Rupanya, miskin sekarang tidak cukup hanya dirasakan. Harus dihitung.Bahkan, setelah dihitung pun hasilnya belum tentu sama dengan yang terlihat di depan mata.
Di Kulon Progo, Yogyakarta, Timbul, seorang tukang becak motor, pernah tercatat masuk desil 9. Ia baru tahu ketika mengurus surat keterangan tidak mampu untuk mencari keringanan biaya kuliah anaknya.
BPS kemudian memutakhirkan datanya. Desil Timbul berubah. Bukan turun satu tingkat. Bukan dua. Dari 9 menjadi 3.
Lumayan jauh.Kemiskinan ternyata bisa berubah lebih cepat di layar komputer daripada di kehidupan nyata.
Rupanya, Timbul tidak sendirian. Di Kota Banjar ada Karsono. Umurnya 67 tahun.
Karsono sudah tidak bekerja. Rumah pun tidak punya. Ia menumpang di rumah adiknya. Tetapi, hidupnya di dalam data melonjak cukup jauh: dari desil 2 menjadi desil 9.
Di Kabupaten Serang ada Eva Aida. Warga Kampung Cijeruk Empang, Desa Sindangsari, Kecamatan Petir.
Eva tercatat berada di desil 6 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional, DTSEN.
Kalau hanya melihat angka itu, barangkali hidup Eva terlihat lumayan. Kalau datang ke rumahnya, ceritanya lain.
Rumah panggung yang ia tempati terbuat dari kayu dan bambu. Sebagian dindingnya rusak dan ditutup terpal. Atapnya bocor di banyak tempat ketika hujan. Eva bekerja membersihkan cabai kering. Upahnya Rp15 ribu untuk pekerjaan sekitar dua hari.
Suaminya bekerja serabutan. Kadang menjual perabotan keliling, kadang gorengan. Tetapi di data, Eva desil 6.

Ia mengaku belum pernah mendapatkan bantuan pemerintah. Ia sudah mengajukan perbaikan desil melalui desa. Sampai akhir Agustus ini, posisinya masih sama.
Di situlah angka mulai terasa lebih panjang daripada sekadar angka. Desil sekarang dipakai sebagai salah satu dasar menentukan sasaran berbagai program pemerintah. Bantuan sosial, bantuan pendidikan, bantuan perumahan, sampai peserta PBI JKN bisa berkaitan dengannya.
Tentu, desil tidak sesederhana melihat rumah lalu memutuskan seseorang miskin atau kaya. BPS juga sudah menjelaskan itu. Desil bukan ukuran absolut kemiskinan. Ia adalah pemeringkatan kesejahteraan relatif.
Penentuannya tidak hanya melihat penghasilan. Ada kondisi rumah, aset, listrik, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, komposisi keluarga, dan sejumlah indikator lain yang dihitung bersama.
Masuk akal. Data memang harus bekerja lebih teliti daripada pandangan mata. Tetapi, data juga bisa tertinggal dari kehidupan.
Orang bisa kehilangan pekerjaan hari ini. Usaha bangkrut bulan ini. Penghasilan keluarga turun. Sementara, angka di komputer masih menceritakan kehidupan mereka yang lama.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Serang Yadi Priyadi Rochdian mengatakan, warga yang merasa desilnya tidak sesuai dapat mengajukan pembaruan melalui pemerintah desa. Dinsos juga membuka loket pembaruan di Mal Pelayanan Publik.
Sekitar 40 orang mengajukan pembaruan setiap hari. Empat puluh orang sehari.
Berarti, hampir setiap hari ada orang yang datang untuk mengatakan: hidup saya tidak seperti yang tertulis di data.
Angka itu tentu tidak otomatis berarti seluruh penetapan desil salah. Bisa saja keadaan ekonomi mereka berubah setelah pendataan. Bisa pula ada data yang belum diperbarui.
Tetapi, 40 orang sehari cukup untuk membuat kita bertanya. Seberapa cepat data mengikuti kehidupan?
Orang miskin tidak hidup dalam siklus pembaruan database. Anaknya tetap harus sekolah. Kalau sakit, ia tetap harus berobat. Dapur tetap harus menyala.
Mereka tidak bisa menunggu terlalu lama sampai komputer sepakat bahwa mereka memang sedang susah.
Dulu, orang miskin mungkin takut tidak punya uang. Sekarang, ada tambahan ketakutan baru. Salah desil.
Lalu, siapa sebenarnya yang paling tahu seseorang miskin atau tidak? Dirinya sendiri? Tetangganya? Aparat desa yang melihat kehidupannya setiap hari, atau komputer yang menghitung puluhan variabel?
Mungkin semuanya diperlukan. Data tetap penting. Tanpa data, bantuan juga bisa salah alamat.
Tetapi, data hanyalah alat. Yang hidup bukan desil. Yang hidup adalah Eva. Dan ketika hujan turun, rumahnya masih bocor. (*)

