PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Pandeglang menyebut, metode KB suntik kini menjadi favorit masyarakat terutama ibu-ibu.
Hal itu menunjukan, bahwa program Keluarga Berencana (KB) di Kabupaten Pandeglang menunjukkan yang tren positif.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Pandeglang, Gimas Rahadyan menyatakan peningkatan minat masyarakat didorong oleh sosialisasi rutin pemerintah daerah.
“Saat ini, penggunaan KB bukan lagi program top-down dari pemerintah. Sudah menjadi kebutuhan masyarakat sendiri untuk mengatur jarak kelahiran dan jumlah anak,” katanya, Selasa 11 November 2025.
Menurutnya, masyarakat kini memahami bahwa KB berkaitan langsung dengan kualitas keluarga, terutama gizi, pola asuh, pendidikan, dan kesehatan anak.
“Mereka ingin memberikan perhatian lebih baik bagi anak-anaknya,” ujarnya.
KB suntik menjadi metode paling diminati karena praktis dan tidak memerlukan prosedur medis rumit.
“Cukup dilakukan setiap tiga bulan sekali, sehingga banyak ibu memilih metode ini,” ucap Gimas.
Meski demikian, pihaknya mendorong penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti IUD dan implan karena lebih efektif mencegah kehamilan tidak terencana.
“Metode jangka panjang lebih efisien dan aman. Kami terus edukasi agar masyarakat tidak hanya bergantung pada suntik atau pil,” imbuhnya.
Stok alat kontrasepsi di Pandeglang saat ini mencukupi. Tersedia 32 jenis alat di puskesmas, klinik, dan balai KB, baik MKJP maupun non-MKJP. Distribusi dan pemakaian dipantau melalui Sistem Informasi Keluarga (SIGA).
DP2KBP3A juga berupaya meningkatkan partisipasi pria, antara lain melalui metode Medis Operatif Pria (MOP) atau vasektomi. Namun, minat laki-laki masih rendah akibat anggapan keliru terkait dampaknya.
“Masih ada persepsi negatif bahwa vasektomi bisa mengurangi vitalitas, padahal tidak benar. Kami terus melakukan pendekatan melalui kader, TPK, dan kepala desa,” jelasnya.
Gimas menegaskan, tujuan utama KB bukan sekadar membatasi kelahiran, melainkan memastikan setiap anak memperoleh perhatian dan gizi optimal.
“Dengan jarak kelahiran ideal, orang tua dapat fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan anak, yang menentukan tumbuh kembang mereka,” tuturnya.
Ia menambahkan, sosialisasi KB di Pandeglang terus digalakkan di tingkat desa dan kecamatan.
“Pendekatan berkelanjutan diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat, mewujudkan keluarga yang sehat, sejahtera, dan berkualitas,” tambahnya.
Editor: Bayu Mulyana










