SERANG – Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Banten Dwi Hesti Hendarti angkat bicara terkait pernyataan Kepala Inspektorat Provinsi Banten Kusmayadi yang menuding RSU Banten melakukan kegiatan ilegal dalam bentuk seminar karakter building pada Sabtu-Minggu (18-19/3) lalu di Puncak Bogor,  Jawa Barat.
Menurut Hesti,  kegiatan tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut akreditasi salah satu lembaga Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)  Banten tersebut.
Terkait tudingan pihaknya melanggar Permendagri nomor 61 Tahun 2007 dengan melakukan kegiatan diluar DPA yang telah ditetapkan,  Hesti tidak membantah.  Namun Hesti mengaku telah mempersiapkan anggaran untuk kegiatan tersebut sebelumnya.
“Kalau tidak pergi kesana kita terkena denda Rp 300 juta oleh pihak ketiga,  kalau pun kesana tetap segitu keuangan yang dikeluarkan, jadi yah kita lanjutkan,” ujarnya di RSU Banten,  Selasa (21/3).
Keputusan tersebut, lanjut Hesti dibarengi dengan keputusan anggaran untuk kegiatan tersebut bukan bersumber dari APBD.  “Itu tidak di SPJ kan,  bukan dari APBD,  sumbernya dari mana kita cari nanti,” ujarnya.
Alasan Hesti tetap menyelenggarakan kegiatan tersebut kendati telah dilarang inspektorat yaitu adanya upaya penyamaan visi misi  seluruh pegawai RSU Banten. “Penyamaan visi misi harus dari hati ke hati,  silahkan tanya ke pegawai yang ikut disana kegiatan ngapain,  kita bukan untuk liburan,” pungkasnya.
Salah satu pegawai RSU Banten,  Moch Dedy menuturkan,  dirinya bersma 349 pegawai sejak Sabtu hingga Minggu mendapatkan materi terkait karakter kepribadian,  kerjasama,  dan materi caracter building lainnya. “Ada game nya,  ada juga materinya,  siang jam 12 kita pulang lagi,” ujarnya. (Bayu)