SERANG – Pemusatan Pelatihan Daerah (Pelatda) Pekan Olahraga Nasional (PON) cabang olahraga (cabor) panahan memasuki tahap penting untuk mengukur kemampuan tujuh pemanah Banten yang akan tampil di PON XIX Jawa Barat 2016. Tahap penting tersebut adalah simulasi pertandingan untuk mengetahui skor tertinggi atlet. Rencananya, tujuh atlet panahan Banten akan melakoni tes skoring di lapangan Sukun, Kota Tangerang pada 9-10 April. Ketujuh atlet yang lolos PON XIX Jawa Barat 2016 yakni Risda Amalia (nomor compound putri), Rizkha Monica Dewi (nomor compound putri), Ambarwati (nomor compound putri), Tsania Febriani (nomor nasional putri), Fajar Azhari (nomor compound putra), Indra Prasetyo (nomor compound putra), dan Daniel Harsoyo (nomor recurve putra).
Pelatih Panahan PON Banten Jaja mengatakan, tes skoring dilakukan untuk melihat perkembangan atlet setelah menjalani desentralisasi pelatda selama tiga bulan. “Selama Januari hingga Maret, mereka berlatih di pengcab masing-masing. Hasil skoring akan menjadi dasar persiapan menghadapi tryout perdana di Surabaya Open pada 22-28 Mei 2016,” kata Jaja, Selasa (5/4/2016) seperti dilansir Harian Radar Banten.
Jaja menambahkan, fokus pelatda desentralisasi saat ini adalah untuk meningkatkan kemampuan teknik dan fisik. Program ini akan dilakukan hingga sebulan jelang PON dihelat. “Setelah itu seluruh atlet akan menjalani pelatda sentralisasi di Kota Tangerang. Meski latihan terpisah, evaluasi akan terus kami lakukan. Minimal sebulan sekali kami akan lakukan tes skoring. Dari hasil poin tes skoring akan terlihat kekurangan atlet. Hasil itu akan jadi bahan tim pelatih untuk memperbaiki,” imbuhnya.
Sementara itu, Asisten Pelatih Panahan PON Banten Ade Upik Safitri menyatakan, sejauh ini penampilan atlet panahan Banten yang menjalani pelatda terus menunjukan grafis peningkatan. “Baik dari segi tembakan maupun fisik, cukup bagus. Akurasi dan konsentrasi atlet juga sudah bagus. Yang perlu dimatangkan adalah mental bertanding,” ucapnya.
Untuk mematangkan mental bertanding, pihaknya berencana akan menerjunkan atlet di berbagai kejuaraan. “Kami akan menjadikan ajang kejuaraan sebagai tryout. Semakin banyak tampil di kejuaraan, maka mental bertanding atlet akan semakin bagus. Yang perlu kami catat adalah atmosfer latihan dengan kejuaraan sangat berbeda. Mungkin di saat berlatih, anak-anak tidak ada beban. Apalagi berlatih di kandang sendiri. Kalau bertanding di luar, adrenalin anak-anak akan berbeda. Musuh atlet di saat bertanding bukan saja sasaran tembak, tapi juga emosi dan konsentrasi,” tutup Ade. (RB/dre/air/ags)










