SERANG – Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang tahun 2015, sebanyak 56 anak terkena gizi buruk. Selain itu, 997 anak lainnya mengalami gizi kurang. Jumlah tersebut merupakan dua persen dari jumlah balita di Kota Serang. Demikian disampaikan Kepala Seksi Gizi Remaja dan Usia Lanjut pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Eka Agustina saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (13/9).
Dijelaskannya, persebaran anak terkena gizi buruk berada hampir di seluruh kecamatan di Kota Serang. Yakni, tiga orang di Kecamatan Taktakan, lima orang di Kecamatan Curug, sembilan orang di Kecamatan Cipocok, sepuluh di Kecamatan Walantaka, 13 di Kecamatan Kasemen, dan 16 orang di Kecamatan Serang.
Eka mengatakan, masalah gizi buruk tidak bisa diselesaikan oleh Dinkes sendiri. Butuh melibatkan lintas sektoral untuk mengentaskan gizi buruk secara bersamaan. “Begini, sebenarnya masalah gizi itu bukan hanya gizi buruk, tetapi di Kota Serang juga gizi kurangnya banyak. Gizi buruk itu penanganannya khusus. Ada penanganan yang spesifik dan yang sensitif yang melibatkan lintas sektoral,” ujar Eka.
Penanganan spesifik merupakan penanganan yang dilakukan oleh Dinkes. Eka menuturkan, anak-anak yang mengalami gizi kurang akan diberikan makanan tambahan selama tiga bulan dan akan terus dipantau. Selain itu, diberikan makanan tambahan untuk ibu hamil yang mengalami kurang energi kronis juga diberikan. “Itu agar kelak melahirkan bayi-bayi yang berat badannya normal atau cukup. Kita juga dirikan tahun ini 16 pos gizi yang tersebar di semua kecamatan. Penyuluhan juga sepertinya enggak kurang-kurang di setiap posyandu setiap bulannya.” terangnya
Eka menjelaskan, pendekatan sensitif merupakan penanganan yang melibatkan lintas sektoral. Masalah kemiskinan yang menjadi salah satu penyebab gizi buruk bukan lagi tugas Dinas Kesehatan. “Contohnya lagi, di wilayah Kasemen apakah sanitasinya sudah bagus? Nanti kalau sanitasinya tidak bagus, kewajibannya ada di DPU. Dia (DPU-red) berkewajiban untuk menyediakan sumber air minum yang bagus, sumber pembuangan air limbah yang bagus karena anak-anak balita itu rentan terhadap diare, dan ISPA. Jadi, anak tidak gampang sakit. Itu yang harus kita sampaikan ke teman-teman dinas yang lain bahwa di wilayah ini ada gizi buruk dan sama-sama untuk mengentaskannya,” urainya.
Eka juga menerangkan, gizi buruk dapat mengancam kualitas SDM Indonesia pada masa yang akan datang. Hal ini dikarekan anak-anak yang kekurangan gizi akan menyebabkan masalah pada tingkat kecerdasannya kelak. Kalau sudah di atas dua tahun, kita mungkin bisa perbaiki status gizinya. Tapi, kerusakan otaknya tidak bisa kita perbaiki,” terangnya.
Diketahui, masalah gizi buruk di Kota Serang menjadi sorotan lantaran saat Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerjanya ke Kota Serang pada Minggu (11/9). Tepatnya di Karangantu, Kecamatan Kasemen, Presiden memberikan bantuan tambahan makanan untuk para ibu hamil, balita, dan anak-anak. Bantuan itu diberikan tak lain agar mereka memiliki gizi baik dan terjauh dari gizi buruk. Saat itu Jokowi menekankan pentingnya perbaikan gizi bagi anak. Ia mengaku prihatin karena di Banten termasuk Kota Serang di dalamnya masih ada anak yang menderita gizi buruk. “Ini penting untuk masa depan anak Indonesia. Kita akan terus galakkan demi mengurangi penderita gizi buruk. Saat ini kita melihat Indonesia darurat gizi buruk. Jadi, sejak ibu hamil kita harus persiapkan gizi yang baik untuk kehairan anaknya kelak,” kata Presiden saat itu. (Haris/Radar Banten)











