CILEGON – Salah satu penyumbang terbesar penularan HIV adalah perilaku seks menyimpang, yakni laki-laki suka laki-laki (LSL). Namun keberadaan jaringan LSL, khusus di Kota Cilegon masih sulit terendus. Yang pasti angka keberadaan para LSl setiap tahunnya semakin bertambah.
“Saat ini jumlahnya (LSL) masih kisaran puluhan orang. Penderita penyakit seks menyimpang ini memang setiap tahunnya semakin bertambah. Namun kita belum ada data jelasnya berapa persen,” ujar Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kota Cilegon Retno Windarwati melalui telepon selular, Kamis (22/9).
Dijelaskan Retno, LSL bukan merupakan penyakit bawaan lahir dari seseorang. Faktor utamanya adalah dari pergaulan, saat seseorang menginjak usia dewasa. “Pencegahannya kita lakukan dengan menggelar pembinaan,” kata Retno.
Leo Haikal Dudung, penjangkau lapangan dari Yayasan Banten Muda Gemilang (BMG), mengungkapkan, komunitas LSL sangat tertutup dan enggan menonjolkan diri di masyarakat.
“Keberadaanya (LSL) sudah sangat mengkhawatirkan, apa lagi kebanyakan perilaku seks menyimpang rawan terserang IMS (infeksi menular seksual) dan HIV. Untuk memasuki komunitas mereka, kami selaku penjangkau lapangan agak kewalahan karena mereka terkesan tertutup dan sulit untuk ditembus,” ucapnya.
Leo mengungkapkan, saat ini saja jumlah LSL di Cilegon dikategorikan sudah banyak. Jumlah yang terjangkit HIV dari kalangan mereka dari tahun ketahun semakin meningkat. “Saya belum bisa memastikan berapa persen LSL tersebut terkena HIV, tapi yang pasti jumlah penderita HIV dari LSL meningkat,” tuturnya. (Riko)












