SERANG – Sebanyak 1.433 bayi usia lima tahun (Balita) dari jumlah total 1.124.758 balita di Provinsi Banten, berstatus gizi buruk. Jumlah ini terbilang fantastis, dan menempatkan Provinsi Banten para urutan ketiga daerah gizi buruk terbanyak setelah setelah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Jawa Timur. Ini berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten tahun 2013.
Kepala Seksi Gizi di Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Tiara menjelaskan, angka gizi buruk di Banten tiap tahun menurun. “Dari tahun 2008, 2009 itu ada penurunan sebanyak 0,9 lalu 0,68 sampai sekarang mencapai 0,64 persen,” terangnya kepada wartawan melalui sambungan telpon, Jumat (10/10/2014).
Penyebab banyaknya kasus gizi buruk ini, menurut Tiara, disebabkan banyak faktor, antara lain asupan makan yang kurang, pendidikan ibu yang minim, kondisi ekonomi keluarga di bawah sejahtera, pola asuh yang salah, dan letak geografis yang jauh dari layanan kesehatan.
“Penanganan yang dilakukan melalui posyandu (Pos Pelayanan Terpadu-red). Jika dalam dua bulan berturut-turut tidak naik berat badannya, maka sang anak harus di rujuk ke pelayanan kesehatan yang lebih tinggi,” terangnya.
Tiara menjelaskan bahwa, jika balita tersebut murni menderita gizi buruk, tidak disertai oleh penyakit peserta, dan rajin dibawa berobat, maka dapat dipastikan akan segera sembuh. Pengobatan balita gizi buruk berupa pemberian vitamin dan makanan tambahan. Makanan tambahan ini berupa biskuit dan makanan cair.
“Persoalannya, belum 100 persen balita datang ke Posyandu. Jika ini sudah dilakukan, maka tidak akan ada gizi buruk,” jelasnya.
Diketahui, Provinsi Banten tahun ini genap berusaia 14 tahun sejak melepaskan diri dari Provinsi Jawa Barat. Peringatan HUT Provinsi Banten Ke-14 tersebut, Kamis (9/10/2014) kemarin diperingati dengan meriah, mulai dari karnaval hingga pesta kembang api. (Wahyudin)










