M Eman Sulaiman, Motor Penggerak Moli Qi Falah, Lebak

0
584 views
Muhammad Eman Sulaiman saat memberikan pencerahan literasi kepada anak-anak desa di Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak.

Pakai Motor, Keliling Kampung Sebar Buku

Minat baca masyarakat tergolong masih rendah. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satu kurangnya kesadaran dari semua pihak mengelola serta menjalankan kegiatan literasi di desa.

Ahmad Lutfi – Serang

Literasi yang menjadi ujung tombak peradaban dunia seringkali tidak menjadi fokus serius. Berbeda dengan urusannya politik atau hal sejenisnya yang menghadirkan keuntungan ekonomi.

Karena itu, untuk menumbuh-kembangkan minat baca harus dilakukan secara bersama oleh semua pihak, terutama mereka yang banyak berinteraksi langsung dengan mereka.

Keprihatinan mendalam inilah yang menginspirasi pegiat literasi di Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Muhammad Eman Sulaiman, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di setiap desa di Kecamatan Cikulur. Bang Eman – sapaan akrabnya – tidak ingin baca-tulis yang menjadi spirit utama diturunkannya Islam hilang begitu saja di tengah masyarakat.

Keprihatinan ini memantik alumi Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Cikulur, Lebak, yang asli putera Kampung Sarian Desa Sumurbandung, ini untuk melahirkan komunitas kecil yang fokus bergerak di bidang literasi desa. Namanya Motor Literasi (Moli) Qi Falah  yang dibentuk pada Februari 2020.

Tak heran, karena sejak menjadi santri di pesantren ini tujuh tahun silam hingga menjadi tenaga pengajar di sana, Bang Eman sudah terlibat aktif dalam literasi baik dalam komunitas Pondok Baca Qi Falah maupun Triple Ing (Triping) Community – reading, writing and speaking. Keduanya di bawah arahan Dr KH Nurul H. Maarif, pemenang Apresiasi Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Banten 2017 di bidang Guru Madrasah Produktif.

Dalam dua komunitas itu, Bang Eman bertumbuh pengetahuan, kesadaran dan pengalamannya di bidang literasi. Ditambah pengalamannya mengikuti berbagai kegiatan literasi baik yang diselenggarakan oleh komunitas lokal maupun di luar Banten, kesadaran literasinya kian meningkat tajam. 

Kenapa Bang Eman menyebut gerakannya Moli alias Motor Literasi?  “Karena kami menggerakkan literasi dengan bermodalkan motor, masuk desa keluar desa di sekitaran Kecamatan Cikulur. Kami keliling mendatangi masyarakat, utamanya anak usia sekolah. Kami gelar lapak buku bersama kawan-kawan yang peduli,” ujar Eman yang didampingi pimpinan Pesantren Qothrotul Falah Dr KH Nurul H Maarif kepada Radar Banten di Kota Serang, Rabu (9/9). 

Sesuai namanya, markas Moli Qi Falah, ada di Pondok Pesantren Qothrotul Falah di Jalan Raya Sampay-Cileles Km. 05 Kampung Sarian, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak.

“Mudah-mudahan ke depan Moli Qi Falah memiliki markas tersendiri yang lebih independen. Dengan dukungan semua pihak, keinginan ini sangat mungkin terwujud. Al-hamdulillah, Pak Camat Cikulur Iyan Fitriyana, kepala desa, Kepala UPT Pendidikan, dan lainnya, mendukung penuh kegiatan ini. Ini memudahkan kami semua,” katanya.

Dalam menjalankan aksinya, Bang Eman didampingi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seperti  STAI La Tansa Mashiro, UIN SMH Banten, Untirta, STAI Wasilatul Falah, STKIP Lebak, termasuk para santri senior Pesantren Qothrotul Falah. Mereka mengendarai motor membawa buku-buku layaknya penjual sayuran, keliling dari kampung ke kampung.

Bang Eman menuturkan, dalam rangka menyebarkan virus literasi serta semangat membaca masyarakat desa ini, Moli Qi Falah memiliki banyak program kegiatan. “Semisal keliling ke berbagai desa untuk sosialisasi pentingnya baca-tulis, program Geulis (Gerakan Literasi Sekolah), Member (Mendongen dan Menggambar), Silat (Silaturahim Pegiat Literasi), lomba-lomba literasi, termasuk juga Moli Berbagi untuk sesama,” terangnya.

Khusus Moli Berbagi ini, Bang Eman dan kawan-kawan terkadang menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat tak mampu atau berekonomi lemah. “Karena modal kita yang sangat kurang, kita pegiat literasi iuran seadanya. Sedapatnya. Lebih baik berbagi walau tak seberapa ketimbang tidak sama sekali,m” prinsipnya.

Selain itu, kata Bang Eman, pihaknya juga punya program Bimdes (Bimbingan Belajar Anak Desa), Program Workshop dan Pelatihan Jurnalistik, Program World Book Day (Perayaan Hari Buku Se-Dunia) dan banyak lagi.

Dalam pergerakannya, Moli Qi Falah berjejaring dengan berbagai pihak, terutama penggerak literasi di sekitar Lebak. Termasuk juga dengan organisai kepemudaan yang ada di Kecamatan Cikulur seperti Permasutuan Mahasiswa Kecamatan Cikulur (PMKC).

Banyak duka yang dirasakan Bang Eman dan kawan-kawan. Perjuangan memang selalu tak mudah dijalani. “Kita kan tidak punya modal finansial untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Hanya modal nekad dan semangat saja. Untuk bensin dan sebagainya kami modalin sebisanya. Buku bacaan juga sangat-sangat terbatas dan secara umum kami meminjam buku koleksi Pondok Baca Qi Falah,” ujarnya.

Namun Bang Eman yakin, dengan keseriusan, lambat laun kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi ini akan tumbuh menjadi lebih baik. “Kelemahan yang ada insya Allah tidak mematahkan semangat para relawan Moli Qi Falah  untuk terus bergerak memberikan kemanfaatan untuk umat,” semangatnya.

“Semoga pada titik tertentu, kesadaran membaca dan menulis ini menjadi tumbuh subur di kalangan masyarakat Cikulur khususnya. Mohon doa dari semua,” imbuhnya berharap.(*)