SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menjalin kerja sama dengan World Bank atau Bank Dunia untuk menjalankan program Swasembada Ekonomi Hijau dan Pangan Terintegrasi (Sehati).
Program tersebut dilaksanakan dengan menggandeng berbagai pihak, untuk mewujudkan swasembada pangan di tingkat desa dengan pengembangan potensi pangan lokal desa sekaligus melakukan pemberdayaan masyarakat.
Nantinya, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) akan menjadi motor utama dalam pelaksanaan program tersebut. Setiap desa bisa mendapatkan dana maksimal sebesar Rp2,5 miliar dari Bank Dunia untuk pengembangan pangan lokal di tingkat desa.
Kick off dimulai dari Provinsi Banten dengan menggandeng desa-desa se-Provinsi Banten. Total ada sekitar 600 kepala desa yang hadir pada kegiatan kick off yang dilaksanakan di salah satu hotel di Kecamatan Cikande pada Selasa (30/6).
Selain itu, ada pula penandatanganan kerja sama antara Mendes PDT, Yandri Susanto dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria untuk sinergitas riset mendukung pengembangan masyarakat di desa.
Yandi Susanto, mengatakan dalam pelaksanaan program sehati, pihaknya berupaya menggandeng berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, masyarakat, ormas, asosiasi, unit usaha termasuk bank dunia. “Kita juga menggandeng kampus dan BRIN untuk menciptakan inovasi dan pengembangan teknologi untuk memaksimalkan potensi pangan lokal,” katanya.
Ia mengatakan, program Sehati dijalankan untuk mengangkat potensi-potensi pangan lokal yang ada di desa sekaligus melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar. Dengan begitu, ekonomi masyarakat di desa nantinya bisa ikut terangkat. “Saat ini kita sudah swasembada beras dan jagung, nanti kita juga akan menuju swasembada protein seperti ikan dan lainnya,” ujarnya.
Ia mengatakan, setiap desa diminta untuk memetakan potensi pangan lokal yang bisa dikembangkan. Lalu, mereka diminta untuk membuat usulan mengenai konsep pengembanga potensi pangan tersebut dan diusulkan ke bank dunia.
“Masing-masing desa itu nanti akan beragam sesuai dengan proposal yang mereka ajukan secara rasional dan bisa di pertanggungjawabkan. Jadi pagunya itu maksimal Rp2,5 miliar, jadi bisa mendapatkan di bawah itu sesuai dengan usulan yang dibuat oleh BUMDes. Ini diluar dana desa,” ujarnya.
Melalui program Sehati, produk-produk yang dihasilkan di desa dapat dimaksimalkan potensinya baik dari segi kualitas produk maupun packeging sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi para pelaku usaha di desa.
“Dengan begitu uang yang didapatnya bisa bertambah, lalu juga menyerap tenaga kerja. Disamping itu, kalau kebutuhan lokalnya sudah tercukupi maka kita dorong untuk produk yang dikembangkan bisa diekspor melalui program ekspor,” tegasnya.
Adanya program Sehati diharapkan akan menjadi suksesi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang ke-6 yakni membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi sekaligus memberantas kemiskinan.
Sementara itu, Senior Specialist Development World Bank, Jessica Ludwig Maaroof, menyambut baik atas program kerja sama yang dilaksanakan antara Bank Dunia dan Kemendes PDT dalam rangka mengoptimalkan potensi desa ditengah perubahan iklim yang terjadi. “Kita upayakan untuk mengoptimalkan pengembangan potensi-potensi desa,” tegasnya.
Editor: Abdul Rozak








