SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Pada September 2024, Banten mengalami deflasi month to month (m-to-m) Provinsi Banten bulan September 2024 sebesar 0,26 persen dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) sebesar 0,78 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Faizal Anwar mengatakan, komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m, antara lain cabai rawit, cabai merah, telur ayam ras, bensin, tomat, jengkol, bawang putih, kentang, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, daun bawang, beras, dan ikan kembung/ikan gembung/ikan banyar/ikan gembolo/ikan aso-aso.
“Sedangkan komoditas yang memberikan andil atau sumbangan inflasi m-to-m pada September 2024, antara lain kopi bubuk, nasi dengan lauk, air kemasan, buah naga, sate, cumi-cumi, kacang panjang, minyak goreng, SPM (Sigaret Putih Mesin-red), bakso mentah, buncis, bubur kacang hijau, dan mie kering instant,” ujar Faizal saat membacakan berita resmi statistik di aula kantor BPS Provinsi Banten, Selasa, 1 Oktober 2024.
Kata dia, beberapa bulan ini, terutama untuk kelompok makanan mengalami deflasi. “Karena ini bisa saja bagian dari penyesuaian harga komoditas yang pada bulan-bulan sebelumnya mengalami kenaikan, sekarang dari upaya yang dilakukan Tim Pengendali Inflasi Daerah bisa menjaga harga di pasaran, sehingga menurun,” terangnya.
Faizal mengungkapkan, Banten sudah mengalami deflasi (m-to-m) selama lima kali pada tahun ini, yakni Januari, Mei, Juni, Juli, dan September ini.
“Memang secara umum, ada yang mengatakan bahwa terjadi deflasi yang terus menerus terulang ada hal yang tidak baik, karena inflasi itu juga sebenarnya menggerakkan ekonomi, ketika orang terangsang untuk memproduksi barang karena meningkatnya permintaan,” ujarnya.
Maka, lanjut Faizal, jika terjadi deflasi bisa saja karena daya beli masyarakat kurang atau mungkin orang yang memproduksinya kurang semangat. “Tapi kita harus melihat banyak faktor, tidak hanya angka inflasi dan deflasi,” ungkapnya.
Kata dia, bisa saja ada faktor lain yang menyebabkan deflasi itu memberikan kesan yang tidak baik. “Karena beberapa deflasi ini terjadi lantaran ada penyesuaian harga yang sebelumnya mengalami kenaikan di Februari, Maret, April, saat ini akan kembali dari sisi harganya, hampir relatif sama dengan bulan sebelumnya,” ujar Faizal.
Ia mengatakan, perlu dilihat lebih lanjut apa penyebab deflasi yang terus menerus. “Apakah memang tidak ada daya beli masyarakat atau upaya dari pemerintah daerah, termasuk panen,” terangnya.
Ketua Tim Kerja Statistik Distribusi dan Harga Statistik BPS Provinsi Banten Bambang Widjonarko mengatakan, inflasi itu kan perubahan harga. BPS membagi inflasi dalam tiga kategori, ada inflasi inti, inflasi barang bergejolak, dan inflasi barang atau komoditas yang diatur pemerintah.
Terkait dengan situasi pergerakan ekonomi, Bambang menyebut hal itu lebih kepada inflasi inti. Lantaran inflasi barang bergejolak adalah infkasi pada komoditas yang memang bergejolak karena musim. “Saat panen harga turun, saat panceklik harga naik. Dan dalam kurun waktu tertentu akan saling meniadakan,” ujarnya.
Kata dia, itu juga merupakan komoditas yang pemerintah coba untuk kendalikan. Sebisa mungkin dikendalikan agar tidak memberatkan masyarakat luas.
“Itu adalah gol dari pengendalian harga. Saat panceklik, pemerintah mengeluarkan pasokan yang ada di mereka untuk membantu masyarakat supaya harga kembali normal,” terang Bambang.
Komoditas yang bergejolak sebagian besar adalah bahan makanan.
Sedangkan untuk inflasi barang atau komoditas yang dikendalikan pemerintah melalui kebijakan, ia mencontohkan adalah harga BBM, biaya masuk sekolah, biaya PDAM, dan lain-lain.
Sedangkan untuk inflasi inti, lanjutnya, adalah komoditas di luar komoditas bergejolak dan komoditas yang dikendalikan pemerintah. “Yang lebih menunjukkan pergerakan perekonomian. Misalnya kenaikan emas secara global, kemudian ada kopi. Itu yang menjadi salah satu acuan untuk melihat potret geliat perekonomian,” ujar Bambang.
Reporter : Rostinah
Editor: Agung S Pambudi











