PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID-Dosen STIA Banten di Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang Ahmad Subhan menyoroti kejadian kasus predator anak yang terjadi di Panti Asuhan Yatim Piatu, Kota Tangerang.
Kasus predator anak di Kota Tangerang diduga terjadi pencabulan atau sodomi terhadap 13 Anak panti asuhan.
Panti asuhan seharusnya menjadi tempat aman dan berlindung bagi anak malahan mengalami pelecehan seksual oleh ketua atau pengasuh panti asuhan.
Dosen STIA Banten Ahmad Subhan mengatakan, turut prihatin atas kejadian yang sangat luar biasa (KLB).
“Apalagi kejadiannya berada di lingkungan Asrama Panti Asuhan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi mereka. Bukan malahan menjadi korban predator anak,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Minggu, 13 Oktober 2024.
Subhan meminta, aparat penegak hukum memberikan hukuman yang setimpal bagi tersangka bilamana terbukti secara hukum.
Serta mengimbau agar orang tua mampu meningkatkan kepercayaan diri anak – anaknya dan mengawasi perubahan perilaku anak.
“Saya mengimbau agar pihak lingkungan juga ikut terlibat dalam upaya perlindungan anak. Sudah saatnya kita tidak tinggal diam,” katanya.
Pasca peristiwa tersebut, Subhan mengatakan, sangat penting untuk penguatan terhadap anak-anak baik secara psikologis, sosial, dan membangun norma dan kesadaran hukum (dalam konteks apa yang dilakukan oleh tersangka merupakan perbuatan salah dan melanggar hukum).
“Sehingga ini tidak menjadi framing pembenaran yang terpatri di pikiran anak agar mereka tidak menjadi korban lagi atau pelaku di kemudian hari,” katanya.
Para korban, saat ini telah mendapatkan pemulihan multi layanan dan dukungan psikososial dari pendampingan Pekerja Sosial, UPTD PPA dan Kementerian Sosial dan Kementerian PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak)
“Karena korban anak memerlukan penanganan yang serius dan komprehensif untuk pemulihan pisik maupun psikis,” katanya.
Lebih lanjut Subhan mengatakan, pentingnya memberikan peringatan dini dalam aspek edukasi terhadap anak. Dengan memberikan pemahaman dan edukasi kepada anak agar menjadi diri sendiri dan berani bercerita.
“Sehingga anak tidak mudah tergiur dengan ajakan atau iming-iming yang tidak tau asal darimana orang yang tidak dikenal maupun dikenal dekat dengan anak,” katanya.
Kemudian mengajarkan tentang pentingnya menjaga anggota tubuh terutama bagian tubuh yang terlarang secara sehat.
“Serta mengajarkan bagaimana berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal, maupun dikenalnya sekalipun. Dan berani menolak atau menghindari perilaku yang beresiko,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Agung S Pambudi











