harus menjadi media utama pembelajaran di rumah, karena faktor lingkungan sangat mempengaruhi rendahnya minat baca masyarakat. Minimal orangtua mengenalkan buku kepada anak, termasuk membacakan dongeng setiap hendak tidur, mengajak wisata edukasi ke perpustakaan sejak dini, membiasakan bercerita atau mengajak anak membaca buku setiap hari di rumah saat senggang, selain berkunjung ke perpustakaan minimal seminggu sekali sebagai rekreasi edukatif. “Budayakan kembali tradisi lisan mendongeng kepada anak setiap mau tidur, bercerita sama dengan membudayakan literasi,” terangnya.
Untuk menggairahkan kembali minat baca dan budaya literasi, pihaknya juga mempunyai program Reader Award pada peringatan hari buku nasional dan hari kunjung perpustakaan mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, mahasiswa, dan umum. Selain itu, sosialisasi gemar membaca, mrmpromosikan dan kampanye di sekolah berinteraksi dengan siswa langsung memotivasi mereka agar mau membaca. Kegiatan yang sedang berjalan saat ini dengan Ibu-ibu PKK, mulai dari sosialisasi minat baca, parenting, serta roadshow ke daerah binaan melibatkan orangtua, selain Bookfair yang rutin setiap tahun. “Akhir tahun ini kita akan mengadakan Festival Literasi untuk meningkatkan minat baca dan membudayakan literasi,” ungkapnya.

Salah satu pengunjung Perpusda, Iin Inayatu Ummah dari Kecamatan Kragilan mengaku rutin berkunjung satu pekan sekali untuk meningkatkan minat baca anaknya. “Sekarang anak saya gemar membaca tanpa harus disuruh. Alhamdulillah, saya punya koleksi buku di rumah untuk anak supaya gemar membaca. Saya juga masih suka baca dongeng buat anak sebelum tidur. Jadi Perpusda sangat membantu saya mencerdaskan anak,” ucapnya.
Kampung Dongeng Lestarikan Budaya Baca
Geliat literasi anak juga tumbuh di kalangan kelompok dongeng yang tergabung di gerakan Kampung Dongeng Kota Serang. Gerakan yang di pusatkan di Lingkungan Wakaf, Kelurahan Tembong, Kota Serang itu, biasa melakukan aktivitas dongeng bersama anak-anak sekitar berserta orang tuanya setiap Minggu sore. Selain mendongeng, mereka juga mengajarkan anak-anak membaca, menulis, dan berbagai permainan edukasi.

Kampung Dongeng memiliki jejaring di berbagai wilayah di Indonesia yang jumlahnya sudah mencapai 105 lokasi. Untuk wilayah Provinsi Banten sudah ada di Kota Serang, Tangerang Selatan, dan Cilegon. Gerakan literasi lewat dongeng itu dilakukan lantaran keprihatinan dari komunitas dongeng akan literasi pada anak-anak. Wakil Ketua Kampung Dongeng Kota Serang Neneng Runtase mengatakan, perkembangan literasi pada anak belum begitu familiar. Menurutnya, anak-anak sekarang lebih suka bermain gadget, asyik dengan sosial media dan game online. Padahal, anak -anak semestinya banyak berinteraksi dengan orangtua dan teman-teman sebayanya. “Jadi literasi penting sekali untuk menanamkan moral, menanamkan minat baca anak, dan minat untuk bercerita anak,” tutur Neneng bersama rekan-rekannya saat ditemui tim awak Radar Banten di Lingkungan Wakaf, Kelurahan Tembong, Kota Serang, Kamis (28/11).
Neneng saat itu sedang melakukan aktivitas dongeng. Penuh ceria, puluhan anak-anak dihadapannya tampak terhibur dengan dongeng yang dibawakannya bersama boneka bobu pada tangannya. Selain mendongeng, Neneng juga mengajarkan anak-anak menggambar, membaca buku-buku cerita. Kata Neneng, menanamkan budaya baca anak sejak dini penting untuk membentuk karakter anak.
Alasan dongeng menjadi media penyampai pesan, lanjut Neneng, lebih mudah diterima anak. Menurutnya, dongeng bisa mengembangkan minat baca anak. “Terus kita bisa mengatasi ego mereka, menceriakan mereka, serta menanamkan pesan moral yang luar biasa,” ujarnya.
Selain itu, mendongeng lebih mudah menggali karakter anak. Mereka juga bisa saling mengenalkan anak satu sama lainnya. “Jadi dengan mendongeng kita akan tahu permasalahan anak. Kita bisa tanamkan nilai moral, karakter,” ucapnya.
Selain memberikan edukasi kepada si anak, Kampung Dongeng juga menyasar orang tua dengan mengajak mereka terlibat aktif dalam menanamkan budaya literasi kepada anak. “Peran keluarga sangat penting. Dongeng bukan sekadar pengantar tidur, tetapi pembentuk karakter. Dengan dongeng kita tahu karakter anak. Peran keluarga sangat penting untuk anak-anak,” cetusnya.
Nenang menambahkan, dunia anak adalah dunia bermain. Namun, permainan yang memberikan nilai pendidikan harus lebih diperbesar. “Anak-anak juga harus sering mendengarkan cerita. Jadi untuk bunda, pesankan cerita untuk anak Indonesia,” pesannya. (adv)










