SERANG – Meski program imunisasi measles-rubella (MR) diperpanjang, tetapi capaian target Provinsi Banten belum terpenuhi. Bahkan, Banten menjadi provinsi terjelek pencapain targetnya di Pulau Jawa.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) per 7 Oktober 2017, cakupan imunisasi di Provinsi Banten baru 3.065.741 anak atau 92,28 persen. Angka ini tidak menunjukkan jumlah signifikan dibandingkan dengan capaian terakhir pada September lalu yang sebesar 90,41 persen.
Bahkan dibandingkan dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat yang pada September sebelum masa perpanjangan waktu program belum memenuhi target, Banten sudah tertinggal jauh. Pencapaian di Jawa Barat menunjukkan jumlah signifikan, dan sudah memenuhi target menjadi 95 persen per 7 Oktober ini. Sementara, DKI Jakarta sudah tembus di angka 94,03 persen atau menyisakan target satu persen.
Kepala Perwakilan Unicef untuk Pulau Jawa Tb Arie Rukmantara mengatakan, polulasi di Banten cukup besar khususnya di wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Tangerang Selatan. “Kalau Kabupaten dan Kota Tangerang semangat, bisa dongkrak lebih besar,” katanya kepada Radar Banten, Minggu (8/10).
Child Survival and Development Spesialist Unicef dr Sugiarto menilai, belum tercapainya target di Banten karena wilayah yang sasarannya besar seperti Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Tangsel belum maksimal mencari anak-anak. Terbukti saat rapid convenience assessment (RCA) yang dilakukan oleh eksternal monitor ke kelurahan dan RW, masih ditemukan beberapa anak yang belum disuntik.
Pihaknya juga mendapat informasi dari pegiat MR, bahwa masih ada anak yang belum disuntik di wilayah-wilayah kumuh dan elite. Misalnya di Dadap, Kosambi, Teluknaga dan di Karawaci bagian belakang. “Kesulitan di perumahan atau kompleks elit adalah petugas kesehatan dari puskesmas tidak dizinkan masuk ke kompleks untuk membuka pelayanan posyandu. Kalaupun diizinkan, kebanyakan orangtua tidak mengizinkan anaknya untuk dibawa ke posyandu,” ujarnya.
Selain itu, masih ada sekolah-sekolah dengan jumlah anak muridnya belum diimunisasi sangat besar. Misalnya, di Al Azhar BSD yang ada 800 anak belum diimunisasi MR lantaran orangtuanya menolak. “Namun setelah disosialisasi ke orangtua dan pendekatan ulang ke sekolah Al-Azhar, di tanggal 11 ini akan dilakukan penyuntikan kembali di sekolah Al-Azhar tersebut,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Sigit Wardojo mengatakan, belum bisa menilai hasil MR hingga minggu depan. “Kalau belum cukup signifikan atau sudah signifikan untuk peningkatan perpanjangan ini, baru bisa kita ketahui minggu depan. Karena strategi yang kita jalankan minggu kemarin dan minggu depan sedang berjalan,” katanya.
Ia mengungkapkan, pada Jumat (29/9) lalu, pihaknya telah mendiskusikan dengan Pemkot Tangsel terkait mobilisasi sumber daya tenaga kesehatan untuk menyasar potensi anak yang bisa diiumunisasi. “Intinya mobilisasi sumber daya terutama tenaga kesehatan untuk fokus ke sasaran yang potensial di samping melaksanakan sweeping dari rumah ke rumah dan ini juga akan dilakukan oleh kabupaten kota yang lain di Banten ini meskipun sudah memenuhi target,” katanya.
Ditanya adakah langkah khusus untuk empat daerah di Banten yang belum memenuhi target, Sigit mengatakan, bersama Dinas Kesehatan kabupaten kota yang tidak memenuhi target melakukan kunjungan ke sekolah yang belum kooperatif. Kunjungan ke sekolah yang bersangkutan melibat Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Dihubungi terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Kesehatan Kota Tangsel Suhara Manulang mengatakan, sudah 90,2 persen anak usia 9 bulan sampai 15 tahun divaksin. Dari target yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan, masih kurang 4,8 persen.
Menurut Suhara, belum tercapainya target dikarenakan adanya kekhawatiran dari sebagian masyarakat tentang vaksin imunisasi MR. ”Alasannya banyak, yang seperti masalah halal atau tidak, kualitasnya baik atau tidak, semacam itu,” ujar Suhara.
Dia menambahkan, dengan waktu tersisa sampai 14 Oktober 2017 nanti, pihaknya akan terus dioptimalkan. Rencananya bersama seluruh petugas pelayanan kesehatan akan memberikan vaksi MR kepada 1.000 anak per hari sampai tenggat waktu yang diberikan habis.
Sementara Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany mendukung seluruh kinerja Dinkes dalam mencapai targetnya. Apalagi ini merupakan program Kementerian Kesehatan yang harus dilakukan oleh seluruh intansi pemda.
”Jadi kita harus mengerjakan sungguh-sungguh. Saya optimis dan percaya kepada Dinkes Tangsel. Apalagi menurut laporan, Dinkes sudah memetakan sekolah mana saja yang akan didatangi dalam perpanjangan waktu ini. Semoga tersosialisasi dengan baik,” pungkas Airin.
Sementara di Kota Tangerang, hingga 7 Oktober 2017, pencapaian imunisasi MR baru 90,25 persen. Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kota Tangerang Liza Puspadewi seolah meragukan data pencapaian imunisasi MR yang dirilis oleh Pusdatin Kemenkes. Dia juga menyoal adanya deviasi antara data Pusdatin Kemenkes dan Disdukcapil Kota Tangerang yang jumlahnya mencapai 35.000 jiwa. Karena sesuai data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Tangerang, pencapaiannya sudah mencapai 97,67 persen.
“Coba perhatikan data Dukcapil (Disdukcapil-red) dan data Pusdatin deviasi hampir 35.000. Sasaran Dukcapil adalah data yang terekam Pemda Kota Tangerang, nah sekarang pertanyaannya data Pusdatin?,” katanya kepada Radar Banten melalui via WhatsApp, Minggu (8/10).
Liza mengaku menanyakan deviasi data ke Kemenkes, namun kementerian yang dipimpin Nila Moeloek itu tetap berpegang dengan data Pusdatin. “Timbul pertanyaan baru, berarti data Dukcapil tidak valid kah. Capek deh,” kelakarnya.
“Itu yang harus ditanyakan ke provinsi atau pemerintah pusat, logikanya data Dukcapil adalah data dokumen kependudukan yang terekam. Kalaupun ada deviasi, mengacu pada standar deviasi tidak lebih dari 5 persen. Jadi harus dihitung kembali sasaran imunisasi MR Kota Tangerang,” sambung Liza.
Menurut Liza, pelaksanaan imunisasi MR tetap menggunakan data dari dua instansi tersebut, Pusdatin Kemenkes dan Disdukcapil Kota Tangerang. “Target sasaran pertama data Dukcapil karena jelas nama dan alamatnya. Kalau sudah terpenuhi, target kedua data Pusdatin untuk menyisir sasaran yang tertinggal atau ada sasaran dari luar wilayah yang ada di kota atau ada sasaran menetap di kota tapi belum terdata,” ungkapnya.
Pemerintah memperpanjang masa kampanye imunisasi MR pada balita dan anak-anak apabila target sasaran 95 persen tidak tercapai hingga akhir September 2017. Pemkot Tangerang termasuk salah satu pemerintah daerah yang diberikan perpanjangan masa kampanye hingga Oktober.
“Kami tetap berupaya untuk mengoptimalisasi sweeping (penjaringan-red) door to door, membuka imunisasi MR di 12 rumah sakit di Kota Tangerang, dan imunisasi MR di Bidan Praktek Swasta (sekarang Bidan Praktek Mandiri-red),” ujarnya.
Liza membantah lepas tangan terkait selisih data jumlah balita dan anak-anak yang akan diberikan imunisasi MR. “Kami kerjakan dengan dua acuan data tersebut. Siapa tahu, data yang dimiliki Disdukcapil salah, yang benar data dari pusat. Kita lihat nanti saja, mana yang cocok di akhir imunisasi per tanggal 15 oktober,” ucapnya.
Sementara Walikota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan, program imunisasi MR menjadi prioritas bagi jajaran Dinkes. “Sekaligus komitmen kami untuk mencapai target. Namun memang ada selisih jumlah anak yang diimunisasi dengan data Disdukcapil Kota Tangerang,” singkatnya. (RBG)







