IMRON (40), nama samaran, menceritakan kisah memilukan yang dialami sepupunya, sebut saja Bahlul (38) asal Tangerang. Lantaran sudah tidak bisa lagi memberikan kepuasan kepada istrinya, sebut saja Minul (37) dalam hal batin, Bahlul pun merelakan sang istri bencengkerama dengan lelaki lain, bahkan sampai menikah lagi. Ow ow ow, kok bisa begitu, kenapa Om?
“Kejadiannya sudah lama sih. Sudah lima tahunan. Sepupu saya itu, sudah enggak bisa berdiri lagi pas sudah kecelakaan motor,” terangnya. Maksudnya, organ vital Bahlul sudah tidak berfungsi pascaperistiwa nahas yang dialaminya, yakni kecelakaan motor tunggal menabrak trotoar jalan.
Tak hanya itu, dari cara jalan Bahlul juga kini sudah tidak normal. Cara jalan Bahlul sudah agak jinjit sebelah sejak mengalami peristiwa nahas itu. Awalnya, usai mendapatkan perawatan dari rumah sakit, Bahlul tak mengetahui jika kejadian tersebut sampai memengaruhi organ vitalnya. Bahlul baru tersadar ketika mengajak istrinya berhubungan intim setelah ia merasa sudah pulih dari lukanya. Hasrat Bahlul saat itu masih terbilang besar dalam hal begituan.
“Bahlul baru sadar setelah beberapa menit kemudian bergumul di atas ranjang dengan Minul, organ vitalnya tak kunjung mekar,” ungkapnya.
Tentu, hal itu membuat Minul kecewa dan sempat marah kepada Bahlul. Kemudian Bahlul konsultasi ke Imron. Maklum, Imron dan Bahlul memang sudah dekat sejak mereka kecil.
“Jadi, waktu itu saya kasih masukan kalau dia seperti itu karena belum sembuh benar dari lukanya setelah tabrakan. Baru juga beberapa bulan,” terangnya.
Seolah tidak percaya dengan pernyataan Imron, Bahlul penasaran dan mencoba peruntungan yang kedua. Keesokan harinya, Bahlul kembali mengajak Minul beradegan panas babak baru. Teng. Namun, lagi-lagi hasrat Bahlul membuat libido Minul yang tadinya membubung tinggi mendadak turun sehingga berakhir dengan kekecewaan. Barang Bahlul benar-benar lemas tak bergerak. Wajar Minul pun tampak kecewa berat. Karena, Imron tahu betul jika keduanya termasuk hiper dalam urusan ranjang.
Dari cerita Bahlul, istrinya yang cukup lekat dengan agama, berubah menjadi over ketagihan berhubungan badan sejak menikah. “Kata Bahlul, sehari istrinya bisa minta tiga sampai lima kali,” ujarnya. Itu sih bukan hiper lagi, doyan. Makan saja tiga kali sehari.
Namun, Imron senang mendengar hal itu, menandakan jika Bahlul mampu memuaskan hasrat sang istri. Imron tahu persis akan sifat Bahlul yang buaya. Maka tak heran, Bahlul juga tidak bosan melayani istri yang sama hiper-nya.
Diceritakan Imron, Bahlul dan istrinya sudah pacaran sejak SMA. Tentu saja, pernikahan mereka didasari suka sama suka. Bahlul merupakan anak motor gede, sama dengan Imron ketika masih tinggal di Tangerang. Lantaran itu, Minul tertarik dengan Bahlul. Padahal, Minul juga tahu kalau Bahlul playboy.
“Malahan, Bahlul itu kalau lihat cewek bening saja, kayak kucing lihat ikan, main santap aja,” akunya.
Namun, sifat buaya Bahlul tak dihiraukan Minul yang sudah telanjur cinta. Maklum, pada era 90-an, siapa pun yang menjadi pacar anak motor pastilah ikut kebawa beken. Pikiran itu juga, yang mengantarkan Minul jatuh ke pelukan Bahlul.
Hubungan keduanya pun, bertahan hingga lima tahun lamanya. Keduanya pun memiliki pekerjaan cukup lumayan. Bahlul sukses sebagai wirausaha, begitu pula dengan Minul yang bagus dalam kariernya sebagai pegawai swasta. Namun, masing-masing dari mereka sempat selingkuhan dan sama-sama tahu. Ternyata, sebelumnya mereka sudah saling berkomitmen merasakan dulu sensasi pacaran dengan orang lain. Maksudnya biar tidak bosan. Untungnya, strategi pacaran itu, berjalan lancar sehingga keduanya sukses sampai berlanjut ke pelaminan.
“Saya juga sempat kaget, lihat Bahlul suka gonta-ganti pacar, Minul juga tahu tapi enggak marah. Ternyata, keduanya memang sudah komitmen,” terangnya. Astaga, komitmen kok gitu. Mau dong.
Tibalah mereka pada saat yang berbahagia. Keduanya melangsungkan pernikahan dengan meriah dan penuh kebahagiaan. Tentu, keduanya tidak sampai melewatkan malam pertama. Bahkan, keduanya sampai jarang berkomunikasi sejak menikah, baik dengan keluarga maupun tetangga. Karena, mereka banyak menghabiskan waktu mengurung dalam kamar.
Beruntung, mereka masih ingat mandi sama makan. Satu tahun kemudian, kehidupan rumah tangga mereka semakin sempurna tatkala dikaruniai anak laki-laki.
Dua tahun kemudian, kembali mereka dikaruniai anak. Kali ini perempuan, lengkap pokoknya. Namun, seiring waktu berjalan dimana mereka sedang menikmati masa-masa bahagia berumah tangga dengan dua anak mereka, tiba-tiba petaka itu pun tiba.
Bahlul mengalami kecelakaan tunggal sepulang kerja. Ia terjatuh dari motor gedenya setelah berusaha menghindari kendaraan yang menyalip di depannya. Bahlul yang terbiasa mengendarai motor dengan kencang, tidak bisa menahan laju kendaraannya sehingga motornya oleng dan terjungkal ke trotoar. Bahlul sempat pingsan dan baru tersadar setelah berada di rumah sakit.
“Lukanya hanya lecet-lecet saja. Tapi, ia merasakan pada tulang pahanya,” katanya.
Penderitaan Bahlul semakin lengkap, karena faktor kecelakaan itu ternyata telah merenggut keperkasaannya. Beberapa bulan, Minul masih tahan. Namun, lama-lama sikap Minul mulai berubah ketika menyadari jika Bahlul sudah tidak bisa melayaninya lagi. Sejak itu pula, sering terjadi pertengkaran di antara keduanya. Perdebatan itu tak lain gara-gara Minul jarang dibelai. Bahlul yang tak ingin ditinggalkan istri, merelakan Minul menjalani hubungan tak senonoh dengan lelaki lain demi kebahagiaan istrinya. Oh so sweet.
“Bahlul begitu, karena sudah curiga dengan gerak-gerik istri. Minul mulai jarang pulang, terus sering marah-marah tak keruan. Apalagi, Bahlul sekarang kan sudah jadi pengangguran sejak kecelakaan,” jelasnya. Kasihan Mas Bahlul.
Bahlul memang curiga kalau istrinya ada main di belakangnya. Namun, Bahlul tetap sabar dan sampai sekarang rumah tangganya tetap bertahan, meski Minul mulai berperilaku tak wajar. “Sebetulnya, saya kasihan dengan sepupu saya itu. Tapi, gimana lagi. Biologis Minul juga kan harus terpenuhi. Bahlul harus terima nasib,” tandasnya. Semoga diberikan kesabaran Mas Bahlul. Ya salam. (Nizar S/Radar Banten)









