KALANGANYAR – Rohanah (90), warga Kampung Rancagarut, Desa Sangiang Tanjung, Kecamatan Kalanganyar, diusir warga dari kampungnya, Senin (25/4/2016). Wanita renta itu dituding sebagai dukun santet dan meresahkan warga.
Pantauan Harian Radar Banten, warga berkumpul di tengah kampung, kemudian mendatangi rumah Rohanah. Rencana pengusiran Rohanah tercium oleh aparat kepolisian dan TNI. Untuk menghindari tindakan anarkistis, warga diadang aparat keamanan sebelum mencapai rumah Rohanah. Warga kemudian diarahkan ke rumah Ketua RT 01 Daman.
Aparat keamanan memediasi warga dengan Rohanah. Hasilnya, warga tetap kukuh mengusir Rohanah dan keluarganya keluar dari Kampung Rancagarut.
Rohanah dengan ketiga anaknya yang telah dewasa kemudian keluar dari Kampung Rancagarut. Dengan membawa bungkusan berisi pakaian, mereka mendapat pengawalan polisi dan TNI. Rohanah dan keluarganya diangkut menggunakan mobil patroli polisi keluar dari Kampung Rancagarut.
Menurut Daman, tindakan warganya itu lantaran kedatangan Rohanah ke Kampung Rancagarut, delapan tahun lalu, telah menimbulkan keresahan. Beberapa kejadian aneh telah menimpa warga. Entah mengapa, hal itu dikaitkan dengan Rohanah. Wanita renta itu dituding sebagai penyebabnya.
“Warga yang resah kemudian bergerak dan mengusir Rohanah beserta keluarganya. Warga enggak ingin mereka tinggal di sini (Kampung Rancagarut-red) lagi,” tegas Daman kepada wartawan.
Daman mengatakan, Rohanah berasal dari Kampung Kadu Guling, Desa Mekarmulya, Kecamatan Cimarga. Delapan tahun lalu, dia dan keluarganya juga diusir dari Kampung Kadu Guling. Rohanah dituding sebagai dukun santet dan meresahkan warga Kampung Kadu Guling.
“Warga tidak akan berbuat anarki. Mereka hanya ingin Rohanah dan keluarga meninggalkan Kampung Rancagarut,” kata Daman.
Yayat Ruhyat, warga Kampung Rancagarut, membenarkan bahwa warga tidak menginginkan Rohanah dan keluarganya kembali lagi ke Kampung Rancagarut. Warga akan tetap mengusir Rohanah dan keluarganya jika kembali lagi ke Kampung Rancagarut, meskipun warga tidak bisa membuktikan Rohanah sebagai dukun santet.
“Banyak kejadian aneh yang menimpa warga. Sudah ada lima warga yang meninggal dunia setelah ribut dengan keluarga Rohanah,” terang Yayat.
Keresahan dan tudingan warga itu, lanjut Yayat, tidak muncul tiba-tiba. Aksi warga mengusir Rohanah merupakan bentuk akumulasi keresahan warga selama delapan tahun. Dengan keluarnya Rohanah dari Kampung Rancagarut, warga berharap kehidupan mereka kembali tenang.
“Sejak awal, kami komitmen enggak akan melakukan tindak anarki. Kami hanya ingin keluarga Rohanah pergi dan tidak tinggal di sini lagi untuk selamanya,” jelasnya.
Sekretaris Desa Sangiang Tanjung Hasanudin menjelaskan, Rohanah dan keluarga diungsikan ke Mapolres Lebak. “Kalau tetap tinggal di Rancagarut, khawatir Rohanah dan keluarganya bisa menjadi sasaran warga,” katanya.
Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanitreskrim) Polsek Rangkasbitung Inspektur Polisi Satu (Iptu) Malik Abraham menyatakan, rencana pengusiran Rohanah oleh warga Kampung Rancagarut itu telah tercium aparat kepolisian sejak beberapa hari sebelumnya. “Kami bersyukur kondisi di Rancagarut kondusif,” ungkapnya. (Mastur/Radar Banten)










