SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq meninjau fasilitas pengelolaan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) milik PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) Serang, Rabu 2 September 2026.
Dalam kunjungannya, Hanif mengapresiasi langkah IKPP dalam mengolah sampah menjadi sumber energi dengan kapasitas besar. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 8.100 ton per hari dan disebut sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara.
Hanif mengatakan, kapasitas pengolahan RDF sebesar 8.100 ton per hari membutuhkan pasokan sampah hingga sekitar 16.000 ton per hari.
“Angka yang sangat besar, makanya kita apresiasi langkah ketaatan yang dilakukan PT Indah Kiat atas arahan pemerintah pusat untuk menyelesaikan permasalahan sampah di industri,” kata Hanif.
Hanif berharap fasilitas tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk mengelola sampah dari kawasan industri. Ia mendorong Pemerintah Kota Serang dan Pemerintah Kabupaten Serang memanfaatkan fasilitas tersebut untuk membantu menangani persoalan sampah di wilayah masing-masing.
“Tentu dengan modalitas yang cukup besar ini, harapan kita Wali Kota Serang dan Bupati Serang mampu memanfaatkan ini dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.
Menurut Hanif, pihak perusahaan menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan pemerintah dalam pengelolaan sampah. Namun, sampah yang dikirim ke fasilitas RDF harus sudah melalui proses pemilahan agar dapat diolah secara optimal.
“Perusahaan mulai hari ini juga boleh masuk asal bahan bakunya terpilah dan bisa dikoordinasikan lebih lanjut. Langkah-langkah yang paling optimal tentu tidak tuntas di sini saja, harus turun ke masyarakat,” jelasnya.
Hanif juga meminta manajemen IKPP mendukung langkah Bupati Serang dalam mengedukasi masyarakat mengenai pemilahan sampah.
“Kalau sudah sampah itu terpilah, maka ada energi yang kemudian bisa didayagunakan. Mungkin kertas bisa menjadi uang, plastik bisa menjadi uang,” ujarnya.
Ia menilai sampah kertas memiliki potensi ekonomi yang besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Saat ini, kata Hanif, terdapat sekitar 113 industri kertas di Indonesia dengan kebutuhan bahan baku mencapai 14 juta ton per tahun.
Dari kebutuhan tersebut, sekitar 7 juta ton dipenuhi dari virgin pulp atau hutan tanaman industri. Sementara sisanya berasal dari kertas bekas.
“Sayangnya hampir 60 sampai 70 persennya masih impor. Padahal kita juga punya potensi sampah dari kertas dan plastik yang cukup berlimpah,” katanya.
Karena itu, Hanif mendorong kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan, khususnya IKPP, untuk meningkatkan pemanfaatan sampah sebagai bahan baku alternatif.
Direktur Sustainability PT IKPP Serang Heppy Moiras mengatakan, fasilitas RDF IKPP saat ini telah memasuki tahap ketiga. Unit dengan kapasitas lebih besar tersebut telah beroperasi secara bertahap dan kini mampu menyerap sekitar 6.000 ton sampah per hari.
“Sudah beroperasi. Kan ini enggak ujug-ujug, tapi bertahap. Jadi yang disaksikan beliau ini adalah tahap tiga yang investasinya lebih besar dan kapasitasnya juga lebih besar,” ujarnya.
Heppy mengatakan, dua tahun lalu saat masih menjabat Menteri Lingkungan Hidup, Hanif juga sempat mengunjungi IKPP dan mendorong percepatan pembangunan fasilitas RDF.
IKPP, lanjut Heppy, siap berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang dalam pengelolaan sampah. Namun, sampah yang masuk ke fasilitas RDF harus sudah dipilah dan memiliki jenis yang relatif homogen.
“Prinsipnya sampah-sampah harus dipilah karena di kami RDF-nya ini jelas jenisnya yang lebih homogen. Jadi kalau yang enggak homogen enggak bisa nanti. Harus dipilah dulu,” jelasnya.
Untuk sampah plastik, IKPP juga siap membantu menyerapnya. Sementara sampah kertas dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku RDF maupun memiliki nilai komersial.
“Kalau yang kertas bisa masuk untuk komersial juga bisa. Kalau plastik ini memang tergantung nanti dari Pak Dinas LH Kabupaten Serang. Kita siap men-support programnya beliau, pemilahan-pemilahan ini,” ucapnya.
Terkait pemasaran produk RDF, Heppy mengatakan, hingga kini produksi RDF belum dijual kepada pihak luar. Seluruh produksi masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi internal pabrik.
“Enggak ada. Kita kan menyelesaikan terus kita gunakan juga untuk self energy internal kami. Batu bara ada tetap, karena kan ini kita mix, campur,” pungkasnya.
Editor: Mastur Huda

