SERANG – Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Banten, angka kumulatif temuan kasus HIV/AIDS menunjukan peningkatan yang sangat signifikan. Hingga Maret 2016 terdapat 2.640 kasus HIV dan 1.559 kasus AIDS. Peningkatan tersebut menjadi sebuah indikator keberhasilan pemerintah dalam mengungkap kasus HIV dan AIDS yang tersebar di Provinsi Banten.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten M.Yanuar mengatakan, Banten adalah perlintasan berkembangnya HIV dan AIDS, “Yang terbesar itu adalah daerah-daerah yang mobile, yang mendekati perbatasan. Tangerang berbatasan dengan Jakarta. Di daerah itu mereka ada yang bergaya hidup tidak sehat. Di daerah perlintasan, seperti Cilegon juga tempat berekbangnya kasus ini,” ungkap Yanuar saat Malam Renungan AIDS Nusantara 2016 yang diselenggarakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Banten, Senin (30/5/16) pukul 21.30 WIB.
Maka dari itu, sebagai pemerintah berupaya menekan angak pertumbuhan HIV dan AIDS dengan melakukan program pengendalian HIV dan AIDS yang terintegrasi pada SKPD terkait, baik di tingkat Pemprov maupuan Pemkab/Pemkot di Banten.
Wanita, lanjut dia, risiko terkena HIV dan AIDS sangat tinggi. Wanita pada kasus HIV/AIDS ini selalu menjadi korban karena mereka tidak tahu dari awal, apakah pasangannya terkena HIV/AIDS atau tidak. Jika seorang wanita akan menikah maka harus dipastikan dulu, apakah ia akan menikah dengan orang yang sehat. Karena itu sebelum menikah maka diharuskan melakukan tes kesehatan.
Test yang akan dilakukan berupa test darah di rumah sakit dan di puskesmas, “Saat ini ada 5 unit rumah sakit dan 9 unit puskesmas yang siap layani pengecekan darah,” tambahnya. (Wirda)












