Diduga Alami Kekerasan Saat Ditangkap Polisi, Lalu Tewas

Tewas
Istri (alm) Muhammad Iman Tarjuman, Siti Masitoh, menangis histeris di dekat jenazah suaminya di rumah duka, Kelurahan Cipare, Kecamatan Serang, Kota Serang, Rabu (20/4/2016). (Foto: Yan Cikal)

SERANG – Citra kepolisian tercoreng. Muhammad Iman Tarjuman (49), tewas saat ditangkap oleh lima anggota Polres Serang, Selasa (19/4/2016) malam di kontrakannya di Ranca Sawah, Kecamatan Taktakan, Kota Serang. Diduga korban tewas akibat kekerasan yang dialaminya.

“Jam setengah tujuh, suami saya sedang santai nonton tivi. Saya sedang masak di dapur, buat makan bersama. Tiba-tiba ada suara ribut di ruang tivi. Saya keluar dapur, posisi suami saya akan dibawa,” tutur Siti Masitoh di rumah duka di Lingkungan Neglasari, Benggala, Kecamatan Serang, Rabu (20/4/2016), seperti dilansir Harian Radar Banten.

Saat mau ditangkap, Iman protes lantaran kelima orang yang mengaku dari Polres Serang itu memaksanya keluar dari kontrakkan. Protes korban tidak didengar. “Saya sempat tanya ada apa ini? Tapi dijawab, ‘Ibu jangan ikut campur’,” kata Siti Masitoh.

Siti Masitoh kemudian meminta kelima oknum tersebut menunjukkan identitasnya sebagai anggota kepolisian, tetapi tidak digubris. Siti Masitoh menanyakan alasan penangkapan korban. Padahal, panggilan pertama dan kedua untuk suaminya tidak pernah dilayangkan. “Saya juga tanya mana surat penangkapannya. Dijawab, ada tuh di mobil,” kata Siti Masitoh.

Empat dari lima oknum polisi itu mencengkram kedua lengan korban. Oknum polisi itu menarik lengan korban keluar dari kontrakan. Korban bersedia dibawa asal diberi kesempatan menghubungi kakak kandungnya, Dekan Fakultas Hukum (FH) Untirta Aan Asphianto.

“Enggak usah nelepon, nanti saja di mobil,” kata Siti Masitoh menirukan penolakan dari salah seorang oknum polisi tersebut.

Lantaran terus menolak dibawa, salah seorang oknum polisi memukul pelipis kanan korban hingga sobek. Seusai dipukul, tubuh korban langsung lunglai. “Saya sudah ingatkan, suami saya punya rekam medis penyakit jantung,” kata Siti Masitoh.

Seusai memukul korban, kelima oknum polisi itu menyeret korban keluar kontrakan. Di luar kontrakan, kedua lengan korban diikat menggunakan sabuk. Saat diseret, Siti Masitoh mengikuti korban dari belakang. “Saya bilang, Pak jangan seperti itu (kekerasan-red), suami saya tidak akan bisa melawan,” kata Siti Masitoh.

Korban semakin lemah. Korban terduduk di halaman kontrakan. Siti Masitoh meminta waktu kepada oknum polisi memberikan obat kepada korban lantaran kondisinya yang melemah. “Suami saya lunglai dan dalam keadaan terikat. Saya peluk kepalanya, saya bilang, mak (panggilan korban-red), ini obatnya makan,” kata Siti Masitoh.

Namun, kondisi korban tidak merespons. Saat diperiksa, denyut nadi dan detak jantung korban melemah. Siti Masitoh meminta agar ikatan di tangan korban dibuka. “Enggak bisa diminumkan. Ada polisi yang pegang nadinya kaget. Dia bilang, udah lemah, ayo bawa ke rumah sakit,” ungkap Siti Masitoh.

Saat akan dibawa ke RS Drajat Prawiranegara, salah seorang oknum polisi memperbolehkan Siti Masitoh turut serta mendampingi korban. “Pas mau berangkat, surat penangkapan dilempar ke atas kasur dan disuruh tanda tangan. Tapi, saya tidak mau tanda tangan sebelum ketemu kakak ipar saya,” kata Siti Masitoh.

Siti Masitoh memutuskan tidak mendampingi suaminya dan memilih mendatangi kediaman Aan Asphianto di Kompleks Widya Asri, Kota Serang. “Habis itu, kakak ipar saya minta saya tinggal di rumahnya. Sementara, dia yang nekel (mengurusi-red) masalahnya. Satu setengah jam kemudian, saya dapat telepon dari kakak ipar saya kalau suami saya sudah meninggal,” kata Siti Masitoh.

Siti Masitoh menilai penangkapan terhadap suaminya merupakan tindakan arogan oknum kepolisian. “Ini arogansi. Berlebihan, seolah suami saya ini teroris,” cetus Siti Masitoh.

Sementara, Aan Asphianto menyesalkan atas penangkapan terhadap adiknya. Ia menilai penangkapan cacat hukum. “Tidak pernah mendapatkan surat panggilan pertama dan kedua, tahu-tahu langsung dijemput paksa,” kata Aan.

Aan menduga kemungkinan korban sudah meninggal dunia sebelum menerima perawatan medis. Keluarga korban memutuskan untuk meminta autopsi pada tubuh korban. “Sudah dilaporkan ke Polda Banten untuk diselidiki lebih dalam,” kata Aan.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Banten Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Himawan Bayu Aji belum dapat memberikan penjelasan mengenai kasus ini. “Saya belum bisa berkomentar. Laporan itu belum sampai di saya. Kemungkinan masih dalam pemeriksaan,” kata Himawan.

Kepala Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM) RS Drajat Prawiranegara, Budi Suhendar, mengaku belum dapat memastikan penyebab kematian korban. “Belum dapat dipastikan sebab matinya. Harus ada pemeriksaan lebih lanjut. Kami sudah mengambil sampel mekanisme tubuh untuk diperiksa di laboratorium,” ungkap Budi.

Sesuai hasil visum luar ditemukan luka pada pelipis kanan korban akibat kekerasan benda tumpul. “Ada kekerasan tumpul pada bagian mata kanan sebelah bawah mengakibatkan kebutaan,” terangnya.

Dihubungi terpisah, Kasatreskrim Polres Serang AKP Arrizal Samelino membantah jika anggota melakukan pemukulan. Menurutnya, korban dijemput paksa lantaran telah berulang kali mengabaikan panggilan polisi. “Tahapan pemeriksaan sudah dilalui, Iman selalu tidak pernah datang ke Mapolres Serang, makanya kami jemput paksa. Pelaku selalu berpindah-pindah tempat,” katanya. Sebelumnya, korban juga telah ditetapkan tersangka oleh polisi dengan pasal yang dikenakan 372 dan 378 KUHP.

Ia berkilah jika korban meninggal akibat dipukul petugas. Pelaku sempat berusaha melawan saat petugas ingin menangkapnya. Aksi tarik-menarik terjadi. ”Akhirnya pelaku tersungkur hingga lunglai. Setelah itu polisi membawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan,” kilahnya.

Sebelumnya, Iman sempat dicari-cari polisi lantaran dianggap telah melakukan penipuan dan dituduh menggelapkan uang milik warga asal Lippo Karawaci, Kota Tangerang, Iin, sebesar Rp160 juta untuk keperluan penerimaan CPNS. Namun nahas, Iman meninggal dengan meninggalkan enam anak yang masih sekolah dan dua istri. (Denny K/Merwanda/Radar Banten)