Hidup Hani (38), nama samaran, sangat menyedihkan. Selama 18 tahun berumah tangga dengan Jek (46), nama samaran, Heni hidup dalam penderitaan dan siksaan. Baik fisik dan mental Hani dibuat menderita oleh Jek. Ini lantaran sang suami menderita penyimpangan seksual, di mana Jek menyukai sadisme seksual atau sadomasokisme.
Fantasi seksual Jek yang membentuknya menjadi seseorang dengan aliran sadisme seksual. Sejak kecil, ia sudah mengonsumsi film-film porno dengan adegan penyiksaan saat melakukan hubungan seksual.
Tidak hanya itu, kabiasaannya mengonsumsi alkohol membuatnya semakin garang. Tukang pukul salah satu pengusaha di Banten ini memang memiliki sifat kasar. “Ia hanya menurut kepada bosnya. Di luar itu, banyak yang takut kepadanya. Begitu juga saya, saya benar-benar takut untuk melawannya,” jelasnya.
Hani benar-benar salah memilih suami. Ia tidak menyangka jika ada pria yang memiliki hobi menyiksa seperti yang dilakukan Jek. “Dia itu seperti penjahat, saya hidup dalam ketakutan selama bersama Mas Jek. Untung saya bisa terbebas dari dia, itu pun setelah Mas Jek ditangkap polisi karena terlibat kejahatan,” tuturnya.
Jek, kata Hani, tengah menjadi salah satu penghuni Rutan Serang. Ia telah dituntut Pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan, karena telah memukuli musuh bosnya hingga sekarat. “Saya dengar dia ditangkap setelah mengeroyok orang yang berhutang banyak kepada bosnya,” katanya.
Sejak awal, Hani sudah dibuat tidak berdaya. Kharisma Jek sebagai orang yang menakutkan memang telah terasa sejak awal pertemuan mereka. Namun Hani yang masih polos tidak menyadari hal tersebut. Ia memilih untuk berhubungan dengan Jek hingga akhirnya menikah pada 1 Maret 1996 lalu. “Sejak awal saya memang merasa kalau Mas Jek itu orang kasar. Tapi waktu pacaran, Mas Jek bilang kalau sifat kasar dia hanya untuk orang-orang yang menjadi musuhnya. Kalau dengan saya, pasti tidak akan kasar,” ujarnya.
Nyatanya, hal itu hanya bualan belaka. Sebab apa yang dilakukan Jek bukan hanya perilaku kasar. Namun penyakit sadomasokismenya melebihi sifat kasar yang tidak diinginkan Hani.
Berdasarkan cerita Hani, Jek suka mengikat kedua tangan dan kakinya dengan tali tampar saat ingin berhubungan suami istri. Tidak jarang pula leher Hani diikat tali yang sama, sehingga lehernya sering kali mengalami luka cekikan.
Bukan hanya itu, Hani sering ditampar habis-habisan hingga meraung kesakitan. Jeritan dan tangisan Hani yang diharapkan Jek, sebab ini membuat hasratnya meledak-ledak. “Setelah saya ditampar, dia minta saya menangis keras. Kalau saya tidak menangis, dia akan melakukan segala cara agar saya bisa menangis. Setelah saya menangis, dia jadi terlihat sangat bernapsu terhadap saya,” katanya.
Berbeda sikap jika Jek pulang dalam keadaan mabuk. Penyakit sadomasokismenya jarang sekali kumat jika Jek sedang teler. Karena itulah Hani selalu berharap jika Jek mabuk setiap kali pulang ke rumah. “Kalau mulutnya bau alkohol, dia enggak pernah minta berhubungan badan. Dia langsung tidur tanpa melakukan hal macam-macam terhadap saya,” tuturnya.
Dari hasil hubungan suami istri sadis Hani dan Jek, pasangan ini dikaruniai enam anak. Paling tua adalah anak perempuan berusia 17 tahun, sebut saja Bunga. Penyakit Jek juga tidak pudar selama Hani mengandung. Hanya saja dia tidak sekasar ketika Hani tidak mengandung. “Kalau saya hamil, dia paling jenggut rambut, atau cubit kulit saya. Pokoknya dia paling senang kalau saya sudah menangis atau kesakitan,” katanya.
Paling parah terjadi pada 2006, hal yang tidak bisa dilupakan Hani. Saat itu Jek melarang Hani untuk menggunakan pakaian, sehingga Hani terpaksa tidak berbusana selama beberapa jam di depan anak-anaknya. “Dia seperti orang gila, meminta saya tidak pakai baju selama saya memasak dan membersihkan rumah. Dia terus saja melihat saya, hingga akhirnya saya ditarik ke kamar kemudian menyiksa saya,” tuturnya.
Mengalami hal seperti itu, Hani bukannya tidak mau pergi dari sisi Jek. Namun sang suami mengancam Hani akan melukai keluarga besarnya jika berani kabur dari rumah. “Sama halnya kalau saya lapor polisi. Dia ancam akan menghabisi orangtua saya,” jelasnya.
Untung, Jek dibekuk polisi lantaran melakukan tindak penganiayaan terhadap seseorang. Ia dipenjara cukup lama, sehingga memberikan waktu untuk Hani terbebas darinya. “Mumpung dia dipenjara, saya ceraikan dia. Setelah cerai, saya mau ajak keluarga besar pindah ke tempat lain. Biar aman, saya takut dia cari saya setelah keluar dari penjara,” tuturnya. (Sigit/Radar Banten)











