• Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
Home Catatan Sekam

Miskin di Rumah, Kaya di Data

Mashudi by Mashudi
Senin, 31 Agustus 2026 07:50
in Catatan Sekam
0
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Catatan Sekam

0
SHARES
76
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

Rupanya, miskin sekarang tidak cukup hanya dirasakan. Harus dihitung.Bahkan, setelah dihitung pun hasilnya belum tentu sama dengan yang terlihat di depan mata.

Di Kulon Progo, Yogyakarta, Timbul, seorang tukang becak motor, pernah tercatat masuk desil 9. Ia baru tahu ketika mengurus surat keterangan tidak mampu untuk mencari keringanan biaya kuliah anaknya.

BPS kemudian memutakhirkan datanya. Desil Timbul berubah. Bukan turun satu tingkat. Bukan dua. Dari 9 menjadi 3. 

Lumayan jauh.Kemiskinan ternyata bisa berubah lebih cepat di layar kom­puter daripada di kehidupan nyata.

Rupanya, Timbul tidak sendirian. Di Kota Banjar ada Karsono. Umurnya 67 tahun. 

Karsono sudah tidak bekerja. Rumah pun tidak punya. Ia menumpang di rumah adiknya. Tetapi, hidupnya di dalam data melonjak cukup jauh: dari desil 2 menjadi desil 9. 

Di Kabupaten Serang ada Eva Aida. Warga Kampung Cijeruk Empang, Desa Sindangsari, Kecamatan Petir.

Eva tercatat berada di desil 6 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional, DTSEN.

Kalau hanya melihat angka itu, barangkali hidup Eva terlihat lumayan. Kalau datang ke rumahnya, ceritanya lain.

Rumah panggung yang ia tempati terbuat dari kayu dan bambu. Sebagian dindingnya rusak dan ditutup terpal. Atapnya bocor di banyak tempat ketika hujan. Eva bekerja membersihkan cabai kering. Upahnya Rp15 ribu untuk pekerjaan sekitar dua hari. 

Suaminya bekerja serabutan. Kadang men­jual perabotan keliling, kadang go­rengan. Tetapi di data, Eva desil 6.

TIDAK DAPAT BANSOS: Kondisi rumah Eva Aida di Desa Cijeruk Empang, Desa Sindangsari, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang. Warga tak mampu ini masuk desil 6.

Ia mengaku belum pernah men­da­patkan bantuan pemerintah. Ia sudah mengajukan perbaikan desil melalui desa. Sampai akhir Agustus ini, posisinya masih sama.

Di situlah angka mulai terasa lebih pan­jang daripada sekadar angka. Desil sekarang dipakai sebagai salah satu dasar menentukan sasaran berbagai program pemerintah. Bantuan sosial, bantuan pendidikan, bantuan peru­mahan, sampai peserta PBI JKN bisa berkaitan dengannya. 

Tentu, desil tidak sesederhana melihat rumah lalu memutuskan seseorang miskin atau kaya. BPS juga sudah menjelaskan itu. Desil bukan ukuran absolut kemiskinan. Ia adalah peme­ringkatan kesejahteraan relatif. 

Penentuannya tidak hanya melihat penghasilan. Ada kondisi rumah, aset, listrik, pekerjaan, pendidikan, kese­hatan, komposisi keluarga, dan se­jumlah indikator lain yang dihitung bersama.

Masuk akal. Data memang harus bekerja lebih teliti daripada pandangan mata. Tetapi, data juga bisa tertinggal dari kehidupan.

Orang bisa kehilangan pekerjaan hari ini. Usaha bangkrut bulan ini. Penghasilan keluarga turun. Sementara, angka di komputer masih menceritakan kehidupan mereka yang lama.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Serang Yadi Priyadi Rochdian mengatakan, warga yang merasa desilnya tidak sesuai dapat mengajukan pembaruan melalui pemerintah desa. Dinsos juga membuka loket pembaruan di Mal Pelayanan Publik. 

Sekitar 40 orang mengajukan pem­baruan setiap hari. Empat puluh orang sehari.

Berarti, hampir setiap hari ada orang yang datang untuk mengatakan: hidup saya tidak seperti yang tertulis di data.

Angka itu tentu tidak otomatis berarti seluruh penetapan desil salah. Bisa saja keadaan ekonomi mereka berubah setelah pendataan. Bisa pula ada data yang belum diperbarui.

Tetapi, 40 orang sehari cukup untuk membuat kita bertanya. Seberapa cepat data mengikuti kehidupan?

Orang miskin tidak hidup dalam siklus pembaruan database. Anaknya tetap harus sekolah. Kalau sakit, ia tetap harus berobat. Dapur tetap harus menyala.

Mereka tidak bisa menunggu terlalu lama sampai komputer sepakat bahwa mereka memang sedang susah.

Dulu, orang miskin mungkin takut tidak punya uang. Sekarang, ada tam­bahan ketakutan baru. Salah desil. 

Lalu, siapa sebenarnya yang paling tahu seseorang miskin atau tidak? Dirinya sendiri? Tetangganya? Aparat desa yang melihat kehidupannya se­tiap hari, atau komputer yang meng­hitung puluhan variabel?

Mungkin semuanya diperlukan. Data tetap penting. Tanpa data, bantuan juga bisa salah alamat. 

Tetapi, data hanyalah alat. Yang hidup bukan desil. Yang hidup adalah Eva. Dan ketika hujan turun, rumahnya masih bocor. (*)

Tags: Catatan Sekam
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

KIP Kuliah 2026 Masih Bisa Daftar, Simak Jadwal, Syarat, dan Cara Pendaftarannya

Next Post

Kasus Dugaan Pengrusakan di Desa Sentul Tangerang Masih Disidik Polisi

Next Post

Kasus Dugaan Pengrusakan di Desa Sentul Tangerang Masih Disidik Polisi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Airlangga Hartarto: Pelatihan Vokasi Nasional Diharapkan Tekan Pengangguran

Airlangga Hartarto: Pelatihan Vokasi Nasional Diharapkan Tekan Pengangguran

by Nurandi
Rabu, 2 September 2026 11:13
0

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID — Pemerintah pusat kembali memperkuat program pelatihan vokasi untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus menekan angka pengangguran. Upaya...

Mayoritas Petani Banten Berusia di Atas 45 Tahun, Regenerasi Jadi Tantangan

Mayoritas Petani Banten Berusia di Atas 45 Tahun, Regenerasi Jadi Tantangan

by Yusuf Permana
Rabu, 2 September 2026 10:58
0

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID — Regenerasi petani menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Provinsi Banten. Mayoritas petani saat ini berada pada...

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2026 RadarBanten.